Perang yang Bukan untuk Menang

(Penggalan percakapan Minke, Telinga, dan Jean Marais, dalam roman Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer)

Sumber gambar: kilasbaliknusantara.blogspot.com

Tanpa kami sadari Tuan Telinga telah ikut mendengarkan dari suatu jarak, kemudian mendekat, duduk pada meja. Nampaknya ia bersemangat untuk mencampuri.

“Perang kolonial dalam duapuluhlima tahun belakangan ini tak lain dari pada kehendak modal, kepentingan pasaran buat kelangsungan hidup modal di Eropa sana. Modal telah menjadi begitu kuasanya, maha kuasa. Dia menentukan apa harus dilakukan ummat manusia dewasa ini.”

“Perang selamanya adu kekuatan dan muslihat untuk keluar sebagai pemenang.” Telinga menengahi.

“Tidak, Tuan Telinga,” Marais membantah, “tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan-perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini …. Ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup, atau kalah-menang.”

“Akhirnya sama saja, Jean, adu kekuatan dan muslihat untuk keluar sebagai pemenang.”

“Itu hanya akibat, tuan Telinga. Tapi baiklah kalau memang sudah jadi pandangan Tuan. Sekarang, Tuan, sekiranya bangsa Aceh yang menang, Belanda kalah, adakah Nederland lantas jadi milik Aceh?”

“Aceh takkan mungkin menang.”

“Justru karena itu, Tuan. Aceh sendiri tahu pasti akan kalah. Belanda juga tahu pasti akan menang. Namun, Tuan, Aceh tetap juga turun ke medan-perang. Mereka berperang bukan untuk menang. Berbeda dari Belanda. Sekiranya dia tahu Aceh sama kuat dengan dirinya, dia takkan berani menyerang, apalagi membuka medan-perang. Soalnya tak lain dari pertimbangan untung-rugi modal. Kalau soalnya hanya menang, mengapa pula Belanda tidak menyerang Luxemburg, atau Belgia, lebih dekat dan lebih kaya?”

More on Perang yang Bukan untuk Menang

4 thoughts on “Perang yang Bukan untuk Menang

  1. rinaa,, skali lagi,, aku suka blogmu!! suka sekali!! walopun misal ini adalah penggalan dari novelnya sang legend.. this is awsome riin!🙂🙂

    aku jd bersemangat stlah membaca blog2mu

    Like

    1. Makasiiii….jeung rini… apresiasinya…🙂

      Aku suka sekali dialog ini di bukunya Pramoedya, karena jd dapet perspektif baru tentang perang kita ngelawan Belanda dulu. Dan pemahaman ini kayaknya masih relevan utk jaman sekarang… di saat kita tetep harus perang, walopun entah kapan menangnya… (atau bahkan, emang bisa menang gitu?! hehee…)

      c u on July 14

      Like

  2. Pingback: Kartosuwiryo itu terus melawan Belanda | Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s