Hari yang Aneh

Ada beberapa buku yang setelah selesai membacanya membuat saya berpikir dan merasa sesuatu. Tak penting apa saja ‘sesuatu’nya, yang jelas buku-buku semacam ini berhasil mempengaruhi saya.

Orang-Orang Terasing karya Pamusuk Eneste adalah salah satunya.

Sepersis judulnya, isinya adalah lima belas cerpen bertokoh ‘orang-orang yang terasing’.

H. B. Jassin menulis pengantar di buku ini dengan ulasan mengena -walaupun sedikit spoiling-, sebagai berikut:

Orang-orang yang diceritakan dalam kumpulan cerpen ini menimbulkan kesan orang-orang yang aneh dan terasing. Mereka berpikir searah, sepatah dua patah kata dari lawan bicara menjadi bahan untuk berpikir sekitar perkataan itu dan orang yang mengucapkannya.

Atau mereka mengemukakan perkiraan-perkiraan yang tidak diucapkan. Maka terjadilah monolog-monolog berupa penalaran yang ketat searah hingga sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bukan kesimpulan lawan bicara.

Pernahkah anda, ketika bertemu orang lain; bisa jadi teman, keluarga, rekan kerja, atau orang yang baru dikenal, dan anda sibuk bermonolog sendiri mengenai diri lawan bicara padahal bisa jadi hasilnya akan berbeda jika terjadi dialog?!

Tragedi yang dapat diakibatkan monolog tadi adalah minimal jadi menghakimi lawan bicara dengan tidak adil. Dalam cerpen-cerpen Pamusuk Eneste bahkan bisa berujung fatal: pembunuhan.

Ujar H. B. Jassin lagi:

Nampak alam batin orang yang tidak berkomunikasi dengan dunia luar. Peristiwa luar hanyalah penggerak peristiwa-peristiwa di alam batin, alam obsesi yang introvert, yang sibuk menganalisa peristiwa-peristiwa yang barusan dialaminya. Ia membentuk dunianya sendiri yang tidak kongruen dengan dunia sekitarnya.

Sebagai orang yang cenderung introvert, saya jadi tersadar bahwa kejadian-kejadian di kumpulan cerpen ini kongruen dengan alam pikiran saya sendiri.

Saya bisa menciptakan karakter teraneh di dunia di pikiran saya tentang lawan bicara saya. Bagus kalau karakter yang terbentuk kocak sehingga saya bisa terhibur dan tertawa. Tapi seringnya karakternya seram, atau pemarah, atau kejam, yang membuat saya belum apa-apa sudah takut duluan menghadapinya.

Atau kadang karakternya menyebalkan, egois, culas, sombong, sehingga sudah tumbuh saja rasa benci atau tak suka di hati saya.

Dan Sang Paus bertanya,

Manakah dunia yang sebenarnya? Apakah dunia si Aku, ataukah dunia yang masuk ke dalam dunia si aku?

Tak ada yang jelas. Dan bukan tidak mungkin terjadi sebaliknya. Orang-orang yang berhadapan dengan saya pun punya alam pikiran mereka sendiri tentang saya. Bisa jadi mereka pun takut atau benci pada saya.

Dijelaskan lagi dalam pengantar buku ini:

Seringkali kita berhadapan dengan dunia sekitar yang salah paham tentang diri kita. Kita terkepung oleh maslah-masalah yang bukan masalah kita dan kita tak berdaya melawan.

Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan, pikir PAS Band.

Kita melihat orang-orang lain asing, dan mereka pun menganggap kita asing.

We’re all seems so different, but we’re just the same, cetus Jamie Cullum.

Dan kalau kita lebih banyak melihat perbedaan dalam diri manusia yang kita temui daripada persamaan, maka dalam sehari kita akan bertemu dengan banyak sekali orang aneh.

Dan hari kita akan menjadi ‘hari yang aneh’, seperti rekaan Uya Kuya.

Dan simpul H. B. Jassin:

Pada akhirnya, manusia hanya seorang diri di dunia ini.

2 thoughts on “Hari yang Aneh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s