the short story

Kulangkahkan kaki dengan berat di pesisir pantai Goa Lawah yang tenang itu. Sepi. Aku merasa memiliki pantai ini sendirian. Angin laut mengibar-ngibarkan gaun hijauku. Aku merasa mati, padahal aku hidup. Aku bisa berjalan, aku bisa menelan, aku bisa kesakitan. Tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak bisa lagi tersenyum. Rasanya seperti jadi model lukisan.

Tujuh tahun yang lalu aku berada ditempat ini. Tidak sendiri, tapi bersama Arya, Ida Bagus Aryana, pelukis itu.

“Ya, begitu dong, Sayang, relax. Ini bukan acara pembantaian. Kamu mau dilukis bagus, kan? Aku janji ini lukisan pasti jadi spektakuler.”

Aku ingin menggeleng-geleng dengan keras. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kata Arya, selama dilukis aku tidak boleh bicara supaya ekspresi ini tidak berubah. Jadi aku diam saja.

“Kamu seperti bidadari… Dewi dari khayangan mana sih ini??”

Hatiku tergerak. Aku ingin sekali mendekatinya. Mendekati kanvas besar itu, mendekati orang di belakangnya, menyentuh rambutnya.

Ia terus memandangiku dengan mata tajamnya. Mata pelukis.

“Kamu pernah lihat boneka Rusia? Kedipkan matamu kalau pernah.”

Aku mengedip. Aku memang pernah melihatnya.

“Nah, kamu persis seperti itu. Manis dan lucu. Kadang-kadang aku berpikir bahwa di dalam kamu ada kamu lagi. Di dalamnya ada kamu lagi dan begitu seterusnya sampai jumlahmu ada tujuh dan yang ke-tujuh pasti kecil dan lucu sekali. Bisa dimasukkan ke saku celana.”

Dia lalu tertawa lepas. Aku tidak bisa ikut tertawa.

Setengah jam berikutnya badanku mulai tak ada rasa. Yang ada hanya kekakuan. Kekakuan abadi. Arya masih terus melukis. Apa dia pernah memikirkan bahwa tulang-tulangku sudah retak di dalam sini?

Aku ingin berpikir tentang sesuatu. Memikirkan apa saja selain pandangan mata pelukis itu. Aku ingin memikirkan mama. Semoga ia tidak mencari-cariku di rumah. Dan abangku, Dewa, jangan sampai ia melihatku bersama Arya. Karena kalau itu terjadi, abangku itu pasti akan membunuhnya. Aku tidak pernah mengerti apa yang menyebabkan ia begitu membenci Arya. Sehingga kalau membicarakan tentangnya, mukanya memerah, dan tubuhnya gemetaran. Kurasa ia tidak akan mau mati dulu sebelum berhasil menyakiti musuh bebuyutannya itu.

Aku tahu masalah apa yang membuat abangku demikian. Tapi ?kan manusia tak luput dari kesalahan. Apalagi orang biasa seperti Arya. Pasti saat itu dia khilaf. Siapa yang tidak khilaf berdua-dua saja dengan gadis penari yang cantik dan genit. Gadis itu pasti menggodanya. Karena Arya aku yakin bukan jenis pengkhianat yang bisa menjadi pemakan teman. Dia tahu pasti Ratih itu kekasih abangku. Jadi mungkin Ratih yang memasukkan sesuatu ke dalam minumannya supaya dia tidak sadar. Atau entah cara apalagi yang bakal ditempuhnya buat merebut hati pujaanku ini. Satu hal sudah pasti. Ratih itu membenciku habis-habisan. Itulah sebabnya.

“Kamu pernah ke pantai Lovina?” suara itu membuyarkan lamunanku.

Aku memandangnya tanpa kedip.

“Belum pernah?” Dia menaikkan alisnya. Ya Tuhan, wajah itu. Selama ini wajah itu yang muncul di setiap mimpi-mimpiku. Aku menikmati kehadirannya di sana. Aku menikmati saat-saat ini sepenuhnya. Keseluruhanku disentuh oleh kuasnya.

