Membahas Persepolis

Yeah. Novel grafis ini terbit pertama kali sekitar lima belas tahun yang lalu, tapi sepertinya masih oke ya dibahas sekarang.🙂

Selain bahwa dari karya Marjane Satrapi ini kita bisa mengetahui sejarah negeri Iran dan sekitarnya, ada beberapa hal yang menarik yang membuka pikiran dari buku ini.

(SPOILER ALERT!)

1. Membaca Buku untuk Survive

persepolis-enlighten-by-books

Setiap kali menghadapi masalah dalam hidupnya, Marji akan kembali ke buku.
Itu karena sejak kecil, orang tuanya sudah memanjakannya dengan buku. Ia boleh minta sebanyak-banyaknya buku yang diinginkan. Walhasil, Marji kecil membaca semuanya tanpa disensor. Ia membaca tentang anak-anak di Palestina, tentang Fidel Castro, tentang pembantaian anak muda Vietnam oleh tentara Amerika, tentang revolusi di negerinya sendiri, dan bahkan buku favoritnya adalah komik berjudul Dialectic Materialism.

Ketika ia remaja, dan harus hidup jauh di negeri orang terpisah dari orang tuanya dan tak punya teman yang layak, ia pun kembali ke buku.

persepolis-educate-oneself
Buku favorit Ibunya adalah buku dari Simone de Beauvoir. The Second Sex kemudian mengubah beberapa pandangannya tentang hakikat ‘perempuan’.

Saat menjalani kehidupan pernikahan yang tidak sesuai harapan dan ia frustrasi dan depresi, ia pun memulai kembali hidupnya dengan membaca. Marjane sepertinya percaya bahwa pendidikan, melalui buku, adalah salah satu jalan keluar dalam masalah hidup.

“Once again, I arrived at my usual conclusion: one must educate oneself.”

2. Definisi Orang yang Relijius Sejati

Rezim diktator yang berkuasa di Iran yang menjadi latar cerita ini menerapkan ajaran Islam yang kaku dan tak kenal toleransi. Semua perempuan harus memakai jilbab, sementara laki-laki bebas memakai apa saja. Fashion, musik dan film disensor dengan ketat. Dan begitu banyak hal yang dianggap ‘terlalu modern’ dilarang.

Sewaktu menghadapi ujian nasional masuk universitas, Marji harus melewati ujian terakhir yaitu tes lisan tentang ideologi. Di situ ia harus menghafal doa dalam bahasa Arab, menghafal nama-nama Imam, sejarah dan filosofi Syiah dan lain-lain yang sama sekali tidak dikuasainya.

Maka pada saat ditanya oleh sang Mullah (pemuka agama di Iran), Marji memilih jawaban jujur. Ini kira-kira percakapannya.

Mullah: “Nona Satrapi, berdasarkan data kami, Anda pernah tinggal di Austria. Apakah Anda memakai jilbab selama di sana?”

Marji: ” Tidak. Saya berpendapat bahwa kalau memang rambut perempuan itu dapat mengakibatkan banyak masalah, maka Tuhan pastilah akan membuat kami semua botak.”

Mullah: “Apa Anda tahu bagaimana caranya berdoa/sembahyang?”

Marji: “Tidak.”

Mullah: “Boleh saya tahu mengapa?”

Marji: “Seperti orang-orang Iran lainnya, saya tidak bisa berbahasa Arab. Kalau berdoa itu artinya berbicara dengan Tuhan, saya lebih suka berbicara dalam bahasa yang saya mengerti. Saya percaya akan Tuhan, tapi saya akan bicara dengannya dalam bahasa Persia saja. Nabi Muhammad bersabda: ‘Tuhan itu lebih dekat kepada kita daripada urat nadi kita sendiri’. Jadi Tuhan itu selalu bersama kita. Ia ada dalam diri kita. Begitu bukan?”

Mullah: ” Terima kasih, Nona Satrapi. Anda dapat pergi sekarang.”

