Aku, Buku dan Hypnerotomachia

Telah kutemukan agamaku. Tak ada yang lebih penting dari buku. Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah.
(Jean-Paul Sartre)

Mungkin pernyataan itu cocok untuk tokoh-tokoh di buku The Rule of Four ini. Tapi saya khawatir bahwa kalimat itu kemudian, secara dilematis, tepat juga untuk saya.

Saya belum pernah sejelas ini memahami bahwa buku bisa jadi sangat berbahaya buat kehidupan seseorang. Dalam sejarah, –yang sekarang diulang lagi lewat film dan novel—orang bisa membunuh dan dibunuh demi sebuah –atau beberapa buah— buku. The Name of the Rose, The Book of Eli, dan banyak lagi literatur yang menceritakan panjangnya pertumpahan darah sejak pertama kali ‘buku’ muncul di dunia.

Dan terakhir yang saya baca adalah The Rule of Four (2004). Sebagian memang kisah rekaan, tapi kita pembaca jadi bisa memandang peristiwa lima ratus tahun yang lalu dengan akrab. Dan tidak begitu heran, karena peristiwa yang sama telah terjadi berulang-ulang sampai sekarang;
ada buku, yang begitu berharga sehingga perlu disembunyikan sedemikian rupa karena terancam akan dibakar oleh para penguasa. Familiar, kan?

Ada yang menguburnya jauh-jauh dalam tanah, ada yang menggemboknya dalam peti, ada yang pakai bahasa simbol jaman kuno, dan yang paling populer adalah yang memakai bahasa sandi dan teka-teki. Seperti dalam Hypnerotomachia Poliphili (1499).

Buku berbahasa Latin ini beredar dengan bebas, dari bacaan luarnya tampak seperti buku biasa, bicara tentang arsitektur, kedokteran, seni, kisah cinta, dll, tapi ternyata itu semua mengandung bahasa sandi dan teka-teki. Yang menyingkap rahasia besar si penulis. Setidaknya begitulah pokok cerita dalam novel yang ditulis oleh dua sahabat, Ian Caldwell (alumnus Princeton) dan Dustin Thomason (alumnus Harvard).

Tokoh-tokoh di The Rule of Four berhasil memecahkan sandi tersebut dan jadi paham rahasia si penulis. Dan mereka membaginya kepada kita, para pembaca yang kebingungan.

Saya sulit membayangkan novel ini adalah fiksi, sama sulitnya dengan memikirkan bahwa buku ini adalah kisah nyata. Saya rasa, itulah unsur penting yang menciptakan ‘sebuah buku yang bagus’.

Art is a lie that helps us understand the truth, kata Picasso.

Kritikus menyebut novel sejarah ini ‘lebih bagus dari Da Vinci Code’, dan bahkan menyebutnya, ‘(sebuah) Da Vinci Code untuk orang-orang berotak.’

Disebut-sebut juga bahwa kalau Dan Brown, Scott E. Fitzgerald, dan Umberto Eco bersatu menulis buku, jadinya The Rule of Four.

Bukan kapasitas saya untuk setuju atau tidak. Tapi yang jelas, saya sendiri lebih menikmati The Name of the Rose daripada yang lainnya. Karena yang lainnya itu, tidak seperti Adso dari Melk, tokoh-tokohnya kurang punya selera humor. Bagi saya, unsur humor, dalam buku yang membahas sejarah yang berkaitan dengan buku-buku, sangat penting untuk mengurangi stres pembaca.

The Rule of Four ini juga menurut saya, adalah versi lebih pop dari The Name of the Rose. Dari mulai prolog, klimaks, anti-klimaks, hingga epilognya, saya merasa seperti menonton film Hollywood. Alurnya mudah ditebak, walaupun tentu saja detil ceritanya tidak.

Saya cukup menikmati penelusuran teka-teki di buku ini, rujukannya yang kaya ke buku-buku lain, dan penafsiran-penafsirannya terhadap karya seni.

