Lift dan Ruang Baca Itu

Kemarin, saya ke Pernas. Perpustakaan Nasional maksudnya, bagi yang gak tau. Ini kunjungan perdana saya. Sebenarnya agak-agak memalukan demi mengingat saya ini suka mengaku-ngaku pecinta perpustakaan. Cinta sekali.

Tapi yah, better late than never, kan?

Kepergian saya kesana juga ternyata bukan karena saya ingin mencintai perpustakaan nasional, tapi karena saya desperately perlu sebuah ‘buku penting’, yang akan menunjang karier saya. Percayalah, buku ini sangat penting.

Sebelumnya, saya sudah cari kemana-mana dan dia, buku itu, tidak ada di mana-mana.

Saya sudah ke perpustakaan kampus, perpustakaan fakultas, perpustakaan kampus lain, perpustakaan IKJ (yang ini saya ditolak mentah-mentah karena peraturannya di sana harus bawa surat pengantar, for library’s sake!), perpustakaan HB Jassin, bahkan ke taman-taman persewaan komik di kelurahan. Buku itu tanpa jejak.

Akhirnya, suatu hari di awal Minggu ini, saya iseng mencoba-coba kata kunci di katalog online Pernas. Eureka! Judul buku itu ada di sana. Di Pernas. Tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Maka dengan tekad bulat saya berangkat ke perpustakaan nun jauh itu. Saya dari Jakarta Selatan, yang artinya saya harus dua jam penuh duduk di kopaja 20 untuk sampai ke Terminal Senen, dan setengah jam lagi untuk turun di daerah Salemba, di seberang gedung Pernas ini. Lalu dari situ saya harus menggosongkan kulit dengan menyeberang di jembatan terpanjang yang pernah saya lihat di Jakarta. Percaya deh, itu panjang sekali.

Sampai di depan gedung Pernas, saya bengong sejenak. Gedungnya besar-besar dan tampak menjanjikan. Pasti banyak harta karun di sana. Saya menahan nafas dan menghelanya berkali-kali demi mengingat sebentar lagi saya akan pesta pora dengan buku.

Masuk ke lobby, saya merasa seperti masuk ke museum. Langit-langit yang tinggi, dengan monumen besar di bawahnya bertuliskan: Gedung ini diresmikan oleh Presiden… dsb dst. Wow. Megah sekali.

Saya segera mencari papan petunjuk lantai, dan menemukan bahwa koleksi buku ada di lantai 3. Maka dengan PD saya langsung naik lift ke lantai 3. Lift itu sempit luar biasa -untuk ukuran gedung sebesar itu-, dan lambat, dan tampak sudah tua sehingga saya agak deg-degan juga takut tiba-tiba ngadat.

Keluar lift, saya bengong lagi. Pemandangannya bukan buku-buku berjejer, tapi dua orang petugas pintu gerbang yang di dalamnya pastilah berisi koleksi harta karun itu. Saya segera sadar perpustakaan ini closed access, tidak akan ada manusia yang boleh menyentuh buku-buku di rak langsung kecuali pustakawan.

Dengan senyum, saya mendekati dua orang penjaga pintu surga dan bertanya, “Kalo mo minjem buku?”

“Ke lantai 2 Mba,” jawab mereka kompak.

“Oh, eng, kalau saya hafal nomor panggilnya?”

“Iya, tetap harus ke lantai 2 dulu Mba, peraturannya begitu. Nanti tanya petugas di sana,” jawab mereka konsisten. Tak tergoyahkan.

Dengan bersungut-sungut saya pun kembali menunggu lift. Saya misuh-misuh, karena saya bahkan juga sudah hafal apa judul bukunya, pengarangnya, penerbitnya, tahun terbitnya, dan perkiraan jumlah halaman! Cuma satu yang saya tidak tahu, yaitu gambar sampul buku itu. Sekarang saya cuma perlu selembar kertas formulir peminjaman buku!

Di lantai 2, seperti yang saya duga, sebenarnya cuma ada formulir itu -yang tidak tersedia di lantai 3-. Saya ambil selembar formulir dengan rakus, menulis tetek-bengeknya, dan kembali ke atas. Dengan naik lift sempit dan mendebarkan.

Di atas, saya serahkan itu kertas, lalu saya harus menunggu sementara bukunya dicari. Ruang tunggunya merangkap ruang baca. Dan di ruang baca itu tidak ada apa-apa yang bisa dibaca kecuali sederetan ensiklopedi kadaluarsa. Jadilah saya cuma menonton orang-orang yang membaca, menonton orang-oang main laptop, menonton pustakawan yang hilir mudik.

20 menit kemudian ada petugas masuk membawa tumpukan buku. Nah, saya pikir, pasti salah satunya buku saya. Nama demi nama dipanggil -persis seperti antrian di dokter gigi-, tapi tak satu pun nama saya.

20 menit berikutnya, kejadian berulang. Karena penasaran, saya dekati saja petugas yang memanggil itu.

“Mba siapa?” tanyanya dari balik kacamata yang bertengger di hidung.

Saya pun menyebut nama.

“Sudah dipanggil namanya?”

“Belum.”

“Ya belum berarti Mba, gimana sih…,” dia ngedumel. Saya dongkol. Saya terpaksa kembali duduk dan menonton pemandangan membosankan di ruang baca itu.

20 menit kemudian, datang lagi petugas yang lain. Akhirnya nama saya dipanggil. Itu pun di urutan paling akhir. Dengan sumringah saya mendekat. Detik-detik yang nantikan selama ini. Melihat gambar sampul buku idaman saya.

“Bukunya nggak ada Mba.”

Saya bengong, “Lagi dipinjem apa gimana, Mas?”

“Yah, pokoknya untuk sementara ini tidak ada,” itu artinys, entah dipinjem, entah ilang, entah nggak ketemu aja nyarinya. Atau entah memang nasib Mba sial aja.

Yah, saya sial, dan saya lelah. Saya bosan kalau harus mengulangi prosesi yang sama: naik lift ke lantai 2 hanya untuk mengambil kertas formulir lain, lalu naik lift lagi dan duduk di lantai 3 menunggu nama saya dipanggil.

Jadi saya keluar, dan pulang saja. Sempat foto-foto sedikit di lobby buat kenang-kenangan ‘i was here‘.

2 thoughts on “Lift dan Ruang Baca Itu

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s