Belajar Bisnis dari Mark, Larry dan Sergey

Kalau pada saat membuka blog ini Anda juga membuka Facebook dan Google, maka Anda pasti tahu Mark, Larry dan Sergey mana yang saya maksud.๐Ÿ˜‰

Kita tahu bahwa ada kesamaan yang menonjol dari ketiga orang ini. Yaitu, telah menjadi penemu suatu teknologi yang besar pengaruhnya untuk dunia, lalu membangun perusahaan yang sukses luar biasa di usia 20-an, dan menjadi milyarder sebelum berusia 35 tahun (tahun 2011, kekayaan Mark $17,5 milyar; Larry dan Sergey masing-masing $16,7 milyar).

Ini menunjukkan bahwa tak sekadar jenius komputer, mereka juga adalah pebisnis handal.


Berikut ini adalah beberapa kesamaan penting yang bisa kita pelajari dari mereka:

1. Berpikir cepat, berbicara cepat, dan bertindak cepat.

Di film The Social Network (2010), kita bisa menyaksikan seberapa cepat Mark berpikir, berbicara dan bertindak. Meskipun film ini 60% fiktif, tapi karakter Mark Zuckerberg dalam hal ini cukup menggambarkan aslinya. Kita bisa lihat Mark asli pada saat diwawancara di acara TV. Dalam berbicara, ia tak suka buang waktu untuk spasi. Dan ia berlari kesetanan setiap kali mendapat ide untuk menciptakan sesuatu. Langsung akan dia kerjakan saat itu juga.

Begitu juga Larry dan Sergey. Mereka memenangkan begitu banyak kerjasama bisnis melawan pesaing-pesaingnya karena selalu berkomunikasi, memutuskan dan melakukannya dengan cepat. Perilaku ini tercermin juga dalam produk mereka, mesin pencari yang memberikan informasi yang kita butuhkan dalam satu kedipan mata. Seperti kemampuan jin jaman Nabi Sulaiman.

Dalam filosofi Google, 10 Things We Know To Be True, tertulis:

Cepat lebih baik daripada lambat.

Jeff Jarvis, jurnalis yang menulis buku What Would Google Do? mengatakan, “Setiap milidetik berharga. Kecepatan adalah sebuah keuntungan bagi pengguna. Kecepatan juga merupakan keuntungan kompetitif yang tidak akan dikorbankan Google tanpa alasan yang bagus. Kecepatan adalah sebuah ajaran dalam agama Google.”

2. Percepat kegagalan, lalu percepat perbaikan.

Sheryl Sandberg, saat menjadi eksekutif periklanan Google, pernah membuat kesalahan yang tidak dia jelaskan detil, tapi yang jelas telah menyebabkan perusahaan kehilangan jutaan dolar. “Keputusan yang buruk, bergerak terlalu cepat, tidak ada kendali di tempat, menghamburkan sejumlah uang,” akunya kepada majalah Fortune.

Dia lalu meminta maaf kepada bos Larry Page yang menanggapi,

“Saya sangat lega kamu melakukan kesalahan ini, karena aku ingin menjalankan sebuah perusahaan di mana kita bergerak terlalu cepat dan melakukan terlalu banyak, dan bukannya terlalu berhati-hati dan berbuat terlalu sedikit.”

CEO Google Eric Schmidt mengatakan kepada The Economist bahwa dia mendesak para pegawai, “Tolong gagallah dengan cepat, agar kamu bisa mencoba lagi.” Itu sebabnya Google selalu meluncurkan program-program versi Beta yang ‘akan melakukan kesalahan dan siap memperbaiki’.

Facebook pun sama, cenderung melakukan kesalahan pada fitur-fitur baru, tapi lalu merespon kritik dari konsumen dengan cepat.

3. Fokus pada pengguna, bukan pada uang.

Facebook is cool. Ads, not cool.

