Entrepreneur Sosial India

Balram menyebut dirinya begitu.
Dia ini tokoh utama di novel White Tiger, karangan Aravind Adiga, pemenang Man Booker Prize 2008.

Begini katanya saat ‘bercerita’ pada Perdana Menteri China,

“… Kisah tentang bagaimana saya dibesarkan menunjukkan bagaimana seseorang yang setengah matang terbentuk.
Tapi, perhatikan baik-baik Pak Perdana Menteri! Orang-orang yang terbentuk sempurna, setelah menghabiskan dua belas tahun di bangku sekolah dan tiga tahun di bangku kuliah, semuanya berjas, bekerja kantoran, menghabiskan seumur hidupnya diperintah orang lain.

Para entrepreneur dicetak dari tanah liat setengah matang.”

Maka itulah yang diceritakannya dalam buku ini. Bagaimana Balram yang berasal dari kalangan lapisan terbawah India, putus sekolah, tinggal di pemukiman kumuh, dan hidup begitu melarat dengan bekerja menjadi pelayan orang kaya. Diperlakukan semena-mena, dijadikan tumbal, budak, sampai akhirnya dia mampu memberontak dan berhasil ‘bebas’.

Cerita semacam ini tak asing lagi bagi saya. Cerita tentang kemiskinan yang tidak manusiawi sama sekali ini. Yang membuat orang rasanya wajar membunuh orang lain.

“… Benar, ada kasus pembunuhan –dan itu memang perbuatan yang salah. Perbuatan itu membuat jiwa saya gelap. Semua krim pemutih kulit di pasar India takkan bisa membersihkan tangan saya lagi.

Tapi, bukankah wajar jika semua orang penting di dunia ini, termasuk perdana menteri kami… sempat membunuh satu-dua orang dalam perjalanan menuju puncak? Jika kau membunuh cukup banyak orang, mereka akan menaruh patung perunggu dirimu dekat Kantor Parlemen di Delhi– tapi itu kejayaan, dan bukan itu yang saya kejar. Saya hanya menginginkan kesempatan untuk menjadi pria sejati –dan untuk itu, satu pembunuhan sudah cukup.”

Hmm… anyway, novel ini mengingatkan saya ke beberapa hal sekaligus.

    • Cerita kakak saya tentang India, waktu tahun 1995 dia kesana. Komentarnya adalah, “Miskin! Di mana-mana orang minta-minta. Daerahnya kumuh. Yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng itu cuman pemain filmnya aja.”

  • City of Joy, buku yang ditulis Dominique Lappierre, yang kemudian difilmkan dengan bintang utama Richard Gere. Orang nggak mungkin nggak nangis baca buku ini, atau nonton filmnya.

Cerita tentang Stephan Kovalski, orang Polandia yang tinggal di India, berbaur dengan rakyat jelata dan mengalami sendiri penderitaan mereka dalam kemiskinan yang parah. Mengisahkan tentang kehidupan seorang penarik rickshaw, tau kan?! becak versi India, cuman nggak pake sepeda, tapi pake kaki. Jadi orangnya menarik gerobak kereta berisi penumpang dengan tangan, sambil berlari. Seperti kuda. Setiap hari selalu ada penarik rickshaw yang mati di India, karena banyak penyakit yang bisa timbul akibat pekerjaan itu.

Waktu tahun 1990-an ada lagu yang populer yang judulnya Calcutta. Di video clipnya, si penyanyi –yang adalah supir taksi di Calcutta– tampak gembira sekali menjalani profesinya sebagai supir taksi. Begini lirik lagunya:

“Caalcuutaa… I am a taxi driver in
Caalcuutaa… I drive my little taxi in
Caalcuutaa… taxi taxi taxi in
Caalcuutaa… I am a taxi driver maaan!”

Dia menyanyi sambil menari dengan wajah sangat senang.

Setelah tau tentang profesi penarik rickshaw di Calcutta yang jauh lebih banyak dari profesi supir taksi, saya jadi mengerti kenapa penyanyi itu merasa perlu melonjak-lonjak kegirangan begitu.

