The Rose by Any Other Publisher

Membaca novel Umberto Eco ini membutuhkan kesabaran dan pikiran yang jernih untuk memahami pesan yang disampaikan.

Begitu ujar Syafruddin Azhar, seorang bibliophile sejati. Frekuensi beliau ini menghabiskan buku seperti frekuensi saya mengonsumsi mie instant. Ada saja review-review bukunya  di tiap minggu.

Anyway, tentang review bukunya kali ini bukan saya baca dari tabloid atau dari blognya, tapi dari radio RRI. Sudah agak lama sih, beberapa minggu yang lalu. Waktu itu acaranya obrolan tentang terbitan baru dari Bentang Pustaka, yaitu tak lain adalah buku terjemahan The Name of the Rose karya Umberto Eco.

Terbitan baru? ya… baru. Jadi kalau Anda merasa pernah membaca buku berjudul sama (yang juga edisi terjemahan Indonesia) tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya, itu adalah buku yang tidak memiliki hak cipta terjemahan resmi. Sekarang buku itu sudah ditarik dari peredaran.

Bentang adalah penerbit pertama yang punya hak cipta terjemahannya, menurut obrolan yang saya dengar dari radio ini.

Saya terhenyak, dan langsung memeriksa buku saya sendiri yang saya beli beberapa tahun lalu. Yah… memang tak ada tanda copyright-nya.

Juga di acara radio ini, Pak Syafruddin bilang bahwa terjemahan Bentang itu baik sekali. Kalau buku yang dulu itu memang terjemahannya agak kacau, dan rata-rata orang bilang buku itu rumit sekali. Padahal mestinya tidak serumit itu. Terjemahan yang buruklah yang bikin buku itu kayak monster.

Saya ulangi lagi kutipan di atas.

Membaca novel Umberto Eco ini membutuhkan kesabaran dan pikiran yang jernih untuk memahami pesan yang disampaikan.

Waktu itu bulan puasa, usai sahur, ketika saya menyelesaikan buku yang beratnya ampun-ampunan itu (baik fisik maupun isinya). Tepat setahun saya mencicil membacanya. Saya jadi merasa tolol karena sudah bacanya diulang-ulang tiap halaman, tapi kok saya 80%-nya masih nggak mudeng ya?!

Yup, saya menghargai usaha penerjemahannya, dan saya tentu nggak akan lebih baik kalau disuruh menerjemahkan.

Tapi saya sebal sekali sekarang, karena harus (dan sangat harus) beli (lagi!) buku terbitan baru yang tak kalah mahal dibanding buku terbitan-tanpa-copyright yang dulu. Untuk menjajal apakah saya memang setolol itu, atau bisa girang karena akhirnya persentase ketidakmengertian saya berkurang jadi 20% saja. Dan kalau memang begitu, saya jadinya bisa blame it to the translator.

8 thoughts on “The Rose by Any Other Publisher

  1. Terima kasih atas komentar dan pujiannya kepada saya. Jika Anda berkenan, tolong kontak di ponsel saya (0818605859), saya ingin mengirimkan buku saya untuk Anda (gratis). Terima kasih.

    Salam,
    Syafruddin Azhar

    Like

  2. Pingback: Love in the Month of Ramadhan | Boneka Ketujuh

  3. Pingback: Aku, Buku dan Hypnerotomachia « Boneka Ketujuh

  4. Aku baru berani beli dan baca “TNtR” setelah muncul edisi yang diterbitkan Bentang. Aku udah pingin baca edisi yang diterbitkan oleh penerbit sebelumnya itu, tapi waktu lihat ada semacam buku pedoman membaca novel itu, yaitu The Key to TNtR, aku jadi mikir-mikir, berarti rumit banget nih novel sampe perlu ada buku pedoman segala🙂

    Bener banget, butuh kesabaran dan pikiran jernih untuk memahami TNtR. Aku baru baca sekali, sepertinya aku harus membaca ulang supaya lebih paham.

    Like

    1. Dan aku blum baca2 juga yang Bentang… huhu…

      Iya, kalimat-kalimat bahasa Latinnya terjemahannya ada di buku pedomannya, juga keterangan2 tokoh, sejarah, dsb… Jadi ribet banget kalo baca, mesti bawa kedua-duanya… Berat bgt lagi, jadi susah buat dibaca di mana-mana.

      Like

      1. Kata pengantar oleh St. Sunardi untuk edisi Bentang sangat membantu memahami novel ini. Kalaupun ada yang aku kurang sreg dengan novel ini adalah kovernya yang pasaran banget. Coba deh perhatikan kebanyakan novel (asli maupun terjemahan) di Indonesia, rata-rata kovernya adalah foto perempuan. Trus, ngapain juga pake ada gambar bunga mawar segala. Sehingga bagi orang yang belum tahu akan segera menilai ini adalah novel percintaan.

        Beraninya cuma menilai kover yah, hahaha. Aku cuma nggak rela aja kalo buku yang isinya seserius ini diberi kemasan yang cuma untuk memuaskan selera pasar.

        Like

        1. Oh, iya bener2.
          Aku juga bingung kenapa covernya gambar itu. Padahal sedikit banget isinya yg ngomongin tentang perempuan. Mungkin penerbitnya memang mau menjaring orang-orang yang ‘judge a book by it’s cover’ hehe… tertipuu…

          Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s