Abah, Catur dan Kopi

Abah saya, adalah maniak catur. Yang terparah se-Kabupaten, atau setidaknya yang tergila dari semua orang yang pernah saya temui (dan tanyai).

Lingkup hidup beliau penuh diwarnai oleh hitam putih papan catur. Siang malam. Biasanya ia bersama teman-temannya duduk mengeroyok buah-buah catur di meja di depan kios sepatu kami di pasar. Ini berlangsung kira-kira dari jam sepuluh pagi sampai satu siang saat tiba waktunya pulang.

Malamnya, usai shalat Isya di Masjid, beliau bersama teman-teman (kali ini teman-teman yang berbeda dari yang siang) kembali mengeroyok papan catur di pelataran Masjid. Dari jam delapan malam hingga maksimal jam satu malam.

Pernah selama beberapa waktu Abah selalu bertanding catur di rumah salah satu temannya, juga sampai jam satu malam, sehingga Mamah saya menegur keras. “Bah, apa ndak ganggu orang kalo main catur sampe jam satu malem gitu. Kasian istrinya ndak bisa tidur jadinya. Ndak enak, Bah!”

Abah saya diam saja. Barangkali beliau sedikit menyesal, dan berjanji dalam hati tidak akan melakukannya lagi. Dan benar saja, keesokan harinya, ia tak lagi ke rumah siapa-siapa, tetapi ia MENGUNDANG teman-temannya itu untuk bertanding di rumah. Dan membuat Mamah saya dongkol bukan main.

Cukup dengan catur, ditemani segelas besar kopi hitam setiap hari, membuat hidup Abah saya lengkap dan bahagia. Hingga sekarang saat usianya sudah menginjak enam puluh tiga.

Bukan sekadar penggila, beliau juga meningkatkan statusnya menjadi profesional catur. Abah kini punya jaket merah yang keren, bertuliskan: ATLET. Hehe, yeah… beliau telah mewakili Kabupaten kami (Bangli) berkali-kali pada setiap pekan olah raga se-provinsi. Pialanya berjejer di rumah, yang selama ini membuat Mamah saya alih-alih terkesan, beliau malah semakin dongkol. Karena Abah menjadi semakin giat ‘berlatih’.

Di sebuah buku (rasanya di Men are From Mars, Women are From Venus), dinyatakan bahwa laki-laki memang mempunyai kecenderungan menjadi maniak terhadap sesuatu hobi (misalnya otomotif, komputer, naik gunung, memancing atau pun catur), yang oleh karenanya perempuan sebaiknya tidak usah cemburu. Karena hanya akan makan hati. Penyakit ini sudah sulit disembuhkan.

Tapi tak adil juga ya kalau disebut penyakit, karena main catur kan olah raga otak. Terbukti dengan kesehatan otak Abah saya yang Alhamdulillah terasah tajam hingga sekarang. Ingatannya baik, dan cara berpikirnya pun selalu taktis dan strategis (in a positive way) di setiap kesempatan. Sampai saat ini saya tahu, saya tidak akan pernah coba-coba jadi ‘lawan’ beliau. Pasti kalah deh.

Sebagai tribute terhadap hobi Abah, saya menulis sedikit tentang sejarah catur. Yang thanks to all sudah menyebar luas di berbagai situs di internet ini. Meski tak semuanya mencantumkan nama saya, salah satunya di sini. Aslinya sih saya tulis untuk di sini dan secara resmi dicopy di sini. Dan ada pula versi terjemahan bahasa Inggrisnya di sini.

Tapi tidak apa-apa. Saya akan menulis lagi tentang catur. Untuk abah, dan semua maniak catur di seluruh dunia.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s