Tokoh Tom Corelli Sullivan itu hidup betul. Dengan karakter melankolisnya, dan yang memikirkan segala sesuatu dengan gaya filosofis. Mungkin sebenarnya itu gaya mahasiswa tingkat akhir Princeton.

Ini contohnya,

”Hal yang aneh, waktu. Waktu terasa paling berat bagi mereka yang paling sedikit memilikinya. Tak ada yang lebih menggembirakan daripada masa muda dengan segenap dunia di dalam genggaman, yang membuatmu merasakan suatu kemungkinan yang begitu menggiurkan, sehingga kau tahu bahwa mestinya ada yang lebih penting untuk dilakukan daripada belajar untuk ujian.”

Paragraf pertamanya ini langsung membawa saya ke kenangan indah masa-masa kuliah. Yang penuh buku, pesta dan cinta :p

Lalu dia membuat pernyataan ini:

”…aku sudah kehilangan kepercayaan pada buku. Aku mulai menyadari bahwa ada semacam prasangka yang tak terucapkan di antara para penggemar buku, suatu keyakinan rahasia yang tampaknya dirasakan oleh mereka semua, bahwa kehidupan seperti yang kita kenal merupakan bayangan kenyataan yang tak sempurna, dan hanya senilah yang dapat memperbaikinya.

Para cendekiawan dan intelektual yang kutemui saat makan bersama di rumah selalu terlihat memendam semacam dendam pada dunia. Mereka tak pernah bisa menerima bahwa hidup tak mengikuti alur dramatis seperti yang diberikan oleh seorang penulis cakap pada sebuah tokoh karya sastra yang hebat. Hanya dalam kebetulan dari kesempurnaan murnilah dunia betul-betul menjadi sebuah drama. Dan itu, bagi mereka, adalah sesuatu yang menghinakan.”

Inilah yang saya khawatirkan. Jangan-jangan memang bukulah yang menyebabkan kehidupan nyata saya tidak pernah lebih menarik dari buku yang saya baca. Tahun 2007, di saat saya ditimpa suatu masalah yang saya anggap besar, saya ingat bahwa saya melarikan diri ke bukunya Frans Magnis-Suseno yang berjudul Di Bawah Bayang-Bayang Lenin. Setiap saya ingat masalah yang harus saya hadapi, saya akan menyambar buku itu, mencoba memahami setiap kalimat rumitnya, dan bahkan mencatat semua poin-poin pentingnya.

Meskipun rupanya, masalah saya tidak selesai hanya dengan membaca buku itu. Solusinya sama sekali tidak ada di sana. Masalah saya masih menunggu untuk dihadapi dan diselesaikan.

Oh ya, saya juga tidak lantas jadi penganut komunis atau sosialis gara-gara membaca buku itu. Karena buku itu cuma pengantar ilmu. Saya jadi betul-betul heran kenapa buku itu pernah dilarang beredar di negeri ini.

Mungkin itulah yang paling menyentuh saya dari kisah Hypnerotomachia ini. Kenyataan bahwa karya-karya ilmu pengetahuan dan seni sering sekali diperlakukan dengan kejam. Dikubur, dilarang, atau dibakar. Dari abad ke abad.

Tapi seperti kata Joseph Brodsky,

”Membakar buku adalah sebuah kejahatan, tapi ada yang lebih jahat daripada membakar buku, yakni tidak membaca buku.”

~ o 0 o ~

Related posts:
The Rose by Any Other Publisher
Sekali Merdeka Tetap Membaca
Lima Buku yang Mengubah Saya di Tahun 2011
Love in the Month of Ramadhan

~ o 0 o ~

Find the books:
Hypnerotomachia Poliphili: The Strife of Love in a Dream.
The Rule of Four
The Real Rule of Four: The Unauthorized Guide to The New York Times #1 Bestseller
The Name of the Rose (Everyman’s Library Classics & Contemporary Classics)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s