Boneka Ketujuh

Juni 12, 2009

A Slogan is Not a Policy

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag: — bonekarusia @ 11:16 am

Tak lama lagi kita akan menghadapi lagi pemilu presiden.

Setelah gonjang-ganjing pemilu legislatif yang lalu, kini saatnya bulan tenang bagi rakyat. Setidaknya kepala tak pusing lagi menoleh sana-sini di jalan menimbang-nimbang slogan caleg mana yang paling bijak, atau muka siapa yang paling menjanjikan.

Bagi para elite politik, sebaliknya, tentu ini adalah bulan sibuk. Memikirkan koalisi, kebijakan, program, harapan, dan slogan. Semuanya harus siap ditampilkan kepada rakyat sebelum pemilu presiden.

Untuk mengantisipasi kampanye mereka nanti, ada baiknya bagi kita, rakyat, untuk memahami ini:

A slogan is not a policy.
A wish is not a program.

Jadi janganlah kita memilih berdasarkan slogan-slogan, tetapi lihat lebih dalam apa kebijakan yang dijanjikan oleh para calon pemerintah ini.

Jangan pula kita segera menganggap harapan-harapan, doa-doa, dan keinginan-keinginan yang dilontarkan pada masa kampanye sebagai tindakan yang benar-benar akan mereka laksanakan. Tanyakan atau perhatikan detil program real mereka.

Menciptakan slogan-slogan kreatif dan mempraktekkan kebijakan adalah dua hal yang berbeda.

Januari 19, 2009

Saya Tak Akan Pernah Menyerah!

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, — bonekarusia @ 5:48 pm

“Seperti suami saya, seperti Munir, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus menuntut siapa pun yang terlibat dalam permufakatan jahat tersebut.”

Sepenggal kalimat itu ditulis Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib, dalam suratnya untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 September 2006—tepat dua tahun wafatnya Munir. Kalimat yang semakin meneguhkan ucapan Munir, “Keberanian saya tak sebanding dengan keberanian istri saya.”

Semua orang akhirnya menyadari ucapan Munir. Suciwati punya keberanian yang lebih besar dibanding suaminya. “Sejak awal saya juga tahu hanya akan menghadapi kegelapan. Tapi apakah saya harus diam saja? Tidak!” ujar Suciwati saat wawancara khusus dengan SINDO, akhir Desember lalu. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda memaknai perjuangan melawan institusi yang begitu kuat?

Apa yang sudah saya lakukan, kalau di tataran hukum baru langkah awal. Sejak awal saya melihat pembunuhan terhadap Munir itu konspiratif. Kalau sampai kini perjalanan kasus masih di Muchdi (Muchdi Purwoprandjono), ini baru awal. Justru kita mulai mencoba masuk di jaring laba-laba Badan Intelijen Negara (BIN).

Begitu rumitnya untuk bisa kita pecahkan. Kejahatannya ya ada di sana. Kita membutuhkan Badan Intelijen Negara yang profesional, diberi dasar hukum yang kuat. Yang penting dalam hal ini adalah segera mereformasi BIN. Selama ini, dalam banyak kasus, BIN tidak berfungsi baik. Padahal lembaga itu ujung tombak keamanan negara kita.

Yang Anda lawan bukan personal, melainkan sistem dan institusi yang kuat. Bagaimana Anda berusaha mendobraknya?

Kalau kita mencintai negara ini, maka salah satunya adalah mereformasi BIN yang belum memiliki dasar hukum yang kuat. Kalau kemudian ada penyalahgunaan, itu karena tidak ada dasar hukumnya.

Makanya harus diatur dulu lewat undang-undang. Yang salah kan di situ. Bukan BIN-nya, tetapi negaranya. Di mana pemerintah memberikan ruang kosong yang sangat luas untuk terjadinya penafsiran apa pun yang mereka (BIN) mau.

Sampai kapan Anda akan menyuarakan ini?

Saya manusia biasa, tapi saya terbiasa menjaga harapan. Sebuah harapan yang selama ini dicita-citakan almarhum Munir. Mempunyai negara yang demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Harapan saya sederhana, menginginkan anak cucu saya hidup di sebuah negara yang kepahitan-kepahitan kemarin tidak dijalani lagi.

