Antara Donald Trump dan Jeff Bezos

Kebetulan saya membaca buku tentang mereka di saat yang bersamaan. Jadi langsung bisa ngebandingin.

Mungkin nggak tepat kalau dibilang jahat, Donald Trump ini. Saya kenal beberapa orang yang ambisius-mau-menang-sendiri–coz-bisnis-is-bisnis-so-screw-people gitu. Dan mereka biasanya baik banget sama temen-temennya. Mereka cuma melenyapkan perasaan sesama manusia kalo udah soal bisnis.

Jadi Donald Trump nggak jahat. Dia cuma bertekad mendidik orang bodoh jadi pintar, dan orang lemah jadi kuat. Itu hal yang ‘baik’ kan?

Dari awal Trump cerita tentang perjuangannya sendiri, ambisi-ambisinya pribadi, dan kesenangan-kesenangannya dalam membuat transaksi yang bagus. Meskipun itu merugikan orang lain. Baginya, nggak apa-apalah. Karena salah sendiri ‘orang lain’ yang malang itu terlalu bodoh dan lemah. Dia harus mengambil pelajaran dari sini.

Kata Trump,

“Saya tidak melakukannya demi uang. Saya sudah cukup memilikinya, lebih dari yang saya butuhkan. Saya melakukannya untuk melakukannya. Transaksi adalah bentuk seni saya. Orang lain melukis dengan indah di atas kanvas atau menulis puisi yang indah. Saya senang membuat transaksi, khususnya transaksi besar. Itulah yang membuat saya berbahagia.”

Dan dengan bahagia, Trump ‘merebut’ gedung demi gedung dari orang-orang yang sudah tak berdaya dan butuh uang. Dan dari transaksi gedung baru tersebut, Trump Sang Seniman akan untung besar, dan teman bisnisnya akan rugi besar. Tapi belajar banyak.

Sedangkan Jeff Bezos, dia cerita tentang orang-orang lain. Tentang masyarakat penggunanya. Tentang ‘pasar’-nya. Begini katanya,

“…kami bukan toko buku, tapi kami adalah layanan buku.”

“Visi kami, adalah perusahaan dunia yang sangat berpusat pada pelanggan. Tempat orang untuk menemukan dan mengetahui segala sesuatu yang mungkin ingin mereka beli secara online.”

Bezos terus menerus memikirkan pengembangan bisnisnya dari sudut pandang pelanggan. Dia membesarkan Amazon karena yakin orang-orang butuh hal yang lebih besar. Setelah buku, dia tambahin dengan jual elektronik, pakaian, musik, film, peralatan memasak, dll. Karena dia yakin orang akan senang menemukan segala sesuatu di satu tempat.

Waktu baru mulai menjual mainan anak-anak, halaman Amazon ditulisi begini:

Telah dibuka Amazon.com Toys.
Untunglah, kebutuhan pelanggan Slinky terpenuhi.

Kalau Trump berambisi membuat gedung tertinggi di dunia, –meskipun untuk itu dia merasa perlu mengusir para pedagang kaki lima di depan gedung mewahnya nanti–, Bezos berambisi membuat toko dengan pelayanan terbaik di dunia. Yang berarti bahwa orang paling miskin di Amerika pun bisa beli buku bagus seharga 0,sekian Dolar, diantar ke rumahnya –atau rumah penampungan tunawismanya–.

Itu bedanya besar kan ya?

Tapi di luar perbedaan di atas, kedua orang sukses ini sedikitnya punya tiga kesamaan:

  • Sama-sama punya naluri bisnis yang kuat, sehingga kemudian jadi kaya raya.
  • Sama-sama mengejar yang terbaik di dunia, sehingga akhirnya tercapai juga.
  • Dan sama-sama tidak kepikiran untuk pernah berhenti. Ini pelajaran bagus buat saya.

Links:
Trump: The Art of the Deal
Jeff Bezos (Ferguson Career Biographies)

2 thoughts on “Antara Donald Trump dan Jeff Bezos

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s