Love in the Month of Ramadhan

Selamat datang di bulan Ramadhan… bulan cinta…🙂

Mungkin itu sebabnya energi yang kita rasakan di bulan suci ini begitu besar… karena ada banyak cinta di dalamnya.

Di bulan ini kita jadi saling memaafkan, –meski porsi ketulusannya tiap orang beda-beda– dan kita tau “memaafkan” adalah persyaratan pertama untuk mencintai seseorang. Seperti maaf ibu pada anaknya sedurhaka apapun dia… (huhu…), atau maaf istri pada suaminya bahkan sebelum dia mengulangi kesalahan yang sama. Atau maaf kepada teman yang masih belum bisa meninggalkan sifat buruknya, dan kita berjanji dalam hati untuk terus membantunya berubah.

Setan-setan berupa kebencian, kemarahan, niat jahat dan dendam kita enyahkan di bulan ini. Probabilitasnya untuk benar-benar hilang tentu besar kalau kita sudah mulai memaafkan dengan tulus. Jadi bulan depan kita bisa merasa betul-betul jernih dan memulai kehidupan baru yang suci.

Anyway, saya menulis ini karena seorang sahabat yang lagi jatuh cinta. Betul-betul jatuh, yang saya tau pasti sakit rasanya. Dan itu nggak salah. Mencintai itu nggak pernah salah, iya kan ya? Yang mungkin salah adalah cara kita menunjukkan cinta. Berapa banyak orang yang menyakiti atau membunuh orang lain atas nama cinta?! (*marioteguhmodeon* :p)

Atau bahkan juga menyakiti diri sendiri atau juga membunuh karakter diri sendiri demi untuk get along sama orang yang kita cintai.

Hmm… memangnya, cinta itu apa sih?

Berikut ini adalah beberapa definisi cinta yang pernah saya dengar.

Pertama, dari sahabat saya, Ginger (kenapa dia dulu? Karena dari dialah pertama kali saya mendengar orang menjelaskan tentang cinta dengan penuh keyakinan):

“Cinta itu tanggung jawab. Jadi kalau orang-orang yang menikah, itu berarti yang berani bertanggung jawab. Itu berarti cinta. Kalau maunya senang-senang aja, tanpa tanggung jawab, itu jelas nggak cinta.”

Yah, waktu itu saya mengangguk-angguk saja tanpa benar-benar paham. Karena dialah orang yang akan menikah dalam waktu dekat, sementara saya masih entah kapan.

Lalu kata sahabat saya yang lain lagi, Kayumanis:

“Love is HURT! Kalo lo blum ngerasa sakit, berarti belum cinta.”

Begitu katanya. Waktu itu juga saya belum paham, sampai beberapa tahun kemudian waktu kata-katanya itu terbukti telak. (Rasanya beneran sakit, padahal itu cuma cinta kecil-kecilan yang temporary sama pacar. Bagaimana ya cinta besar yang permanen dari seorang ibu yang terus-menerus mengkhawatirkan anak kesayangannya? Pasti sakitnya berkali-kali lipat).

Definisi yang lain datang dari film Original Sin (bintangnya Antonio Banderas dan Angelina Jolie):

“Cinta adalah memberi dan memberi. Nafsu adalah mengambil dan mengambil.”

Di bulan Ramadhan ini terasa sekali cinta di mana-mana, karena orang-orang mendadak dengan senang hati memberi. Akan banyak kiriman untuk panti asuhan, makan-makan gratis di mesjid, sumbangan di jalan-jalan, dan bahkan di bis kota Jakarta yang biasanya orang-orang saling tak peduli, tiba-tiba kalau sudah jam buka puasa dan kita terjebak macet, orang-orang akan saling membagi makanan dan minuman untuk berbuka dengan teman sebelah yang sama sekali tidak dikenalnya. Yang biasanya, saling senyum pun tidak.

Lanjut. Berikut ini definisi cinta tertua yang pernah saya tau, yang keluar dari pernyataan seorang ilmuwan besar bidang kedokteran dan filsafat. Tak lain dan tak bukan, Ibu Sina. Definisi beliau ini dikutip oleh Adso dari Melk (tokoh di novel The Name of the Rose), katanya begini:

“Avicenna yang agung… mendefinisikan cinta sebagai suatu pikiran melankolis yang terus-menerus, yang muncul sebagai akibat dari seseorang yang memikirkan dan memikirkan lagi sosok, sikap atau perilaku dari seseorang lawan jenis: sebenarnya bukan suatu penyakit, tetapi berubah menjadi penyakit ketika, karena tetap tak terpuaskan, menjadi pikiran yang obsesif, dan dengan begitu kelopak mata jadi bergetar-getar, napas tidak teratur, suatu ketika korbannya menangis, lain kali tertawa, dan jantung berdebar-debar.

…sebagai obat, Avicenna menyarankan untuk menyatukan kedua kekasih itu dalam perkawinan, yang akan menyembuhkan penyakit itu.”

Umberto Eco. The Name of the Rose. Yogyakarta: Bentang, 2008. Hal. 649-650.

Hahaha…

Jadi bagaimana definisi cinta menurut Anda?

~ ~ o ~ ~

pic from here

Links:
The Rose by Any Other Publisher: review terjemahan novel The Name of the Rose

9 thoughts on “Love in the Month of Ramadhan

    1. haha… ya sama-sama neng…
      sengaja nyari referensinya buku yang ada “rose”-nya… hihihi… eh, tapi itu bukan novel cinta, itu lebih ke detektif & sejarah gitu… tapi mungkin km akan suka juga…🙂

      Like

  1. believe it or not riin…. read ur blog is like a rain drops in sahara… in d middle of my hunger of energy,, then i “mampir” at your blog,, hoopplaaaaa… your post just heal my headache! hahaa thanks again riin,,,

    Like

  2. thank you so so so much, Mama Rezel… hehe… the energy comes back to fill me everytime i read your comments… thank you for your appreciation…🙂

    Like

  3. Pingback: Aku, Buku dan Hypnerotomachia « Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s