Being a Polychronic Coordinator

Judul yang sulit.

Sesulit penguraiannya. Serumit pencapaiannya.

Jadi, aku punya obsesi utopia ini. Menjadi polychronic coordinator, yaitu pribadi yang bisa mengkoordinasikan banyak pekerjaan sekaligus. Mengalihkan pikiran dan perhatian dari satu hal ke hal lain dengan cepat dan tenang. Dan beres.

Saat ini, dalam hidup, aku punya sedikitnya tiga belas masalah yang harus ditangani. Dan rasanya semuanya tergolong penting dan juga urgent. Kombinasi yang mematikan.

Bagaimana menentukan ini lebih penting dari yang lain… bagaimana memutuskan ini lebih urgent dari yang lain… belum bisa aku jawab.

Sadly, i have this self-destruction pattern. Aku jadi merasa hang, dan jadi stuck. Malah jadi berhenti dan punya kecenderungan melarikan diri. Biasanya, penyakit pasca-stuck ini adalah menyalahkan orang lain, kalau bukan menyalahkan diri sendiri.

My tendency to want to hide away feels easier and
The immediacy is picturing another place comforting to go… but

The only way out is through
The faster we’re in the better
The only way out is through ultimately
The only way out is through
The only way you’ll get better
The only way out is through ultimately

– Alanis

2 thoughts on “Being a Polychronic Coordinator

  1. Ada banyak cara yang dapat digunakan bukan hanya untuk memilah pekerjaan dan atau melaksanakannya sekaligus. Klasifikasi merupakan cara simplifikasi untuk persoalan yang jamak. Kelompokkan berdasarkan diri saja sepertinya akan lebih mudah. Maksudnya, pengelompokannya bukan secara teoritik atau berdasarkan apa yang sudah diketahui secara umum, tapi pengelompokkannya bia didasarkan atas minat atau kesenangan pribadi. Jadi kita tahu mana pekerjaan yang bisa dilakukan bareng dan mana yang memang butuh antri.
    Untuk mempercepat antrean juga ada cara yang bisa digunakan, misalnya pengaitan atau asosiasi. Antar kelompok atau bahkan antara item pekerjaan bisa dikaitkan atau dibentuk kaitannya sehingga di tengah sebuah pekerjaan dilakukan, dapat juga dibarengi atau diselingi dengan pekerjaan lain yang pada saat itu muncul atau kita sadar kaitannya.
    Nah, untuk menyadari kaitannya, sering-sering lakukan kebiasaan klasifikasi dan asoisasi, sehingga berlakunya bisa terjadi secara cepat dan otomatis.

    Salam hormat,

    Rudi Cahyono
    rudolphcahay.blogdrive.com

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s