Anda bisa menjaga semangat itu hingga empat tahun sampai sekarang?

Banyak cermin yang bisa saya jadikan semangat untuk kemudian melangkah sampai hari ini. Korban peristiwa 1965 (G30S) misalnya, bagaimana mereka begitu luar biasa. Mereka sudah distigmatisasi, mereka tidak mendapatkan kesempatan dan hak untuk berpolitik, mereka dimiskinkan, semuanya ditutup.

Sampai hari ini, terhadap korban-korban pelanggaran HAM itu tidak ada satu pun pengakuan dari negara, pemerintah terutama. Ini bukan persoalan memaafkan, tapi persoalan ke depan, jangan sampai hal ini terjadi lagi.

Apakah Anda merasa saat ini ada sebagian masyarakat yang mencoba menyandarkan harapannya ke Anda? Misalnya kasus Tanjung Priok,Talangsari yang hingga saat ini belum terungkap?

Saya pikir bagus kalau semua korban melakukan apa yang seperti saya lakukan. Apa yang selama ini sudah kita lakukan artinya akan membuat banyak orang terinspirasi.

Itu juga bisa menyemangati Anda?

Tentu saja, itu hal yang membuat saya merasa bahwa kalian adalah bagian dari hidup saya. Begitu juga sebaliknya, saya bagian dari kalian. Itu harus dilakukan karena selama ini yang menghegemoni kita adalah rasa takut.

Kita semua diinspirasi oleh almarhum (Munir), bahwa justru ketakutan itulah yang harus kita lawan. Karena rasa takut itu membuat kita kehilangan rasionalitas, intelektualitas, dan sering kali justru membuat kejahatan baru.

Figur Munir di mata Anda seperti apa?

Yang pasti, dia orang tercinta. Sangat konsisten tidak hanya di perkataan, tapi juga perbuatan. Sedikit sekali orang yang seperti itu.

Dulu banyak orang bilang Munir terlalu berani. Artinya dia berani mengkritik sistem yang besar dan sulit diruntuhkan?

Ya, karena kita yakin hidup mati manusia itu Tuhan yang menentukan. Meski kita dijaga satu peleton tentara, kalau Tuhan mengatakan kamu mati hari ini, maka mati. Sama halnya ketika dia melakukan advokasi kepada beberapa orang, ada yang bilang, ”Berani banget tuh orang.” Padahal, risikonya sama dengan orang yang tidak melakukan apa pun. Karena nyawa urusan Tuhan.

Ada konspirasi di balik kasus kematian Munir?

Itu logikanya. Apalagi ini intelijen yang melakukan, bagaimana mungkin kita bisa membongkarnya. Secara institusi bisa saja mereka tidak mau mengungkapkan karena mereka menganggap yang diperangi selama ini adalah institusinya. Padahal tidak, kita justru ingin menyelamatkan institusinya. Membuang borok-boroknya.

Anda sedang melawan benteng yang sangat tebal? Bagaimana bisa bertahan?

Cul-de-sac (buntu). Ya, saya pikir semangatnya sama. Sejak awal saya juga tahu hanya kegelapan yang akan saya temui. Tapi apakah saya harus diam saja? Tidak. Sekecil apa pun saya harus melakukan sesuatu. Ini harus terus- menerus kita suarakan. Kalau mau berubah, harus terus bicara.

Sumber: Koran Sindo, 9 Januari 2009

Mei 14, 2008

Today’s Dialogue

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag: — bonekarusia @ 3:14 pm

 

Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan, berlari-lari tuk wujudkan kenyataan, lewati segala keterasingan, lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan

Ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian, digerayangi dan geliati kesepian, walaupun sejenak lepas dari beban, tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam

Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan, memaksa kita, memendam kepedihan…

Tapi kita juga pernah duduk bermahkota, pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata, dicumbui harumnya putik-putik bunga, putik impian yang membawa kita lupa

Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan, memaksa kita, merubah jadi tawa…

(Watching Metro tv last night, where all that Great Men made the show: Amien Rais, BJ Habibie, Jusuf Kalla, Kwik Kian Gie, Hendropriyono)

Blog pada WordPress.com.