Mengapa Saya Menulis

George Orwell bilang, ada empat macam dorongan utama yang menggerakkan orang untuk menulis, setidak-tidaknya kalau menulis prosa, yaitu:

1. Kepentingan diri sendiri semata-mata.

Keinginan dianggap pintar, dibicarakan orang sesudah mati, membalas dendam terhadap mereka yang meremehkan kita semasa remaja, dsb. Tetapi ada pula sekelompok kecil orang yang berbakat dan berkemauan keras dan bertekad menjalankan kehidupan mereka sendiri sampai terakhir. (Maksudnya mungkin orang-orang ini menulis ya karena tekad mau menulis! Dan Orwell merasa dia termasuk yang ini).

2. Kegairahan estetika.

Kemauan melihat keindahan di dunia luar, atau dalam kata-kata dan rangkaiannya yang tertentu. Kenikmatan dalam jaringan suatu bunyi dengan bunyi lainnya, dalam kekuatan suatu prosa yang baik atau ritme dari sebuah cerita yang baik.

Keinginan berbagi dengan orang lain atau penghayatan atas pengalaman yang dipandang seseorang bernilai dan tidak patut dibiarkan berlalu begitu saja.

3. Dorongan sejarah.

Keinginan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Mencari fakta yang sesungguhnya, dan menyimpannya untuk kepentingan generasi mendatang.

4. Tujuan politik — “politik” dalam arti seluas-luasnya.

Keinginan mendorong dunia ke suatu arah tertentu, mengubah pandangan orang lain mengenai macam masyarakat yang seharusnya mereka kejar dan bentuk.

George Orwell juga bilang:

“…saya lihat ada kesan seolah-olah jika saya menulis, itu terdorong sepenuhnya oleh keinginan mengabdi pada kepentingan umum. Saya tidak ingin orang mendapat kesan ini.”

“Semua penulis ingin dipuji, mementingkan diri sendiri dan malas, dan di lapis terbawah dorongan-dorongan mereka adalah misteri.”

“Menulis buku adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan dan melelahkan, seperti pergumulan panjang dengan suatu penyakit ganas. Orang jangan sekali-kali terjun ke bidang ini, kalau tidak didorong semacam dorongan setan yang tidak dapat ditolak ataupun dipahami.”

 

Referensi:

George Orwell. “Mengapa Saya Menulis.” Mereka yang Tertindas. Jakarta: YOI, 1990.

One thought on “Mengapa Saya Menulis

  1. Pingback: Gelandangan dan Pengemis, antara London, Jakarta, dan Denpasar | Boneka Ketujuh

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s