Sang Penghibur

Karena ini adalah blog kebanyakan, maka saya juga akan mereview lirik-lirik lagu. Kali ini yang menjadi sasaran adalah Padi! yeyy…!

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi kucerna dalam jiwa

Well, since they say so… let’s go on…

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

(Yah, saya juga gak pandai membaca lirik. Lirik lagu sang Penghibur ini saya antara ngerti dan enggak maksudnya. Tapi di situ letak kemenarikannya. Kalo terlalu mudah akan cepat bosen, dan sebaliknya kalo terlalu sulit, jadi jatoh ke ‘meaningless.’ Jadi yah… yang ‘in between’ ini ok buat saya.)

Saya lagi berpikir-pikir, mengapa ‘pemimpi kecil yang berangan merubah nasib’ perlu mengatakan bahwa dia ‘tidak lihai membaca hati’. Hati siapa yang mau dia baca?

Apakah hati orang HRD yang ingin dibaca oleh seorang pelamar kerja?

Atau hati pembeli produk kesehatan yang ingin dibaca seorang sales?

Atau hati masyarakat yang ingin dibaca seorang calon presiden?

Saya agak bingung.

Ngomong-ngomong, Mas Piyu, gimana kalo kata ‘merubah’ diganti ‘mengubah’? ya… cuma inget pelajaran KBI aja sih…

Oh.. bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Harus saya akui refrain ini membuat saya sedikit tergetar waktu pertama kali mendengar nadanya. Waktu itu saya nggak ngeh liriknya, tapi nadanya aja udah cukup berjiwa. Ini lagu buat orang-orang yang frustrasi dan pengen teriak-teriak biar puas. Pengen menghibur diri. Pengen terhibur.

Mungkin sudah satu bulan dan si pelamar kerja belum juga ditelpon lagi.

Mungkin sudah pembeli ke lima puluh yang menolak membeli produk kesehatan yang dibawa sales itu.

Mungkin gosip-gosip yang beredar di TV membuat pamor sang politisi jatuh.

Mereka perlu sang penghibur.

Kugerakkan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus

Masih kucoba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah, penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Jelas pengarangnya nggak terjebak dengan rima. Nggak pusing-pusing memikirkan suku kata yang enak didengar. Dia cuma fokus ke makna (maap-maap aja kalo ada yang kurang setuju, karena saya juga nggak pernah masuk kelas pengkajian puisi). Tapi yang jelas, lirik yang lugas ini terasa jujur.

Oh.. bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya…

Nah, kalo diperhatiin, kali ini dia pake kata “bisa” (melihat bintang). Kalo refrain yang pertama tadi kan “pernah” (melihat bintang). Ini menarik. Hampir nggak ngerti maksudnya. Permainan kecil terhadap kata. Bravo Piyu.

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
Melangkahkan kaki…menuju cahaya

Lelah.. ingin istirahat sebentar.. tapi harus lanjut lagi..

Kalo versi Letto: “Kalau kau ingin berhenti, ingat tuk mulai lagi.”

Hehe, saya selalu suka lirik semacam ini. Memberi excuse buat saya untuk berhenti sejenak setiap saya mau.

(Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)

Dan ini akhirnya. sang Penghibur adalah bintang-bintang di langit malam.

Kesimpulannya, jika Anda adalah pelamar kerja itu, sales itu, politisi itu, majulah terus, jangan pedulikan apa kata orang. Kalau lelah, pulanglah. Beri jeda untuk diri Anda. Lihatlah bintang di langit. Mereka siap menghibur.

PS: Hormat saya buat Fadly yang sudah menyanyikan lagu ini dengan sangat baik. Sampe sekarang saya masih susah untuk tidak fals menyanyikannya. Nada-nadanya aneh sekali. Saya bukan pendengar setia Padi, jadi barangkali itu memang nada-nada khas mereka. Tapi bagaimanapun, lagu ini bagus, buat saya.

2 thoughts on “Sang Penghibur

  1. omygosshh,,
    ini yg lagi aku rasain hari ini,,
    perasaan pengen berhenti berlari,, tp bener kata2 itu,, inget tuk mulai lagi,, gapapa berhenti bentar utk mengumpulkan tenaga yang lebih besar utk lari lbh kencang,,
    so inspiring,, aku suka,, aku jadi bisa ngerasain emosi dan semangat penulis wktu posting artikel ini,,
    bravoo rina.. love ur blog much!!!

    Like

  2. Makasi mba rini apresiasinya…
    seneng sekali aku jadinya…

    btw, blogmu yang satu lagi apa namanya bu? aku nulis comment di blog yang satu itu tapi kayaknya ga bisa diapprove y?

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s