“Kapan-kapan kita ke sana ya.”

Kapan? Setelah ini? Besok pagi? Minggu depan? Kapan?

“Di situ indah sekali. Seperti di sini juga. Di perjalanan bakal menyenangkan. Ada kebun-kebun anggur.”

Aku mengedip.

“Apa? Kamu akan suka ke sana?”

Aku mengedip. Dia tersenyum.

“Kapan-kapan kita ke sana ya.”

Huh! Kapan? Kenapa tidak sekarang?

Deburan ombak berpola dengan menakjubkan. Setiap sekian menit sekali seperti terdengar suara nyanyian yang sama. Nyanyian ombak.

“Okay, selesai sekarang.”

Aku menghela nafas lega. Tapi masih takut bergerak. Arya memandangi lukisannya lama-lama. Baru kemudian memandangiku. Juga lama. Bergantian ia memandangiku dan lukisan itu. Entah kenapa aku ingin merobek-robek kain kanvas sialan itu. Dia merebut Arya dariku.

Dia memberi isyarat agar aku mendekatinya. Maka kugerakkan badanku yang kaku. Jalanku jadi tidak seimbang. Ia menunjukkan hasil lukisannya begitu aku sampai. Aku bengong. Siapa itu? Kalau dia mau melukis gadis di lukisan itu, kenapa harus aku yang jadi modelnya?

“Cantik sekali, kan?”

Iya cantik.

“Seperti Dewi Shinta.”

Memang seperti itu. TAPI SIAPA DIA?

Kami berdua duduk di pasir pantai dan membiarkan diri kami basah oleh terpaan ombak . Kami berdua memandangi kotak besar berisi lukisan orang itu. Entah siapa.

Makin lama memandanginya aku makin muak. Terlebih lagi ketika kulihat pancaran mata Arya. Begitu berbinar-binar. Begitu dalam. Ia pasti jatuh cinta dengan gadis di lukisan itu. Hatiku tersayat-sayat.

“Kamu akan jadi seperti ini.”

Itu kalimat terakhir yang kudengar dari mulutnya. Karena setelah itu tak satupun dari kami yang berbicara lagi, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Nyanyian ombak itu masih sama. Setiap sekian menit sekali.

Kemarin sore aku melihat-lihat toko lukisan. Dan tak ada sebelumnya yang bisa membuatku langsung pucat pasi, gemetar , dan panas dingin demikian tiba-tiba, selain sebuah lukisan dengan pigura sederhana. Aku seperti bercermin dalam lukisan itu. Aku berkali-kali mengalihkan pandangan untuk kemudian melihatnya lagi supaya meyakinkan diriku bahwa aku tidak salah lihat. Itu memang aku.

Kutanyakan kepada si penjual siapa pemilik lukisan ini. Dan dia bilang orangnya sudah pergi keluar negeri bersama isterinya, seorang bule yang kaya raya. Lukisan ini dijual paling mahal di antara yang lain. Orang-orang biasanya tidak jadi beli karena harganya. Ngomong-ngomong, katanya, aku mirip sekali dengan lukisan itu. Aku cuma tersenyum dan cepat-cepat berlalu. Kalau aku punya uang, akan kubakar lukisan itu di depan matanya begitu aku membayarnya lunas. Tapi aku tidak punya uang. Jadi aku hanya punya rencana meninggalkan tempat itu secepatnya.

Deburan ombak itu begitu monoton. Tapi nyanyiannya tak pernah membosankan.

Hari ini aku genap berusia dua puluh tahun. Abangku dan Ratih telah menimang bayi mereka yang kedua. Dan aku kini terperangkap di antara para kekasih dengan profesi rata-rata pelukis. Tapi tidak ada yang seperti Arya. Ia telah melukis boneka ke-tujuh ini bahkan sebelum bayangannya ada di cermin.

One thought on “the short story

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s