Dan ternyata, dengan jawaban ‘kurang ajar’ seperti itu, Marji berhasil lulus ujian. Kepala Departemen Seni di universitas itu kemudian menjelaskan padanya bahwa Mullah yang menguji itu sangat menghargai kejujurannya. Bahkan menurutnya, Marji adalah satu-satunya peserta yang tidak berbohong saat menjawab.

“I was lucky. I had stumbled on a true religious man,” ujar Marji.

3. Tentang Diskriminasi Perempuan

persepolis-dont-look-at-my-ass

Saya jadi ingat peristiwa yang mirip yang terjadi pada teman saya dulu waktu kuliah, Kayumanis, si gadis berjilbab. Pada suatu saat ketika angin agak kencang kain jilbabnya itu tertiup sehingga lehernya jadi sedikit kelihatan. Salah seorang teman kami, anak laki-laki yang alim, menegurnya supaya memperbaiki jilbabnya itu dan menasehatinya supaya memakai jilbab yang lebih panjang. Kayumanis pun menjawab anak laki-laki itu dengan judes, “Elo dong yang jaga pandangan!!”

Memang sampai sekarang diskriminasi kaum perempuan masih terjadi di berbagai belahan dunia, terutama di Timur Tengah. Di Iran, menurut latar cerita ini, perempuan wajib berjilbab dan mengenakan baju yang longgar. Sementara di Afghanistan, perempuan diwajibkan memakai burka (jubah kain tebal berwarna hitam yang menjuntai sampai kaki) dan cadar. Tak peduli seberapa panas cuaca di sana. Di Arab Saudi juga kurang lebih sama seperti Afghanistan dan mungkin juga Kuwait. Perempuan juga dilarang memakai make up, dilarang menyanyi apalagi joged-joged.

Tentang hal ini, Marji sempat dengan gagah berani berdiri di depan forum dan membahasnya.

Saat itu salah seorang pengajar memberi kuliah umum dan isinya adalah melarang para mahasiswi untuk memakai jilbab yang pendek, dan melarang memakai celana panjang yang lebar (yang sedang tren pada saat itu) dan memakai make-up.

Pada sesi tanya jawab, Marji pun mengacungkan tangan dan menyampaikan bahwa sebagai mahasiswa jurusan seni yang menghabiskan banyak waktu melukis di studio, ia perlu memakai jilbab pendek agar lebih bebas bergerak. Jilbab yang panjang akan membatasi geraknya.

Sedang mengenai larangan memakai celana panjang yang longgar, menurutnya itu justru menutupi lekuk-lekuk tubuh. Maka ia mempertanyakan apakah agama membela kehormatan tubuh perempuan atau sebenarnya cuma menentang fashion?

Dan ia mempertanyakan juga bahwa mengapa kaum laki-laki bebas menampilkan gaya rambut dan gaya pakaian yang kadang-kadang sangat ketat sehingga kelihatan jelas bentuk tubuhnya. Mengapa kami para perempuan tidak boleh merasa apapun melihat bentuk tubuh laki-laki, sementara para lelaki dianggap wajar kalau merasa tertarik melihat kami yang jilbabnya kurang panjang dua inchi saja?!

Walhasil setelah itu Marji dipanggil untuk menghadap Islamic Commission di kampusnya, mungkin semacam guru Bimbingan Konseling gitu ya. Tapi beruntungnya, itu adalah Mullah yang mengujinya waktu ujian masuk dulu. Mullah tersebut sekali lagi menghargai kejujurannya, tapi mengingatkannya bahwa berjilbab itu dalam kitab suci bersinonim dengan emansipasi.

Saya kurang ngerti juga maksudnya. Tapi yang pasti kemudian Marji bukannya dihukum, tapi malah diminta mengusulkan rancangan busana yang pas untuk mahasiswi di kampusnya.

Yah, sekian dululah tentang Persepolis. Kesimpulannya Marjane Satrapi memang top markotop dan sip markisip, mengutip reviewnya Mbak Endah Sulwesi.

persepolis-marjane-satrapi-quotes

2 thoughts on “Membahas Persepolis

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s