Boneka Ketujuh

Maret 17, 2009

Mati dalam Jiwa

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, — bonekarusia @ 2:19 pm

Lagi baca ulang untuk kesekian kali Mati dalam Jiwa-nya Albert Camus. Cuma buat menenangkan diri karena orang-orang lain mengalami hal-hal yang lebih aneh dan lebih tidak nyaman daripada saya.

Dia bilang begini:

Aku semakin takut sakit, di sini, di lingkungan orang-orang yang siap tertawa ini. Namun aku merasa lebih takut lagi kalau sendirian di kamar hotel, tanpa uang, tanpa semangat, hanya dengan diri sendiri dan pikiran-pikiran yang mengenaskan.
Masih di hari ini dengan kikuk, aku bertanya pada diri sendiri: bagaimana kalau aku yang liar dan pengecut ini keluar saja dari keakuan. Dan ternyata aku benar-benar tidak sanggup untuk lebih lama lagi berhadapan dengan diri sendiri…

Ha!

Seberapa banyak orang di dunia yang tidak tahan berhadpaan sama dirinya sendiri?
Seberapa sering orang mengalaminya dalam sebulan?

Takut sakit, terganggu dengan pikiran orang lain tentang kita, tanpa uang, tanpa semangat, pengecut, keakuan… God! Manusia penuh dengan keburukan.

(Fakta bahwa dia menulis ini di usia 22 tahun menurut saya cukup luar biasa. Ini adalah waktu ketika orang baru mulai belajar menulis –seperti juga diakui Camus sendiri–. Tapi seorang cendekiawan, Brice Parain, menganggap ini adalah hal terbaik yang pernah dia tulis. Karena ada cinta sejati di dalamnya yang lebih besar porsinya dari yang ada di karya-karya Camus yang lain.
Yeah, memang karyanya yang satu ini terasa begitu murni.)

Dan ketika seseorang merasa jiwanya mati, atau minimal sekaratlah, apa kata Camus lagi?

… Para perempuan belia yang mengawasi segerombolan orang berlibur, terompet para penjaja es krim, etalase-etalase buah, semangka-semangka merah berbiji hitam, anggur-anggur yang tembus cahaya dan lengket — adalah sekian andalan untuk siapapun yang tidak mampu lagi sendirian.*

Dan seruling yang berbunyi melengking halus dari kawanan jangkrik, aroma dari perairan bintang-bintang pada malam-malam bulan September, jalan-jalan setapak yang berbau semerbak di sela-sela tetumbuhan Lentisque dan alang-alang air, merupakan sekian tanda cinta bagi siapapun yang terpaksa sendirian.**

CATATAN:
* Berarti, semua orang
** Berarti, semua orang

Catatan ini menarik.

(Saya ngga tahu catatan itu sebenarnya ditambahkan sama penerbit atau sama Camus sendiri. Tapi saya cenderung mengira itu Camus yang nambahin, karena penerbit akan memberi keterangan kalau itu memang dari penerbit.)

Di situ tesisnya adalah bahwa alam semesta ini, lingkungan sekitar kita ini, diciptakan untuk menemani manusia, semua manusia, karena mereka selalu punya masa-masa merasa sendirian. Padahal mereka tidak mampu sendirian, tetapi kadang-kadang mereka terpaksa sendirian.

Dan ada peribahasa latin berikut ini:

In magnificentia naturae, resurgit spiritus.

Artinya: Di alam yang megah, semangat bangkit lagi.

Jadi kalau kita nggak semangat, look around.

Kita akan menemukan banyak hal yang bersedia menemani kita dan membuat semangat kita bangkit lagi. Dan jiwa kita hidup lagi.

Look around!

Maret 16, 2009

Pengakuan Rafilus

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, — bonekarusia @ 3:28 pm

Rasanya belum pernah saya membaca kehidupan yang begitu lambat seperti dalam Rafilus ini. Semua tokohnya suka bercerita tentang dirinya sendiri dan semua tokohnya juga beranggapan bahwa mereka adalah pendengar setia orang lain.

Semua orang ingin berbicara, dengan detil, ingin memuntahkan pendapat mereka tentang orang lain, ingin membludakkan informasi tentang diri mereka sendiri agar semua orang tahu. Begitulah, tokoh demi tokoh bergantian bercerita (melalui suara tokoh pertama: Tiwar).

Pengarangnya, Budi Darma, memang menyebut novel ini sebagai ‘novel pengakuan’.

