Insight of Criminal Mind

Bukan barang baru, tentu, kalau ngobrol soal jurnalisme sastrawi.

Truman Capote, wartawan The New Yorker dengan karyanya In Cold Blood sudah mulai sejak tahun 1965. Di situ ia mengisahkan bagaimana detil-detil kejadian pembunuhan sadis terhadap sebuah keluarga petani di Kansas, AS.

Ia mewawancarai para saksi yang terdiri atas para tetangga, teman, dan orang-orang yang bekerja pada keluarga ini, dan siapapun yang mengenal korban. Ia mengikuti kisahnya sejak tragedi dimulai hingga penjahatnya tertangkap lima tahun kemudian. Dari kejadian inilah kemudian Capote dapat menuliskan sebanyak 474 halaman ceritanya (versi terjemahan oleh Penerbit Bentang Pustaka, 2007). Awalnya, karya yang disebut-sebut sebagai “a brilliant insight of criminal mind” ini dimuat bersambung di Harian The New Yorker.

Gaya naratifnya lancar, dengan alur yang kilas balik di beberapa bagian, disertai dialog-dialog yang menjadikannya enak dibaca. Paparannya jelas, dan meski serupa sebuah novel, tapi gaya bahasanya tidak berlebihan. Di saat yang sama ia juga membagi emosi para tokohnya kepada pembaca melalui penegasan karakter dan detil-detil konflik.

Dan yang membuat tulisan Capote ini disebut karya jurnalisme adalah karena keseluruhan bagiannya merupakan fakta. Nama-nama tokoh adalah yang sebenarnya, settingnya asli, dan peristiwanya nyata. Ini adalah salah satu syarat jurnalisme sastrawi yang dikemukakan oleh Andreas Harsono, salah seorang pemrakarsa Majalah Pantau.

Saya berhasil dibuat gelisah dengan kisah penuh suspense ini. Juga penasaran sekaligus under great tention. Sewaktu membaca bagian awal hingga pertengahan halaman, malam itu saya berkali-kali melirik ke jendela kamar saya, mencemaskan kalau-kalau lupa dikunci. Atau melonjak kaget kalau ada suara-suara, mengira ada orang mencongkel pintu.

Karena saking merasuknya tulisan itu, saya jadi lupa kalau pembunuhan itu terjadi amat jauh dari rumah saya, yaitu di sudut pedesaan di benua Amerika, dan sudah lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Ironis bahwa saya tidak ketakutan sedalam itu ketika setiap hari melihat berita kriminal di tv atau koran yang justru terjadi di kelurahan sebelah. Dan di Jakarta ini, tahun ini, bahkan banyak yang lebih sadis dari sekadar pembunuhan sebuah keluarga.

Sayang, di Indonesia rupanya belum banyak media yang menyajikan gaya tulisan panjang model begini. Padahal kalau saya yang punya “criminal mind” ini saja bisa tersentuh begitu rupa, barangkali para “criminal person” di Indonesia juga bisa jadi kepikiran ingin tobat.

Di samping itu, ini juga bisa jadi salah satu cara pemikat untuk mencegah “TV kills the newspaper star.” Iya bukan?

Read online: In Cold Blood

2 thoughts on “Insight of Criminal Mind

  1. Oh iya tentu ada Pantau dan NG. Yang saya tulis, “…belum banyak media yang….”

    Dan sayang ya majalah Pantau nggak terbit lagi.

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s