Gelandangan dan Pengemis, antara London, Jakarta, dan Denpasar

Sulit menemukan buku semacam ini.

Saya sulit mau membandingkan buku ini dengan yang lain karena ia tidak masuk genre mana-mana. Kalau dibilang otobiografi, tapi dia lebih banyak cerita tentang orang lain daripada dirinya sendiri. Kalau dibilang fiksi, ini kisah nyata. Kalau dibilang memoar, kisahnya absurd, seolah keluar dari imajinasi.

Karena saking dalamnya George Orwell (1903-1950) mendeskripsikan bagaimana kehidupan gelandangan, sehingga kita seperti mendapatkan karakter-karakter baru yang muncul di novel yang imajinatif.

Mungkin seperti Harry Potter. Sebelum ada tokoh ini, kita punya gambaran umum –dari orang luar– tentang karakter penyihir; jahat, pakai tongkat, merapal mantra, dsb. Tapi ketika muncul buku Harry Potter, kita jadi memasuki lebih dalam kehidupan penyihir. Ternyata ada sekolahnya, ada hukum-hukum yang berlaku di antara mereka, ada pintu kereta 9 3/4, ada kelucuan-kelucuan, dsb.

Begitu pula buku ini. Penuh sudut pandang baru dan filosofi mendalam tentang keberadaan orang miskin, khususnya gelandangan dan pengemis (gepeng).

Meski ceritanya berlatar kota Paris dan London tahun 1920-an, tapi rasanya kemiskinan itu universal. Kalau menyangkut kehidupan para gepeng, maka tak akan banyak bedanya antara di negara maju atau berkembang. Semuanya kelaparan. Dari dulu sampai sekarang.

Down and Out in Paris and London (1933) ini diterbitkan saat George Orwell yang bernama asli Eric Arthur Blair ini berumur 30 tahun, setelah dia mengundurkan diri dari Kepolisian Imperial India pada 1927 untuk menjadi penulis.

Saya merasa dekat dengan buku ini karena saya ingat pernah mengalami persis seperti yang tokoh-tokoh di buku ini alami.

Ada tahun-tahun yang saya hidup hanya dengan uang Rp 1000 – 2000 sehari, atau 10 ribu untuk tiga hari. Kurang lebihlah. Itu artinya: 2 gelas air + 1 bungkus roti sehari. Atau 1 gelas air + 1 mie instan. Atau 1 gelas air + ongkos satu kali naik angkot + nasi dan ayam goreng (ditraktir teman). Dan variasi-variasi dari itu.

Itu juga artinya jalan kaki kemana-mana. Saya beberapa kali jalan kaki dari lapangan udara Cireunde ke Pasar Jum’at. Pernah juga dari Jl. Antasari ke Jl. Cilandak KKO. Dan sering juga jalan kaki dari Jl. Cilandak KKO ke Jl. Jagakarsa (kelurahan Ciganjur). Itu cukup jauh, cukup jauh untuk membuat orang hampir pingsan, terutama kalau dia juga sedang haus dan lapar.

Dari pengalaman itu, saya mendapat temuan bahwa dengan kondisi Jakarta yang macet, maka waktu yang ditempuh dengan berjalan kaki itu tidak jauh beda dengan kalau naik angkot. Dan bahwa berjalan kaki itu menghilangkan sebagian stress. Yep.

Orwell menuliskan dengan tepat apa yang terjadi pada saya juga, saat mengalami kondisi miskin itu.

… Saat kamu mendekati cara hidup miskin, kamu akan tahu hal-hal yang lebih penting ketimbang yang lain. Kamu merasakan kekhawatiran, kerumitan, dan mulai merasakan kelaparan, tapi sekaligus juga menemukan berkah kemiskinan: yakni bahwa kemiskinan menghilangkan pikiran tentang masa depan.

Dalam batas tertentu, benar bahwa semakin sedikit uang yang kamu punya, semakin sedikit kekhawatiran yang kamu rasakan.

Kalau kamu punya seratus franc, kamu akan mengalami kepanikan luar biasa. Kalau kamu hanya punya tiga franc, kamu akan bertingkah sangat tenang; dengan tiga franc kamu bisa membeli makanan sampai besok, dan kamu tidak bisa berpikir lebih jauh dari itu.