Orang-orang miskin di Calcutta juga punya cara lain mencari uang, yaitu dengan menjual darah. Kalau memungkinkan, juga ginjal. Penghasilan mereka dari situ sebenarnya tidak seberapa, karena setelah darah mereka disedot, dan mereka pingsan, para perawat dan dokter akan mendapat 30% uang mereka, calo mendapat 40%, dan si pendonor sendiri mendapat 30% sisanya. Uangnya itu cuma cukup untuk makan sekeluarga sehari.

Itu yang paling saya ingat dari City of Joy. Stephan Kovalski dan Mother Theresa menjadi tokoh-tokoh entrepreneur sosial di India dalam buku ini.

  • Jakarta. Kalau melihat kondisi Calcutta, kota penuh orang minta-minta, gelandangan yang tidur di pinggir jalan, pengendara mobil yang seenaknya di jalan, orang-orang mencari makan sampai bunuh-bunuhan, mau tak mau saya langsung ingat Jakarta. Mirip sekali.Setiap kali berpapasan dengan peminta-minta berwujud pengamen di angkot atau di bis –yang mana kita bisa ketemu mereka lebih dari 10 kali sehari– saya langsung merasa masa depan Indonesia tak punya harapan.Itulah akibat paling buruk kalau setiap hari dikelilingi aura kemiskinan. Orang jadi pesimis dalam hidup. Tapi saya belajar banyak dari kisah White Tiger ini. Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa melihat harapan di saat orang-orang lain tak bisa melihat.

  • Perang tak seimbang antara kaum kaya dan kaum miskin. Saya rasa ini sudah satu paket dengan seluruh penciptaan Tuhan yang lain, seperti keindahan alam dan potensi bencananya. Balram mendeskripsikannya begini:

    “…Negara ini, dalam masa-masa kejayaannya, saat masih menjadi negara terkaya di bumi, seperti kebun binatang. Kebun binatang bersih, teratur, dan terkendali. Semua orang berada di tempat masing-masing, semua orang senang. Tukang emas di sini. Gembala sapi di situ. Tuan tanah di situ. Orang bernama Halwai membuat gula-gula. Orang yang disebut gembala sapi menggembalakan sapi. Kaum yang tak tersentuh membersihkan tahi. Tuan tanah bersikap baik kepada para pelayan. Para wanita menutupi wajah dengan cadar dan menunduk saat berbicara dengan pria asing.

    Lalu, berkat para politisi di Delhi, 15 Agustus 1947 –ketika Inggris akhirnya pergi– kandang-kandang pun terbuka; dan semua binatang menyerang serta melukai satu sama lain, hukum rimba menggantikan hukum kebun binatang. Mereka yang paling garang dan paling rakus menghabisi yang lain dan perut mereka bertambah buncit. Hanya itu yang penting sekarang, ukuran perutmu.

    Tidak masalah apakah kau wanita, muslim, atau kalagan tak tersentuh: siapa pun yang berperut buncit bisa maju. Ayah dari ayahku pastilah Halwai sejati, pembuat gula-gula, tapi saat dia mewarisi toko tersebut, anggota dari kasta lain pasti merebut tempat itu darinya dengan bantuan polisi. Perut ayahku tidak cukup buncit untuk melawan.

    Itulah kami semua jatuh ke lumpur, ke level penarik rickshaw. Itulah sebabnya nasib saya dicurangi, saya tidak menjadi bocah gemuk putih penuh senyum.

    Singkat cerita –pada masa lalu, ada sekitar seribu kasta serta garis nasib di India. Sekarang ini, hanya tinggal dua: Kasta Perut Buncit dan Kasta Perut Rata.

    Dan, hanya ada dua nasib: makan atau dimakan.

Tapi sekali lagi, saya belajar banyak dari kisah White Tiger ini. Seorang entrepreneur adalah orang yang bisa mengubah nasibnya sendiri. Tidak berada di bawah kondisi orang lain.

~ o 0 o ~

Links:
The White Tiger
City of Joy
City of Joy (1992) – the movie

Related posts:
Lima Buku yang Mengubah Saya di tahun 2011
Integritas Gandhi
Komitmen Gandhi
Eat Pray Love: tentang belahan jiwa

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s