… dalam novel ini, para pelaku utama saling mengaku. Sekarang bayangkanlah andaikata kita menjadi pendeta. Begitu sering kita mendengar pengakuan sekian banyak orang yang merasa telah berbuat salah, dosa, atau tindak-tindak kelemahan lain.

Di sepanjang proses membaca, saya memutuskan untuk tidak berpikir terlalu dalam mengenai makna yang hendak disampaikan pengarang. Karena, bak seorang pendeta yang mendengarkan pengakuan, saya cukup mendengarkan saja tanpa perlu menanggapi ataupun menganalisa. Total mendengarkan dengan ketakjuban mengenai betapa kompleksnya manusia. Meski di satu segi, saya juga menyadari betapa sederhananya cara berpikir mereka.

Kata pengarang lagi:

Kehidupan mereka jauh lebih membosankan daripada dugaan kita semula.

Oh ya. Mulai dari Tiwar bertemu Rafilus di sebuah acara undangan khitanan, yaitu di rumah Jumarup. Dinilai dari nama-nama tokohnya, saya pikir pastilah novel ini tidak membosankan. Lalu bagaimana Tiwar melihat bahwa tubuh Rafilus sepertinya tidak terbuat dari tanah, tetapi dari besi yang dilempar gelas saja kepalanya tidak apa-apa, malah gelasnya yang pecah berantakan. Dan bahwa ternyata Jumarup, sang tuan rumah justru tak menampakkan batang hidungnya dan tamu-tamu dengan tidak sopannya dibiarkan sendiri.

Dari situ cerita bergulir tentang manusia besi ini; Rafilus, tentang tokoh kaya; Jumarup, muncul pula tokoh tukang pos; Munandir, tokoh perempuan cerdas; Pawestri, dan lain-lain. Kesemuanya saling bercerita tentang satu sama lain.

Saat membaca satu per satu itulah saya mulai setuju dengan pengarang bahwa kehidupan mereka jauh lebih membosankan dari dugaan saya semula.

Dan ada kalimat pengantar berikut ini oleh pengarang, yang baru saya amini setelah sampai pada akhir cerita.

… bahwa dalam mengaku pun, seseorang mungkin masih munafik.

Jadi pada awalnya saya mempercayai setiap kalimat pengakuan tokoh-tokoh tersebut seperti mempercayai gosip tetangga. Saya lupa bahwa tentu ada kemungkinan unsur munafik di dalamnya, karena mereka cuma manusia. Fakta terungkap di akhir cerita yang membuat saya salut akan kecerdikan pengarang.

Yang menarik juga adalah setidaknya tiga atau empat tokoh dalam novel ini dalam posisi yang sangat ingin mempunyai keturunan, tetapi mereka merasa tak mampu. Sepanjang hidup mereka frustrasi dalam upaya mereka untuk mempunyai anak. Masing-masingnya mempunyai motivasi tersendiri, tetapi saya pikir, barangkali motivasi terbesar mereka adalah mengharapkan kehidupan yang lebih baik melalui anak-anak mereka nantinya, karena kehidupan yang mereka jalani sekarang amat tidak memuaskan.

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang, paling-paling dia hanya akan berkarat.”

Sebagai paragraf pembuka, tentu pembaca sudah maklum akan apa yang akan dihadapi berikutnya. Bahwa ceritanya sungguh abstrak sehingga begitu sulit menggambarkan bagaimana cerita utuh dari novel ini. Saya benar-benar tidak dapat membayangkan, ataupun menceritakan kembali, bentuk nyatanya.

Oleh sebab itu, seperti saya katakan tadi, saya tak hendak memikirkan terlalu dalam makna novel ini, karena bahkan pengarang sendiri di bagian akhir buku mengatakan bahwa:

Dalam proses kreatif, abstraksi dan peristiwa dapat membaur. Dari pembauran terjadilah peristiwa-peristiwa dalam novel….
… “Rafilus telah mati dua kali” adalah abstraksi yang sudah merupakan peristiwa, dan siap menggelinding untuk berangkat dengan peristiwa-peristiwa lain. Apa kelanjutan “Rafilus telah mati dua kali” saya tidak tahu, sebelum kata-kata kelanjutannya selesai dalam sebuah novel….”

