Hidup Seperti Jazz

“Life is a lot like jazz… It’s best when you improvise.”

— George Gershwin

Menyaksikan para musisi jazz beraksi di Java Jazz Festival ke-5 kemarin, membuat saya merenungi beberapa hal tentang hidup. Di keramaian penonton yang menyesaki ruangan saya seakan terasing dalam kesendirian sewaktu mendengar lirihnya denting-denting piano dan misteriusnya cabikan bass, juga hentakan-hentakan halus drum. Mereka bermain pelan dan cepat, halus dan kasar, sepi dan ramai, dan segala kontradiksi yang mungkin.

Hidup juga penuh kontradiksi. Kita tak pernah berwujud dalam satu diksi saja. Selalu ada lawannya.

Hidup juga dinamis, berubah-ubah. Seperti mood yang saya peroleh selama berjam-jam di JCC kemarin. Ada saat-saat rusuh, ada pula saat-saat damai.

Dan improvisasi. Yang paling mendasar dari semua hal yang berhubungan dengan jazz. Tuhan tidak akan mengubah nasib kita kalau kita tidak mengubahnya. Kita senantiasa ada dalam pilihan untuk pasrah dengan apa yang menimpa, atau memilih untuk berimprovisasi.

Charles Mingus dalam otobiografinya berjudul Beneath the Underdog, menyarankan kita untuk berimprovisasi. Dan dalam prosesnya, dia bilang kira-kira seperti ini:

– Jangan takut melakukan kesalahan.
Bermain saja terus. Coba dan jangan pikirkan hasilnya. Karena dalam kesalahan terkandung arah yang membimbing kita menuju kebenaran. Dalam musik, harmonisasi adalah lambang kesempurnaan yang tidak mudah untuk dicapai. Kita berusaha ke arah sana, berusaha dengan keras, tapi kan nggak ada yang sempurna dalam hidup. Kita justru bertugas, sepanjang hidup kita, untuk mencapai kesempurnaan itu. Jadi improvisasi adalah mengambil risiko.

– Kita tidak bermain sendiri.
Barangkali kelihatannya musisi jazz adalah individu-individu yang menonjolkan keunggulannya sendiri. Tapi sebenarnya tak ada yang menarik kalau mereka bermain sendiri. Satu orang bergantung dengan orang lain untuk mencapai keindahan musiknya. Penonton suka adegan sahut-sahutan antar pemain dan mengikuti dialognya. Jadi memang lebih baik kita bekerjasama dengan orang lain daripada sok-sok bermain sendiri melawan yang lain dan malah terlihat konyol.

(Ehm ehm… jadi inget iklan-iklan parpol yang masing-masing menyebut dirinya ‘pahlawan swasembada beras’ tanpa pengakuan bahwa mereka sebenarnya bekerjasama).

– Pelajarilah peraturannya agar bisa melanggarnya.
Ada perbedaan antara orang yang memang tidak tahu peraturan, dengan orang yang tahu dan melanggarnya. Mingus belajar bermain musik di lingkungan ensemble klasik yang sangat berstruktur, kemudian dia belajar komposisi band-band besar di Duke Ellington. Dia mempelajari segala macam peraturan bermain yang ada untuk mengetahui mengapa mereka harus dilanggar.

Dalam dunia politik, misalnya, untuk menggagas sebuah revolusi atau sekadar perubahan, orang harus mendalami segala situasi, undang-undang, ideologi, pemikiran dan filsafat yang berhubungan atau yang ada sebelumnya. Jadi ketika ada tentangan ia bisa menjawab dengan tegak, tegar tanpa tergugah.

– Ada batas dalam kreatifitas.
Mingus bilang bahwa batasan adalah penyebab dan alasan dalam berkreatifitas. Dalam improvisasi di jazz, ada batas waktu untuk setiap pemain, bergiliran, agar tidak kepanjangan dan membuat penonton bosan. Juga ada batasan not, yang meskipun not-nya seperti lari-lari kesana-kemari tapi sebenarnya berada dalam range yang menyesuaikan dengan harmoni.

Dalam hidup, kita punya batasan waktu juga dan batasan sikap, dan barangkali juga batasan budget. Kreatif bukannya tanpa perhitungan.

Dan akhirnya, esensi dari improvisasi adalah mengalirkan ide-ide lalu memilih mana yang bisa dipakai. Kesimpulannya, dalam hidup, kita perlu mengeluarkan segala ide dengan bebas, tanpa takut salah, sambil bekerjasama dengan orang lain, dengan memahami peraturan yang berlaku, dan peduli dengan batasan.

wooh..

One thought on “Hidup Seperti Jazz

  1. Pingback: Hitam Putih Jazz dan Islam | Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s