Nawal, Menulis dengan Keras Kepala

Membaca buku Catatan dari Penjara Perempuan (1984), memoar dari Nawal El Saadawi ini, saya jadi teringat salah satu sesi kuliah filsafat dengan Pak Rocky Gerung –kami memanggilnya Roger :)– tentang feminisme. Beliau bilang begini, “Bagi kalian yang perempuan di sini, saya sarankan, kalau nanti ketemu pacar atau calon suami, tanyalah pada mereka, ‘Do you speak feminism?’ sebelum kalian ke jenjang yang lebih lanjut.”

Yah, kita hidup di jaman yang masih menggolongkan Tuhan ke salah satu gender (menggunakan kata ganti ‘He’ untuk Tuhan dalam bahasa Inggris). Jadi memang tidak mengherankan kalau hak-hak kaum perempuan –yang disebut the second sex oleh Simone De Beauvoir ini– masih harus diperjuangkan. Dengan keras.

Dalam buku yang menceritakan pengalamannya selama tiga bulan di penjara, Nawal menulis begini:

Di belakang setiap perempuan terdapat seorang laki-laki: mungkin seorang ayah yang memberi cap maling seumur hidup kepada anaknya, seorang suami yang memukul istrinya agar mau menjadi pelacur, seorang kakak lelaki yang mengancam adiknya sehingga bersedia menyelundupkan ganja dan obat bius baginya, kepala gerombolan penjahat yang menculik perempuan kecil dan melatihnya untuk menjadi pengemis di jalan… lapisan masyarakat paling bawah dari lapisan bawah. Orang-orang yang tersiksa di dunia.

Mengagumkan memang Ibu Nawal ini. Ditangkap dan dipenjarakan karena menulis, tidak pernah membuat dia berhenti menulis.

Saat ada seorang tapol meminta pena dan kertas agar bisa menulis surat untuk keluarganya, pejabat pemerintah Mesir bilang begini,

Pena dan kertas terlarang. … Itu sangat terlarang. Apa saja yang lain, selain pena dan kertas. Lebih mudah memberi Anda sebuah pistol dari pada pena dan kertas.

Yah, itu tentu adalah bentuk ‘penghargaan’ pemerintah terhadap subversive values in writings🙂

schaefermillennium3.blogspot.com

Maka, Nawal pun mulai menulis dalam pikirannya. Ia menyusun kalimat-kalimat dan menuliskannya secara imajiner di dinding selnya. Pada malam hari, ia ‘membaca ulang’ tulisannya tersebut, menambahkan atau menghapusnya di beberapa bagian, hanya dalam pikirannya.

Pada akhirnya, ia pun berhasil menyelundupkan sebuah pinsil alis yang dapat dipergunakannya untuk menulis di gulungan kertas tissue toilet, yang kalau terlalu ditekan pinsilnya, maka tissue itu akan robek, dan kalau tidak ditekan, maka tulisannya tidak terbaca. Dengan peralatan yang menyebalkan seperti itu pun, Nawal masih tetap menulis.

Bahkan dalam kondisi ruang tahanan yang tidak layak; makanan berupa roti penuh ulat, toilet kotor penuh serangga dan kecoa, tempat tidur keras dari papan, dan ruangan bau busuk karena pojokan penuh sampah, Nawal, dengan keras kepala, masih terus saja menulis.

Ditambah lagi dengan berisiknya tiga belas perempuan yang satu sel berhimpit-himpitan dengannya. Tiga belas orang dengan latar belakang pandangan politik dan ideologi berbeda, yang lebih sering bertengkar hebat daripada akur. Mereka senantiasa berdebat, berujung dengan saling meneriaki, saling memaki, bahkan pernah saling menjambak dengan hebohnya. Dan Nawal ada di tengah-tengah semua itu.

thepaltrysapien.com

Aku tak mungkin menutup pintu antara diriku dengan orang-orang lain, bahkan waktu ke kamar kecil sekalipun.

Kemampuan untuk menulis bagiku senantiasa berkaitan dengan kesempatan untuk memisahkan diri sama sekali, hanya bertemankan diri sendiri, karena aku tak mampu menulis kalau tak dapat berserah diri kepada keheningan.
Setelah tengah malam, kalau suasana tenang dan aku hanya mendengar pernafasan teratur dari orang yang tidur, aku bangun dari tempat tidur dan berjingkat-jingkat menuju ke pojok kamar kecil, membalikkan jerigen kosong, lalu aku duduk di atasnya. Kutaruh piring aluminium pada lututku, di tasnya kutaruh kertas gulungan (toilet) panjang, lalu mulai menulis.

Mengenai apa tujuannya menulis, Nawal menyamakannya dengan kegemarannya menanam tanaman. Ia bekerja keras di halaman penjara mencangkul dan menanam buah jeruk dan anggur. Temannya satu sel mencela kegiatannya itu dengan mengatakan bahwa toh ia tak akan bisa memetik hasil dari tanamannya itu. Masih lama sekali sebelum akan panen.

Tapi Nawal mengatakan bahwa ia tidak terpikir akan hasil tanaman tersebut. Bahwa seringkali ia menulis tanpa memikirkan segi publikasi. Menulis itu sendiri sangat menyenangkan, demikian juga menanam tanaman. Kalau ia tetap di penjara itu saat panen, ia akan memakannya, dan kalau tidak, maka orang lainlah yang mendapat manfaatnya. Tak ada yang sia-sia dalam melakukan hal baik.

quizzicaleyebrow.wordpress.com

Saat ini, Nawal masih terus menulis, bersuara dan berdemo untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan hak asasi manusia pada umumnya. Ia kini telah berumur 80 tahun. Namun kekuatan suaranya masih seperti suara pemudi usia 20-an saat mengatakan,

I’m fighting against the patriarchal, military, capitalist, racist post-modern slave system. I am going to fight for this for ever.

Independent.co.uk, 16 Oktober 2011

Egyptian feminist Nawal El Saadawi embraces the next generation (http://blog.globalsister.org/?p=2465)

~ o 0 o ~

Sumber:

Nawal El Saadawi. Catatan dari Penjara Perempuan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.


Memoirs from the Women’s Prison (Literature of the Middle East)

~ o 0 o ~

Baca juga:

Tempointeraktif.com – Nawal el-Saadawi: Saya Tak Takut kepada Al-Ikhwan

5 thoughts on “Nawal, Menulis dengan Keras Kepala

  1. ethic of care mungkin hanya ada dalam tradisi matriarkal, dan terus menulis menjadi cara Nawal untuk tetap peduli pada sesama.

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s