Penulis yang Berperang dengan Nasib

Suatu hari di pertengahan tahun 2007…

I will war, at least in words

And should my chance so happens, indeeds

With all who war… with thought.”

–Lord Byron (Don Juan)

Puisi tersebut mengobarkan semangat saya. Dunia sedang perang sekarang. Dan saya harus berjuang, meski hanya lewat kata-kata. Kita sedang perang, kata Al Gore. Melawan pemanasan global!

Maka dengan semangat angkatan Millenium, pagi itu saya bangkit, menegakkan tubuh, dan bergegas mandi. Saya meneguhkan niat, untuk pergi ke perpustakaan.

Oh, iya, perkenalkan, saya ini bukan lagi mahasiswa. Saya bukan juga pekerja kantoran. Bukan pula pengusaha. Saya adalah penulis. Menulis, adalah pekerjaan saya satu-satunya, selain menggelandang. Jadi saya bisa makan dan pergi kemana-mana hanya dengan mengandalkan honor hasil tulisan.

Saat ini saya ingin dan merasa harus menulis tentang pemanasan global. Tapi masalahnya, otak saya tidak menampung banyak data tentang topik yang satu ini. Memang sering saya dengar tentang pemanasan global. Dan bahwa kita semua harus peduli. Tapi apa ya yang dimaksud dengan pemanasan global? Apa yang panas? Mengapa bisa panas? Dan memangnya kenapa kalau panas?

Tempat pertama yang saya pikir perlu untuk didatangi adalah perpustakaan. Maka berangkatlah saya pagi itu ke perpustakaan mantan kampus saya. Di sana saya menyusuri jalan-jalan kenangan dan menyadari bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa indah. Masa-masa romantis. Masa-masa berharga.

Namun tak lama lamunan saya terputus sesampainya saya di depan gedung perpustakaan itu. Tepatnya di depan meja informasi. Rupanya perpustakaan ini tak lagi ramah. Saya harus membayar Rp. 7000 untuk masuk ke dalamnya.

Dengan sedikit tidak rela saya pun membayar. Bagaimanapun, informasi itu mahal, kawan, terngianglah ucapan seorang dosen saya dahulu.

Maka hari itu saya mengubek-ubek buku demi buku, ensiklopedi demi ensiklopedi, hingga menghasilkan lembar demi lembar referensi tentang pemanasan global. Saya fotokopi semuanya hingga harus merogoh kocek sebanyak hampir Rp. 20.000.

Tapi perpustakaan itu rupanya tidak menyediakan informasi termutakhir. Paling baru adalah sekitar 3-4 tahun yang lalu.

Maka keesokan harinya saya pun memutuskan untuk berselancar di internet. Mencari artikel-artikel koran terakhir tentang pemanasan global, mencari penelitian-penelitian terbaru, dan mengintip blog-blog orang atau LSM yang peduli akan isu lingkungan ini. Yah, memang ada banyak sekali, hingga membutuhkan waktu seharian untuk mendapatkan semua informasinya.

Di hari berikutnya adalah waktunya membaca. Saya menghabiskan 1-2 hari untuk membaca literatur yang saya kopi di perpustakaan. Dan satu hari lagi saya habiskan di rental komputer (karena saya tidak punya fasilitas komputer di rumah) untuk membaca literatur dari internet. Baru kemudian di hari berikutnya saya gunakan untuk mulai menulis.

Tapi tulisannya tak mampu rampung dalam satu hari, hingga saya perlu meneruskan lagi besoknya. Lalu saya diamkan tulisan tersebut selama sekitar tiga hari sementara saya menyibukkan diri dengan hal lain. Barulah kemudian saya baca lagi itu tulisan dan menyuntingnya supaya cantik dan enak dibaca. Maka kelar sudah.

Kalau dihitung-hitung, uang yang saya habiskan adalah sekitar Rp. 70.ooo untuk biaya rental komputer, ongkos, dan makan. Jika dijumlah keseluruhan, total biaya yang saya keluarkan dalam rangka menulis tentang pemanasan global ini adalah Rp. 100.000. Dan waktu yang saya habiskan untuk mengerjakannya adalah sekitar sepuluh hari. Voila! Jadilah empat lembar halaman tulisan tentang pemanasan global karya saya. Saya puas. Saya senang.

Maka saya kirimkanlah tulisan tersebut ke koran lokal, yang kita sebut saja koran Lokal Post. Tak lebih dari seminggu, ketika saya cek di situs web, rupanya tulisan tersebut dimuat oleh Lokal Post. Wah, tak terkira gembiranya saya. Puas karena karya saya diakui dan diterima, dan senang karena tentu akan dapat honor yang akan mengganti modal yang saya keluarkan.

Tunggu punya tunggu, rekening saya masih saja kosong. Minggu demi minggu berlalu hingga teman-teman saya bosan minta traktiran. Sampai akhirnya lima minggu kemudian, tiba-tiba terisilah rekening saya tersebut. Dengan uang berjumlah Rp. 60.000.

Yah, saya bersyukur dengan dimuatnya tulisan saya oleh Lokal Post, karena, pertama, saya dapat menyebarkan informasi yang berguna bagi pembaca, dan kedua, saya mendapat semacam pengakuan sebagai penulis. Soal uang, tak apa-apalah. Saya meyakinkan saja diri saya bahwa mungkin saya akan lebih beruntung lain kali. Tapi, demi memikirkan akan makan apa besok dan dari mana mencari modal untuk menulis lagi berikutnya, tak urung saya menggerutu juga. Jadi beginilah nasib penulis di masa perang. Nasib ya nasib…

3 thoughts on “Penulis yang Berperang dengan Nasib

  1. Yaampun………..Ternyata susah jg ya jd seorang penulis.
    Ak Salut sm penulis.
    Walaupun menghasilkan Rupiah yang sedikit tapi hasil dari tulisannya dapat mempengaruhi orang banyak dengan tulisannya tu.
    Keep on Figting!!!!!!!!!

    Like

  2. Thanks ya H5 semangatnya…

    Iya ni… jadi inget kata-katanya penulis Amerika, Bill Barich:

    Living a writer’s life: “Hard days, lots of work, no money, too much silence. Nobody’s fault. You choose it.”

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s