Mati dalam Jiwa

Lagi baca ulang untuk kesekian kali Mati dalam Jiwa-nya Albert Camus. Cuma buat menenangkan diri karena orang-orang lain mengalami hal-hal yang lebih aneh dan lebih tidak nyaman daripada saya.

Dia bilang begini:

Aku semakin takut sakit, di sini, di lingkungan orang-orang yang siap tertawa ini. Namun aku merasa lebih takut lagi kalau sendirian di kamar hotel, tanpa uang, tanpa semangat, hanya dengan diri sendiri dan pikiran-pikiran yang mengenaskan.
Masih di hari ini dengan kikuk, aku bertanya pada diri sendiri: bagaimana kalau aku yang liar dan pengecut ini keluar saja dari keakuan. Dan ternyata aku benar-benar tidak sanggup untuk lebih lama lagi berhadapan dengan diri sendiri…

Ha!

Seberapa banyak orang di dunia yang tidak tahan berhadpaan sama dirinya sendiri?
Seberapa sering orang mengalaminya dalam sebulan?

Takut sakit, terganggu dengan pikiran orang lain tentang kita, tanpa uang, tanpa semangat, pengecut, keakuan… God! Manusia penuh dengan keburukan.

(Fakta bahwa dia menulis ini di usia 22 tahun menurut saya cukup luar biasa. Ini adalah waktu ketika orang baru mulai belajar menulis –seperti juga diakui Camus sendiri–. Tapi seorang cendekiawan, Brice Parain, menganggap ini adalah hal terbaik yang pernah dia tulis. Karena ada cinta sejati di dalamnya yang lebih besar porsinya dari yang ada di karya-karya Camus yang lain.
Yeah, memang karyanya yang satu ini terasa begitu murni.)

Dan ketika seseorang merasa jiwanya mati, atau minimal sekaratlah, apa kata Camus lagi?

… Para perempuan belia yang mengawasi segerombolan orang berlibur, terompet para penjaja es krim, etalase-etalase buah, semangka-semangka merah berbiji hitam, anggur-anggur yang tembus cahaya dan lengket — adalah sekian andalan untuk siapapun yang tidak mampu lagi sendirian.*

Dan seruling yang berbunyi melengking halus dari kawanan jangkrik, aroma dari perairan bintang-bintang pada malam-malam bulan September, jalan-jalan setapak yang berbau semerbak di sela-sela tetumbuhan Lentisque dan alang-alang air, merupakan sekian tanda cinta bagi siapapun yang terpaksa sendirian.**

CATATAN:
* Berarti, semua orang
** Berarti, semua orang

Catatan ini menarik.

(Saya ngga tahu catatan itu sebenarnya ditambahkan sama penerbit atau sama Camus sendiri. Tapi saya cenderung mengira itu Camus yang nambahin, karena penerbit akan memberi keterangan kalau itu memang dari penerbit.)

Di situ tesisnya adalah bahwa alam semesta ini, lingkungan sekitar kita ini, diciptakan untuk menemani manusia, semua manusia, karena mereka selalu punya masa-masa merasa sendirian. Padahal mereka tidak mampu sendirian, tetapi kadang-kadang mereka terpaksa sendirian.

Dan ada peribahasa latin berikut ini:

In magnificentia naturae, resurgit spiritus.

Artinya: Di alam yang megah, semangat bangkit lagi.

Jadi kalau kita nggak semangat, look around.

Kita akan menemukan banyak hal yang bersedia menemani kita dan membuat semangat kita bangkit lagi. Dan jiwa kita hidup lagi.

Look around!

3 thoughts on “Mati dalam Jiwa

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s