Jadi Budi Darma menulis novel ini, dengan melanjutkan kalimat “Rafilus telah mati dua kali” itu tanpa tahu kelanjutannya. Ia menggiring pembaca untuk mengikuti proses pencarian bentuk ceritanya. Dia berhasil. Karena saya mengikutinya terus dengan setia. Sehingga ‘tahu-tahu sebuah novel selesai sudah,’ saya baca.

Desember 21, 2008

Hari yang Aneh

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — bonekarusia @ 2:05 pm

Ada beberapa buku yang setelah selesai membacanya membuat saya berpikir dan merasa sesuatu. Tak penting apa saja ’sesuatu’nya, yang jelas buku-buku semacam ini berhasil mempengaruhi saya.

Orang-Orang Terasing karya Pamusuk Eneste adalah salah satunya.

Sepersis judulnya, isinya adalah lima belas cerpen bertokoh ‘orang-orang yang terasing’.

H. B. Jassin menulis pengantar di buku ini dengan ulasan mengena -walaupun sedikit spoiling-, sebagai berikut:

Orang-orang yang diceritakan dalam kumpulan cerpen ini menimbulkan kesan orang-orang yang aneh dan terasing. Mereka berpikir searah, sepatah dua patah kata dari lawan bicara menjadi bahan untuk berpikir sekitar perkataan itu dan orang yang mengucapkannya.

Atau mereka mengemukakan perkiraan-perkiraan yang tidak diucapkan. Maka terjadilah monolog-monolog berupa penalaran yang ketat searah hingga sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bukan kesimpulan lawan bicara.

Pernahkah anda, ketika bertemu orang lain; bisa jadi teman, keluarga, rekan kerja, atau orang yang baru dikenal, dan anda sibuk bermonolog sendiri mengenai diri lawan bicara padahal bisa jadi hasilnya akan berbeda jika terjadi dialog?!

Tragedi yang dapat diakibatkan monolog tadi adalah minimal jadi menghakimi lawan bicara dengan tidak adil. Dalam cerpen-cerpen Pamusuk Eneste bahkan bisa berujung fatal: pembunuhan.

Ujar H. B. Jassin lagi:

Nampak alam batin orang yang tidak berkomunikasi dengan dunia luar. Peristiwa luar hanyalah penggerak peristiwa-peristiwa di alam batin, alam obsesi yang introvert, yang sibuk menganalisa peristiwa-peristiwa yang barusan dialaminya. Ia membentuk dunianya sendiri yang tidak kongruen dengan dunia sekitarnya.

Sebagai orang yang cenderung introvert, saya jadi tersadar bahwa kejadian-kejadian di kumpulan cerpen ini kongruen dengan alam pikiran saya sendiri.

Saya bisa menciptakan karakter teraneh di dunia di pikiran saya tentang lawan bicara saya. Bagus kalau karakter yang terbentuk kocak sehingga saya bisa terhibur dan tertawa. Tapi seringnya karakternya seram, atau pemarah, atau kejam, yang membuat saya belum apa-apa sudah takut duluan menghadapinya.

Atau kadang karakternya menyebalkan, egois, culas, sombong, sehingga sudah tumbuh saja rasa benci atau tak suka di hati saya.

Dan Sang Paus bertanya,

Manakah dunia yang sebenarnya? Apakah dunia si Aku, ataukah dunia yang masuk ke dalam dunia si aku?

Tak ada yang jelas. Dan bukan tidak mungkin terjadi sebaliknya. Orang-orang yang berhadapan dengan saya pun punya alam pikiran mereka sendiri tentang saya. Bisa jadi mereka pun takut atau benci pada saya.

Dijelaskan lagi dalam pengantar buku ini:

Seringkali kita berhadapan dengan dunia sekitar yang salah paham tentang diri kita. Kita terkepung oleh maslah-masalah yang bukan masalah kita dan kita tak berdaya melawan.

Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan, pikir PAS Band.

Kita melihat orang-orang lain asing, dan mereka pun menganggap kita asing.

We’re all seems so different, but we’re just the same, cetus Jamie Cullum.

Dan kalau kita lebih banyak melihat perbedaan dalam diri manusia yang kita temui daripada persamaan, maka dalam sehari kita akan bertemu dengan banyak sekali orang aneh.

Dan hari kita akan menjadi ‘hari yang aneh’, seperti rekaan Uya Kuya.

Dan simpul H. B. Jassin:

Pada akhirnya, manusia hanya seorang diri di dunia ini.

Blog pada WordPress.com.