Sekali Merdeka Tetap Membaca

Judul di atas adalah slogan wajib Dosen favorit saya, Pak Putu Pendit. Beliau ini memang selalu lantang menyuarakan kebebasan informasi di setiap kesempatan. Terutama saat beberapa waktu lalu konon masih ada adegan pembakaran buku di negeri ini.

Memang mengerikan kalau dingat-ingat bahwa baru 15 tahun yang lalu, kita tidak bisa bebas membaca seperti sekarang. Dan saat itu otomatis orang-orang juga tidak bebas menulis. Lima belas tahun yang lalu kita memang belum merdeka.

Saya tiba-tiba membahas topik ini karena baru saja membaca dua buah buku, dengan latar waktu berbeda (yang satu akhir tahun 60-an, yang satu lagi awal tahun 2000-an), tokoh cerita berbeda (yang satu tokohnya pemuda kota masuk kampung, yang satu lagi orang Jawa masuk istana), dan dari negara yang berbeda (yang satu Cina, yang satu lagi Indonesia).

Tapi dua buku ini punya satu kesamaan, yaitu sama-sama membuat saya amat bersyukur sekarang karena saya (dan kita semua) telah bebas merdeka untuk membaca. Dan, otomatis juga, orang sudah bebas merdeka untuk menulis.

Buku pertama berjudul Balzac dan Si Penjahit Cilik dari Cina.

Ini tentang pemuda-pemuda Cina yang di bawah pemerintahan Mao, harus mengikuti ‘pendidikan ulang’ (artinya dikirim ke pedesaan untuk dididik oleh para petani miskin).

”…Waktu kami dikirim ke pegunungan sebagai intelektual muda, kami baru menyelesaikan 3 tahun wajib sekolah menengah tingkat rendah.

Sulit dimengerti bagaimana kami berdua bisa dianggap intelek, mengingat pengetahuan yang kami peroleh dari sekolah menengah benar-benar nol. Dari usia 12 hingga 14 tahun, kami harus menunggu Revolusi Kebudayaan mereda sebelum sekolah-sekolah dibuka kembali. Dan waktu kami akhirnya bisa masuk sekolah, kami dihadapkan pada kenyataan pahit: matematika sudah dihapus dari kurikulum, begitu juga fisika dan kimia. Sejak itu pelajaran kami dibatasi seputar dasar-dasar industri dan pertanian.”

“…Selama beberapa tahun, satu-satunya sumber pengetahuan intelektual kami adalah buku-buku pelajaran ini dan ‘Buku Merah Kecil’ karangan Mao. Semua buku lain dilarang.”

Maka waktu pemuda-pemuda ini menemukan ‘buku terlarang’ karya Balzac, mereka senang bukan main. Sembunyi-sembunyi membaca fiksi tersebut berulang-ulang. Belakangan, mereka bahkan nekat mencuri koper temannya yang penuh buku seperti karangan Dumas, Dostoyevski, Tolstoy, Gogol, Victor Hugo, Romain Rolland, Dickens, dan lain-lain. Sang teman yang kecurian tak pernah memperkarakan masalah pencurian itu karena sama saja bunuh diri ketahuan menyimpan ‘barang-barang terlarang’.

Yang paling saya suka dari Dai Sijie, penulis buku ini, adalah selera humornya. Entah dia memang lucu, atau peristiwa pembodohan masyarakat jaman itu yang memang lucu. (Penggalan humornya ada di sini)

Dia menulis dengan menarik sekali, dengan deskripsi yang dramatis. Contohnya saat si pemuda membaca buku Romain Rolland, Jean Christope Vol. 1.

”…Bagiku buku ini sungguh luar biasa: sekali dibaca, hidup kita dan dunia yang kita hidupi ini selamanya berubah.”

Saya jadi penasaran baca bukunya. Dan saya percaya, buku memang punya kekuatan mengubah orang. Itu sebabnya selamanya buku tak boleh dilarang. Karena orang memang harus berubah.

~ ~ o 0 o ~ ~

Lanjut ke buku kedua yang saya baca, yaitu Pak Beye dan Politiknya: Tetralogi Sisi Lain SBY.

Buku semacam ini, lima belas tahun yang lalu tidak akan pernah bisa terbit. Tak ada harapan. Atau kalaupun ada penerbit ‘nakal’ yang berani menerbitkannya, tak lama pasti akan ditarik dari peredaran. Penerbitnya kena bredel, dan penulisnya, tak akan pernah bisa menulis buku kedua. Dia mungkin bahkan akan trauma memegang kertas dan pulpen (atau tepatnya menyentuh keyboard, karena awalnya dia menulisnya di blog).

Syukurnya, sekali lagi, kita sudah merdeka. Jadi penulis buku ini, sangat bebas menulis segala opininya tentang presiden, segala kesimpulan yang dibuatnya tentang tindakan presiden, atau mengarahkan pembaca untuk membuat opini dan kesimpulan sendiri berdasarkan fakta yang dibeberkannya tentang tindak-tanduk presiden yang dilihatnya dari dekat.

Buku ini adalah kumpulan tulisan Wisnu Nugroho di Kompasiana yang katanya sendiri, ditulis dengan semangat:

‘mengabarkan yang tidak penting agar yang penting tetap penting’.

Saya tidak bisa bilang buku ini menyenangkan. Saya memang menikmati gaya penulisannya yang menggelitik, penuh humor, dan lincah. Dia juga selalu menghadirkan ‘kick’ yang cerdas di bagian akhir setiap tulisan. Ditambah dengan foto-foto yang menarik yang mungkin luput dari perhatian wartawan lain. Salah satu contoh tulisannya yang saya suka, silahkan dibaca di sini.

Tapi, kenyataan-kenyataan yang dia bahas itulah yang tidak menyenangkan. Cara pandang penulis yang sinis terasa sekali. Tipikal jurnalis sejatilah, yang selalu bersikap kritis dan skeptis terhadap pemerintah. Siapapun presidennya.

Ironi demi ironi disajikan, hingga makin lama membaca, saya jadi makin stress.

Penerbit buku ini juga memberi peringatan:

”…Pak Beye dan Politiknya adalah Tetralogi Sisi Lain SBY kedua berisi hal-hal tidak penting mengenai strategi dan trik politik SBY sejak niat menuju Istana digenggamnya. Karena berisi hal-hal tidak penting, selain strategi dan trik, pernik berbau klenik yang serba kebetulan dipaparkan. Setelah tersenyum-senyum, semoga gelisah hadir.”

Yah, buku ini berhasil. Membuat saya tersenyum-senyum saat membaca, tetapi lalu gelisah. Akan jadi apa Indonesia ini ya…?

Eh, maaf ternyata saya sudah menulis terlalu panjang. Tapi nggak apa-apalah ya… mumpung masih bebas menulis. Dan Anda pun juga bebas membaca. ^_^

10 thoughts on “Sekali Merdeka Tetap Membaca

  1. Pingback: SMS untuk Pak Presiden | Boneka Ketujuh

  2. Pingback: SBY, Kontrak Politik, dan Mangga Ical | Boneka Ketujuh

  3. Pingback: Antara Aceh dan Michigan | Boneka Ketujuh

  4. Pingback: Aku, Buku dan Hypnerotomachia « Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s