membaca tekun dan senang: To Kill a Mockingbird

Sudah lama saya nggak menemukan hal penting buat ditulis di blog ini. Dan sekarang pun yang mau saya tulis ini gak penting. Tapi kayaknya, sebenarnya gak penting ya apa yang mau ditulis. Yang penting adalah menulisnya aja. *iya gak siih*

Yah, yang jelas, To Kill a Mockingbird karya Harper Lee adalah buku yang penting. Saya agak menyesal karena baru baca sekarang, 52 tahun setelah buku ini terbit. Tapi memang mungkin kalo saya bacanya waktu SMP, misalnya, pemahaman saya tentang pelajaran moral di buku ini –yang mana sangat padat sekali– tak akan sedalam sekarang.

Seperti kata Pak Putu Pendit di Mengapa Membaca Itu Baik -bagian 1,

“Setelah mampu ‘melihat teks secara sistematis,’ otak kita perlu kemampuan mengenali teks itu sebagai bagian dari makna linguistiknya. Setelah mampu memahami maknanya, otak kita juga perlu melakukan pengaitan atau hubungan (asosiasi) antara satu teks dengan teks yang lainnya, dan antara teks dengan berbagai hal lainnya.”

Kalau saya baca To Kill a Mockingbird waktu SMP, saya mungkin akan senang bacanya dan menganggap ini buku cerita tentang anak-anak yang mengalami sedikit petualangan dan keadaan luar biasa di desanya dengan orang-orang yang aneh-aneh, lucu-lucu, dan ada juga yang jahat-jahat.

Tapi saya mungkin nggak ngerti bahwa buku ini bicara tentang nilai-nilai dan persoalan manusia yang masih sangat relevan setelah berpuluh tahun sampai sekarang, seperti diskriminasi, perjuangan persamaan hak, ketidakadilan hukum, karma untuk kejahatan, keberanian berpihak pada yang benar, tetap berjuang walaupun akan kalah, prasangka itu tidak mendekati kebenaran, dsb dst dll.

Saya menitikkan air mata waktu Atticus, ayah Scout, tokoh sentral di buku ini, berjalan keluar ruangan pengadilan dan semua orang kulit hitam di ruangan itu berdiri untuk menghormatinya. Waktu SMP, saya mungkin gak akan memahami kalimat terakhir di Bab 21 ini,

“Miss Jean Louise, berdirilah. Ayahmu sedang lewat.”

blog.indigo.ca

Atticus berjalan keluar dari pengadilan setelah membela seorang kulit hitam dengan tuduhan pemerkosaan terhadap gadis kulit putih. Pria negro ini sudah ‘divonis mati’ oleh sistem sosial di desa itu bahkan sebelum dia diadili, dan meski dia (sebagai manusia) terbukti tidak bersalah. Tapi saat itu dia tetap saja ‘bersalah’ karena dia berkulit hitam.

Tentang proses membaca buku ini, masih menurut Pak Putu, ada tiga jenis kegiatan membaca, yaitu:

  • membaca-tekun
  • membaca-berjarak
  • membaca-senang

Nah, buku ini membuat saya ‘membaca-tekun’ dan ‘membaca-senang’ sekaligus. Sangat menikmati baca setiap lembarnya. Ini jenis buku yang gak akan bosan dibaca berulang-ulang.

Tadinya saya mau menulis review-nya di sini, tapi sudah ada banyak review yang keren dan mengena, seperti review-nya Mbak Endah Sulwesi, as always.

Tadinya juga, saya mau mengutip banyak kalimat dari buku ini yang mengesankan atau bermakna mendalam, tapi rupanya terlalu banyak sehingga saya menyarankan Anda baca saja sendiri semua kalimatnya dari awal sampai akhir. Atau boleh juga mengintip quotes pilihan Goodreads ini.

Yang jelas, ketika masyarakat yang digambarkan dalam buku ini lazim membeda-bedakan manusia dari latar belakangnya; keturunan mana, warna kulit, seberapa lama sebuah keluarga tinggal di suatu tempat, seberapa kaya, seberapa pintar mereka membaca dan menulis, dan sebagainya, maka menurut buku ini –dan mungkin itu sebabnya pengarangnya merasa perlu bercerita dari sudut pandang anak-anak–, hanya anak berumur 8 tahun ke bawah-lah yang bisa bilang,

“… kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”

fanpop.com

~ o 0 o ~

See the book review on Amazon:

To Kill a Mockingbird: 50th Anniversary Edition

Read also:

Hitam Putih Jazz dan Islam

6 thoughts on “membaca tekun dan senang: To Kill a Mockingbird

  1. Baru blogwalking lagi nih setelah sekian lama ga mampir.. Huaa jadi penasaran sama buku ini, suka miris sama yang rasis-rasis gitu..😦 thanks for share😀

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s