Keluarga Rempah

Hihihi…

Itu nama kami, sekumpulan anak bodoh yang menamai diri sendiri dengan jenis-jenis rempah. Ada Jahe, Kayu Manis, Kunyit, dan saya: Temulawak. Yeah, norak sekali memang. Lupa gimana awalnya. Tapi barangkali ini semacam kompensasi karena kami frustrasi untuk tak akan pernah bisa se-sexy Spice Girls hehehe…

Di sini Jahe berperan sebagai ‘ibunya anak-anak’ karena secara alami dia hangat seperti induk ayam. Tapi ada kalanya juga Jahe berperan sebagai ‘ibu mertua yang menyindir menantu yang tidak tahu adat’. Kejam sekali dia pas kayak gini.

Kayu Manis berperan sebagai ‘anak nakal’. Dia suka bertanya-tanya dengan tampang ‘ingin belajar’, tapi begitu dijawab, dia akan mengeluarkan argumen-argumen cerdas untuk menyerang balik si penjawab. Hanya untuk bersenang-senang. Karena anak ini pada dasarnya memang suka ngajak orang berantem.

Kunyit berperan sebagai ‘anak petualang’ yang kerap membuat kami bertiga khawatir akan keselamatannya dan tidak tahu mesti berbuat apa. Paling-paling akhirnya cuma menghela nafas dan bergumam, “Yah… emang begitu sih anaknya….”

Dan saya, Temulawak, berperan sebagai ‘anak manis’ (haha, suka-suka donk, blog-blog aku!). Tapi untuk fair-nya, saya menduga ketiga rekan saya tsb akan melabel saya sebagai ‘anak menyebalkan’. Untuk sering telat, sering lupa, dan kecenderungan konstan untuk berlaku norak, anytime, anywhere.

Ada satu sifat seragam di antara kami (selain bodoh, tentunya), yaitu pedas. Pedas, baik dalam rangka menyatakan kebenaran maupun ‘just for kicks’.

Tapi itu kecuali saya. Saya selalu kurang pedas dibanding mereka. Baik karena saya memang orangnya terlalu baik, atau terlalu penakut.

And i become a kid all the way with these girls. Kidult, barangkali sebutannya. Kami melewati saat-saat sulit maupun gembira bersama. Yah, kadang-kadang masing-masing sok-sok menyimpan kesulitan hidup sendiri. Tapi seringkali akhirnya bocor, curhat-curhat juga.

Dan kami membicarakannya senantiasa dengan sense of humor yang kadang keterlaluan. Dengan kurang ajar meledek dunia yang sedang benar-benar serius.  

Lucu kadang-kadang, kalo dipikir. Dalam hidup ini, ada orang-orang yang kita cuma berpapasan, lalu mereka hilang dan tidak muncul-muncul lagi. Tapi ada juga orang-orang yang entah bagaimana akan mengiringi kita terus. Suka atau tidak. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya.

Yang terakhir ini saya alami dengan Keluarga Rempah. They’re just always be there. Padahal tidak pernah saya rencanakan.

Jadi inget awal tahun baru lalu, ada adegan kami tanpa sengaja sudah mengelilingi Jakarta. Kayu Manis nginep di rumah saya, di Jaksel. Lalu Kunyit datang dari rumahnya di Jakut. Lalu kami bertiga berangkat mengunjungi seorang teman yang sakit di Jakbar. Dari situ, kami mau ke rumah Jahe di Jaksel, dan rutenya melewati Jaktim.

Hehe… cara yang paling berkesan untuk melewati hari pertama tahun baru. Meski besoknya semua merasa badannya lemas tak bertulang.

Well, it’s good to have them. 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s