Pengamen Itu di Indonesian Idol

Oh, saya sangat suka pengamen. Mereka datang menghibur di saat kita bosan berjam-jam di bis yang panas dan sesak dengan debu knalpot.

Tapi saya benci setengah mati dengan orang-orang yang menamai diri pengamen, padahal yang dilakukannya adalah meminta-minta dengan gaya rampok. Mereka mengeluarkan suara-suara yang amat mengganggu dan hanya membuat kita tambah depresi. Sudah begitu, marah-marah pula kalau tidak dikasi uang.

Ngomong-ngomong, saya punya cerita soal pengamen terbaik yang pernah saya temui.

Suatu hari dua tahun yang lalu, saya hendak naik Kopaja dari Cilandak menuju Blok M. Tapi saya sadari kalau saya tidak punya uang kecil, jadi saya harus menukarnya –tapi pasti sulit karena itu pagi-pagi sekali dan uang saya 50 ribuan– atau membeli sesuatu. Maka saya belilah sebuah majalah musik yang kelihatannya bagus, seharga belasan ribu. Saya pikir, lumayanlah buat bacaan di bis.

Begitu naik ke Kopaja, saya buka plastik majalahnya. Eh, rupanya isinya chord semua. Lagu-lagunya sih yang populer saat itu, tapi tidak akan banyak gunanya untuk saya yang tidak bisa main gitar ini. Sedikit bete jadinya, karena sudah beli mahal-mahal.

Tapi kebetean itu lenyap seketika demi mendengar suatu suara laki-laki yang posisinya di belakang saya. Dia menggenjrengkan gitarnya membuat intro, lalu mulailah lantunan lagu paling populer saat itu disajikan dengan suara serak berat yang luar biasa menawan.

“Di daun yang ikut… mengalir lembut…

Terbawa sungai ke… ujung mata…

Dan aku mulai takut… terbawa cinta…

Menghirup rindu yang… sesakkan dada….”

Bagi yang sering mendengar ini versi Noe Letto, jangan berharap akan mirip. Pengamen ini membuat saya membayangkan suara Bill Saragih atau Louis Armstrong waktu muda. Serak-seraknya itu lho… Dan dia melampaui semua standar pengamen yang bagus. Tidak ada yang fals, sudah pasti. Volume pas, tidak terlalu kecil, dan tidak memekakkan telinga juga. Improvisasinya oke –tidak noraklah pokoknya– dan toh karakter khas suaranya saja sudah menjadi improvisasi sendiri.

Sayang, waktu itu dia cuma menyanyi satu lagu. Tapi satu lagu itu cukup membuat saya mengulurkan majalah yang tadi saya beli, untuknya.

Secara fisik, dia tidak jauh beda dengan pengamen-pengamen muda di Jakarta kebanyakan. Lusuh, tidak ada unsur kinclong, dan melengkapi diri dengan asesoris-asesoris berupa gelang dan anting. Dia solo saja waktu itu, hanya dengan gitar.

Sulit melupakan suara itu. Jadi, ketika saya dengar lagi suara itu sebagai salah satu penampilan finalis Indonesian Idol, I knew it! I just knew it. Ada perasaan memang bahwa pengamen seperti dia tidak akan tersia-sia di jalanan.

Anyway, kalau mau vote dia, ketik saja ARIS.

2 thoughts on “Pengamen Itu di Indonesian Idol

  1. setuju.. gw juga dukung Aris kok..
    asal dia tetep rendah hati aj. ga kena penyakit orang tenar yg sok pede & ganti2 pacar.
    ok suksek guys..
    GBU

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s