Dan ada sebuah perasaan lega, hampir mendekati rasa senang, begitu mengetahui dirimu pada akhirnya jatuh miskin. Kamu sudah seringkali berbicara tentang jatuh miskin –dan inilah, inilah kehidupan orang miskin, kamu sudah mengalaminya, dan kamu mampu mengatasinya. Maka lenyaplah berbagai kecemasan.

Persis seperti itu. Ketika uang saya tinggal 100 ribu rupiah di dompet, saya panik dan sedih luar biasa. Meratapi hal-hal yang tidak bisa saya beli dengan uang segitu. Merasa miskin.
Tapi saat saya hanya punya 5 ribu rupiah, saya merasa lega karena masih bisa beli roti seribuan dan mie instan untuk 2 hari. Merasa cukup kaya.

Mengenai para gelandangan dan pengemis, Orwell menggambarkan sebagai berikut:

Pengemis itu bermacam-macam, dan ada garis sosial yang tegas di antara mereka yang hanya meminta uang dan mereka yang mencoba memberikan suatu nilai atas uang.

dinsos.jakarta.go.id

Orwell menggolongkan ‘pengamen asal-asalan’ sebagai pengemis. Alasannya,

Karena hukum menyatakan, kalau kamu mendekati orang asing dan meminta yang dua penny darinya, maka orang asing itu bisa melaporkanmu ke polisi dan kamu bisa dihukum tujuh hari di penjara. Tapi kalau kamu menciptakan kebisingan yang menyebalkan dengan bernyanyi, ‘semakin dekat, oh, Tuhan, kepadaMu’, atau berdiri dengan sekotak korek api … kamu dianggap melakukan bisnis yang sah dan bukan mengemis.

forum.vibizportal.com

Buanyaaak sekali jenis yang seperti ini di Jakarta. (Dan pada beberapa kesempatan, saya mendapati diri saya menatap iri pada kantong-kantong mereka karena uangnya lebih banyak dari yang ada di kantong saya.)

Sedang di Denpasar, menarik juga sikap Pemkot yang dinyatakan dalam baliho besar di jalan-jalan. Suatu tindakan pencegahan yang baik sekali untuk pariwisata Bali.

http://koranbalitribune.com/2012/04/30/gepeng-jangan-diberi-sedekah/

Kata Orwell lagi,

Kalau diperhatikan dengan seksama tidak ada perbedaan mendasar antara kehidupan seorang pengemis dengan orang-orang terhormat. Para pengemis dikatakan tidak bekerja; tapi apakah pekerjaan itu?

Dalam prakteknya, orang tidak peduli apakah suatu pekerjaan itu berguna atau tidak, produktif atau bersifat parasit; satu-satunya hal yang penting adalah bahwa pekerjaan itu harus menguntungkan.

Uang sudah menjadi alat ukur utama moralitas. Dengan ukuran ini pengemis gagal, dan karenanya mereka direndahkan. Kalau orang bisa berpendapatan sepuluh pound seminggu sebagai pengemis, profesi ini akan segera menduduki posisi terhormat. Seorang pengemis, dilihat secara realistis, adalah sekadar seorang pengusaha yang mencoba bertahan hidup, seperti halnya pengusaha lain, dengan cara menggunakan tangannya. Dia tidak pernah menjual kehormatannya, lebih dari kebanyakan orang modern; dia hanya berbuat kesalahan dengan memilih usaha yang tidak memberinya kemungkinan untuk jadi kaya.

~ o 0 o ~

Sumber bacaan: George Orwell. Melarat (diterjemahkan dari Down and Out in Paris and London). Yogyakarta: Lafadl Pustaka, 2006.

See the book review at Amazon:


George Orwell: Down and Out in Paris and London (1933)

Baca juga:

George Orwell: Mengapa Saya Menulis

Kompas – Gelandangan, Sisi Lain Kota London

Kiat Denpasar Perangi Gepeng: Pasang Baliho, Kampanyekan Jangan Beri Sesuatu

3 thoughts on “Gelandangan dan Pengemis, antara London, Jakarta, dan Denpasar

  1. Pingback: waktunya berterimakasih | Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s