Pengakuan Rafilus

Rasanya belum pernah saya membaca kehidupan yang begitu lambat seperti dalam Rafilus ini. Semua tokohnya suka bercerita tentang dirinya sendiri dan semua tokohnya juga beranggapan bahwa mereka adalah pendengar setia orang lain.

Semua orang ingin berbicara, dengan detil, ingin memuntahkan pendapat mereka tentang orang lain, ingin membludakkan informasi tentang diri mereka sendiri agar semua orang tahu. Begitulah, tokoh demi tokoh bergantian bercerita (melalui suara tokoh pertama: Tiwar).

Pengarangnya, Budi Darma, memang menyebut novel ini sebagai ‘novel pengakuan’.

… dalam novel ini, para pelaku utama saling mengaku. Sekarang bayangkanlah andaikata kita menjadi pendeta. Begitu sering kita mendengar pengakuan sekian banyak orang yang merasa telah berbuat salah, dosa, atau tindak-tindak kelemahan lain.

Di sepanjang proses membaca, saya memutuskan untuk tidak berpikir terlalu dalam mengenai makna yang hendak disampaikan pengarang. Karena, bak seorang pendeta yang mendengarkan pengakuan, saya cukup mendengarkan saja tanpa perlu menanggapi ataupun menganalisa. Total mendengarkan dengan ketakjuban mengenai betapa kompleksnya manusia. Meski di satu segi, saya juga menyadari betapa sederhananya cara berpikir mereka.

Kata pengarang lagi:

Kehidupan mereka jauh lebih membosankan daripada dugaan kita semula.

Oh ya. Mulai dari Tiwar bertemu Rafilus di sebuah acara undangan khitanan, yaitu di rumah Jumarup. Dinilai dari nama-nama tokohnya, saya pikir pastilah novel ini tidak membosankan. Lalu bagaimana Tiwar melihat bahwa tubuh Rafilus sepertinya tidak terbuat dari tanah, tetapi dari besi yang dilempar gelas saja kepalanya tidak apa-apa, malah gelasnya yang pecah berantakan. Dan bahwa ternyata Jumarup, sang tuan rumah justru tak menampakkan batang hidungnya dan tamu-tamu dengan tidak sopannya dibiarkan sendiri.

Dari situ cerita bergulir tentang manusia besi ini; Rafilus, tentang tokoh kaya; Jumarup, muncul pula tokoh tukang pos; Munandir, tokoh perempuan cerdas; Pawestri, dan lain-lain. Kesemuanya saling bercerita tentang satu sama lain.

Saat membaca satu per satu itulah saya mulai setuju dengan pengarang bahwa kehidupan mereka jauh lebih membosankan dari dugaan saya semula.

Dan ada kalimat pengantar berikut ini oleh pengarang, yang baru saya amini setelah sampai pada akhir cerita.

… bahwa dalam mengaku pun, seseorang mungkin masih munafik.

Jadi pada awalnya saya mempercayai setiap kalimat pengakuan tokoh-tokoh tersebut seperti mempercayai gosip tetangga. Saya lupa bahwa tentu ada kemungkinan unsur munafik di dalamnya, karena mereka cuma manusia. Fakta terungkap di akhir cerita yang membuat saya salut akan kecerdikan pengarang.

Yang menarik juga adalah setidaknya tiga atau empat tokoh dalam novel ini dalam posisi yang sangat ingin mempunyai keturunan, tetapi mereka merasa tak mampu. Sepanjang hidup mereka frustrasi dalam upaya mereka untuk mempunyai anak. Masing-masingnya mempunyai motivasi tersendiri, tetapi saya pikir, barangkali motivasi terbesar mereka adalah mengharapkan kehidupan yang lebih baik melalui anak-anak mereka nantinya, karena kehidupan yang mereka jalani sekarang amat tidak memuaskan.

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang, paling-paling dia hanya akan berkarat.”

Sebagai paragraf pembuka, tentu pembaca sudah maklum akan apa yang akan dihadapi berikutnya. Bahwa ceritanya sungguh abstrak sehingga begitu sulit menggambarkan bagaimana cerita utuh dari novel ini. Saya benar-benar tidak dapat membayangkan, ataupun menceritakan kembali, bentuk nyatanya.

Oleh sebab itu, seperti saya katakan tadi, saya tak hendak memikirkan terlalu dalam makna novel ini, karena bahkan pengarang sendiri di bagian akhir buku mengatakan bahwa:

Dalam proses kreatif, abstraksi dan peristiwa dapat membaur. Dari pembauran terjadilah peristiwa-peristiwa dalam novel….
… “Rafilus telah mati dua kali” adalah abstraksi yang sudah merupakan peristiwa, dan siap menggelinding untuk berangkat dengan peristiwa-peristiwa lain. Apa kelanjutan “Rafilus telah mati dua kali” saya tidak tahu, sebelum kata-kata kelanjutannya selesai dalam sebuah novel….”

Jadi Budi Darma menulis novel ini, dengan melanjutkan kalimat “Rafilus telah mati dua kali” itu tanpa tahu kelanjutannya. Ia menggiring pembaca untuk mengikuti proses pencarian bentuk ceritanya. Dia berhasil. Karena saya mengikutinya terus dengan setia. Sehingga ‘tahu-tahu sebuah novel selesai sudah,’ saya baca.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s