Independent Women

Tell me how you feel about this
Who would I want if I would wanna live
I worked hard and sacrificed to get what I get
Ladies, it ain’t easy bein’ independent

Pernah di suatu waktu, lirik dari Destiny’s Child ini sangat menginspirasi hidup saya. Waktu itu saya masih kuliah, semester tiga atau empat. Saat-saat saya mulai menyadari bahwa saya sudah menuntut pengorbanan begitu banyak dari orang tua.

Advice dari suhu saya waktu itu, Reza (thanks to him), “Jangan berpikir gimana mengurangi pengeluaran, tapi berpikirlah gimana menambah penghasilan.”

Tentu kata-katanya ini didasarkan pada penampakan saya yang dilihatnya makin hari makin kurus. Nyata-nyata menjalani lagu Project Pop, “Nasib anak kost… kadang cuma makan mie, gimana nggak kurang gizi….”

The shoes on my feet
I’ve bought it
The clothes I’m wearing
I’ve bought it
The rock I’m rockin’
I’ve bought it
‘Cause I depend on me

Lirik ini mengaung-ngaung di kuping saya setiap hari waktu itu. Membakar jiwa sampai ke relung-relungnya. Ingin sekali bisa bilang, “I depend on me!”

If I wanted the watch you’re wearin’
I’ll buy it
The house I live in
I’ve bought it
The car I’m driving
I’ve bought it
I depend on me

Setiap pulang kuliah di panas terik itu, hati saya menyanyikan lagu ini. Gelisah sekali rasanya ingin segera mewujudkannya. Sampai tak lama setelah itu, saya membaca di papan pengumuman kampus, sebuah iklan lowongan pekerjaan untuk mahasiswa. Dan bidangnya tepat adalah bidang saya: Cataloger.

Maka segeralah saya buat surat lamaran sekadarnya, iseng-iseng mendatangi kantor itu di Salemba. Waktu di telpon, katanya saya langsung datang saja untuk naro surat lamaran. Jadi dari Depok, saya naik kereta, berpenampilan tak lebih dari kaos oblong, jeans dan sandal jepit, mengepit map di ketiak, dan sampai di kantor tsb dengan tampang lecek, selecek dokumen-dokumen yang saya bawa.

Kirain cuma naro doank, eh, ternyata saya langsung dipanggil oleh si boss. Kalimat sambutan pertama ibu yang berwajah tegas itu adalah, “Kok baru datang sekarang sih?! Lowongannya kan sudah dipasang dari sebulan yang lalu?!”

Saya bengong. Kok saya jadi merasa bersalah ya.

Maka saya pun diwawancara saat itu juga, dan dites kerja – mengkatalog-. Dan langsung diterima! (tentu saja, karena saya adalah pelamar pertama setelah sebulan lebih kantor tersebut frustrasi menunggu pelamar yang datang). Saya ajak juga teman saya, Kayu Manis, dan kita menjadi partner. Sebenarnya juga bersama beberapa anak lagi yang thanks to all of them for giving me either good and bad times yang sangat berguna bagi saya di kemudian hari.

Begitulah, itu momen-momen terbaik dalam hidup saya, karena itu pertama kalinya saya menyadari ‘kemampuan menghasilkan’ dalam diri saya. Sense of independence. Tapi memang tidak mudah. Sama sekali tidak mudah.

All the women who are independent
Throw your hands up at me!
All the honeys who makin’ money
Throw your hands up at me!
All the mommas who profit dollas
Throw your hands up at me!
All the ladies who truly feel me
Throw your hands up at me!

Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s