Begitu kata tokoh Sean Parker (Justin Timberlake), pendiri Napster, saat memberi nasehat untuk Mark Zuckerberg agar tidak buru-buru memenuhi Facebook dengan iklan (dalam film The Social Network (2010)). Dan terbukti ketika Facebook bersabar dan terus tekun ‘menjamu’ pengguna, jumlah yang mendaftar menjadi berkali lipat (saat ini sudah lebih dari 750 juta pengguna aktif), meluas ke lima benua, hingga otomatis nilai perusahaan pun makin tinggi. Kini kita dapat melihat bahwa iklan-iklan muncul dengan elegan di Facebook, perusahaan untung besar dan pengguna tetap puas.

Sedangkan Google, sejak awal pembuatannya telah berikrar tidak akan pernah memasang iklan di halaman depannya yang polos itu, karena pengguna tidak akan suka. Pada awal-awal peluncurannya, ada pengguna setia Google yang setiap hari mengirim email ke Google yang isinya cuma angka. Misalnya: 34. Besoknya dia mengirim email lagi yang isinya: 36. Setelah diteliti, rupanya orang ini menghitung jumlah kata yang muncul di halaman awal Google. Ini indikasi bahwa pengguna tidak suka dengan halaman yang terlalu penuh kata-kata, apalagi banner kerlap-kerlip yang mengganggu mata dan menyebabkan loading lama.

Larry dan Sergey mempertahankan kondisi tanpa iklan selama beberapa tahun awal hingga membuat investornya ketar-ketir karena perusahaan ini belum juga menghasilkan uang. Mereka keukeuh dengan pendirian tidak mau merusak kenyamanan pelanggan Google. Sampai akhirnya kemudian Google menetapkan suatu kebijakan pemasangan iklan, yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, dan tidak mengganggu hasil pencarian, dan bahkan bisnis iklan ini, Google Adsense, bisa menciptakan perekonomian populis di internet yang memuaskan semua pihak.

4. Gratis adalah pola bisnis yang baru.

Thanks to Google, sekarang informasi tidak lagi mahal. Bahkan surat kabar terkenal di seluruh dunia menayangkan artikel harian mereka secara gratis, setiap hari. Google bisa dibilang pelopor dari budaya gratis di internet. Beberapa tahun lalu ketika saya deg-degan karena konon email Yahoo akan dikenakan biaya, tiba-tiba pahlawan Gmail muncul dan menawarkan email gratis dengan tempat penyimpanan yang besar pula –belakangan Yahoo pun ikut-ikutan. Google juga membeli Blogger dan berhenti membebankan biaya untuk layanan ini.

Sebelum membuat Facebook, Mark pernah membuat Synapse Media Player, plugin untuk mengetahui kebiasaan pengguna dalam mendengarkan musik, yang mendapat rating 3 bintang di PC Magazine dan ditawar oleh Microsoft dan AOL. Tapi tidak dijual, kata Mark. Dia membagikan gratis saja di internet. Seperti halnya Facebook sekarang yang di halaman awalnya ditulisi:

It’s free and always will be.

Prinsipnya, gratis akan mendatangkan konsumen dan akan menjaga hubungan baik dengan mereka. Dan hubungan baik dengan masyarakat luas akan mendatangkan rezeki. Dari berbagai pintu.

~~ o 0 o ~~

Ngomong-ngomong, gambar kartu nama di atas itu hanyalah salah satu bagian fiktifnya dari film The Social Network (2010). Jadi nggak harus dicontoh ya!๐Ÿ˜‰

Referensi:

Jeff Jarvis. What Would Google Do?. Jakarta: Ufuk Press, 2010.

Kisah Larry dan Sergey (1): Pendiri Google yang Tak Bisa Duduk Diam

Kisah Larry dan Sergey (2): Senangnya Manjadi Googlers

6 thoughts on “Belajar Bisnis dari Mark, Larry dan Sergey

  1. is it free to write my comment here rina? hehehe..

    what can i say Rin? i always love your post,, im in the middle of day,,just feeding my brain with your post,, and yes! your post is soo yummy for my brain :p

    Like

  2. Pingback: Google, tolong jangan masukkan setan ke lingkaranmu… | Boneka Ketujuh

  3. Pingback: 7 Kegunaan Tablet untuk Kehidupan | Boneka Ketujuh

  4. Pingback: Kegilaan Google | Boneka Ketujuh

  5. Pingback: rekrutmen a la Google | Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s