Boneka Ketujuh

Januari 10, 2009

Dan Perangmu pun Usai

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag: — bonekarusia @ 5:37 pm

Pertama kali saya tahu bahwa menulis itu bisa jadi profesi adalah dari Pak Ismail Marahimin. Dan pertama kali saya tahu bahwa menulis itu perlu aturan-aturan, strategi, tips, trik, seni, kesungguhan dan ketekunan, adalah dari kuliah Penulisan Populer (Penpop) yang diajar oleh beliau.

Penpop ini mata kuliah legendaris dengan dosen yang luar biasa, begitu kira-kira yang saya dengar dari teman saya ketika kami sedang menimbang-nimbang pilihan mata kuliah untuk memasuki semester lima di FIB-UI.

Penpop terdaftar sebagai mata kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, namun terbuka juga beberapa kelas untuk siswa-siswa jurusan lain, bahkan fakultas lain.

Katanya nanti isi kuliahnya adalah menulis satu tulisan setiap minggu dan katanya nanti tulisan kita akan “ditelanjangi” satu per satu oleh Sang Dosen yang luar biasa itu. Di depan seisi kelas!

Berani terima tantangan?

Tak pikir panjang saya dan teman saya yang berbakat sebagai informan itu pun mendaftarkan diri ikut kelas menulis itu. Saya bersyukur karena waktu itu saya memilih untuk berani. Karena ini sangat menentukan jalan hidup saya selanjutnya.

Maka itulah dia Sang Dosen. Stelannya sederhana, selalu sederhana. Baju kaos lengan pendek berkerah, topi sporty, celana bahan warna gelap yang agak mengatung sedikit, dan sepatu sandal kulit.

ismail-marahimin

Ia dengan kacamata yang bertengger di hidung selalu tampak santai dan menikmati pekerjaannya. Karena kerap berekspresis serius, kita jadi tak mudah mengantisipasi cetusan kelakarnya.

Misalnya tiba-tiba dia berteriak, “Merdeka!” ketika memasuki kelas.

Gayanya itu salah satu hal yang membuat saya nyaman berada di kelasnya.

Ya, kami diminta menghasilkan tulisan tiap minggu. Itu pertama kalinya saya tahu bahwa point penting untuk menjadi seorang penulis adalah disiplin.

Dalam usaha memenuhi ‘deadline’ tersebut, banyak rintangannya. Tulisan saya kadang cermerlang kadang payah. Untuk yang cemerlang ini, Pak Ismail akan memberi titik tiga (semacam nilai A), yang kemudian membuat kepercayaan diri saya meningkat. Untuk yang payah, tentu membuat saya merasa dipermalukan karena Bapak Dosen yang satu ini tak ragu-ragu mencerca karya tersebut, seberapapun usaha keras yang telah saya lakukan untuk menyelesaikannya.

Di akhir sesi kuliah, ada pernyataan menggembirakan untuk saya dari Pak Ismail. Beliau bilang, saya ini punya gift. Saya harus terus menulis karena saya berbakat. Lalu saya mendapat nilai A dan senang sekali rasanya.

Dengan semangat, saya teruskan lagi sekuelnya, Penpop II. Kalau yang pertama sesi penulisan fiksi, maka yang ini sesi penulisan artikel, ficer, dan semacamnya. Banjiran kritik saya peroleh semester itu, tapi pada akhirnya nilai saya sekali lagi A. Pesan terakhir beliau pun, “Teruslah menulis.”

Setelah lulus, beberapa kali saya berpapasan dengan Pak Ismail di koridor kampus. Kata sapaannya selalu, “Hey, Anda yang penulis itu kan? Apa kabar? Nggak pulang ke Bali?”

Menyenangkan bahwa beliau masih ingat saya, di antara murid-murid beliau yang banyak. Di situ saya disadarkan bahwa saya adalah penulis, dan yang dikerjakan seorang penulis mestinya adalah menulis! Betapa sia-sianya hidup seorang penulis kalau dia tidak menulis…

Pemahaman itu menggugah saya berkali-kali di kehidupan saya selanjutnya sampai sekarang.

Belakangan saya tahu bahwa itulah cara beliau –yang amat bijaksana– untuk memotivasi anak-anak didiknya agar terus bersemangat menulis.

Helvy Tiana Rosa menulis:

Usai mata kuliah ini berlalu, saya tak mengerti, mengapa setiap kali bertemu di koridor fakultas, ia selalu mengacungkan dua jempolnya pada saya.

Kenapa?

“Mengingatkan Anda untuk terus menulis karena Anda sangat berbakat!”

Lima tahun kemudian, saat buku pertama saya terbit, Pak Marahiminlah yang memberi kata pengantar. “Tentu saja saya selalu ingat pada Anda. Tulisan Anda benar-benar bagus. Ya, sejak dulu saya sudah melihat, Anda sangat berbakat! Jadi jangan berhenti, Helvy!”

Indra J. Piliang mengenang:

Bantuan paling signifikan datang dari mata kuliah Penulisan Populer yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris FSUI. Pengajarnya adalah sastrawan Ismail Marahimin. Metode pengajarannya unik, yakni para mahasiswa harus menulis satu per minggu yang akan dipresentasikan dan “dibantai” dalam jam-jam pelajaran yang membuat bulu kuduk merinding. Banyak mahasiswa yang hilang di tengah jalan waktu itu, karena takut “dikerjai” oleh sang dosen.

Tetapi, satu hal yang disampaikan oleh Pak Ismail kala itu masih saya ingat. “Kalau anda lulus mata kuliah ini, itulah modal hidup anda!”

Ada rasa kehilangan yang begitu besar ketika akhir Desember lalu saya mendengar berita bahwa Pak Ismail telah tiada.

Dan perangmu pun usai, Pak… Selamat jalan…

and-the-war-is-over

November 30, 2008

Menulis Menyehatkan Jiwa Raga

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag: — bonekarusia @ 11:36 am

Apa hubungan antara menulis dan kesehatan? Tahun 1990-an, Dr. James W. Pennebaker melakukan penelitian selama 15 tahun tentang pengaruh membuka diri terhadap kesehatan fisik.

Hasil penelitian tersebut, ia tulis dalam buku Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions, bahwa menulis menjernihkan pikiran, menulis mengatasi trauma, menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, menulis membantu memecahkan masalah, dan menulis-bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.

Fatima Mernissi berpendapat bahwa menulis menyehatkan, bahkan membuat awet muda. Menurutnya, jika kita setiap hari menulis, maka kulit kita menjadi tetap segar. Saat kita bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata akan segera lenyap dan kulit akan terasa segar kembali.

Lebih menarik lagi adalah kisah John Mulligan. Selama enam tahun, veteran perang Vietnam ini menjadi gelandangan di North Beach, San Fransisco. Pengalaman berdarah-darah di Vietnam membuatnya trauma. Jiwanya terluka dan hampa. Akan tetapi hidupnya berubah sama sekali setelah ia mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh penulis masyhur, Maxine Hong Kingston.

Sepulang dari workshop itu, ia memiliki paradigma baru, perasaan baru, dan kehidupan baru. Ia pun mulai menuliskan semua perasaannya. Ternyata itu membantunya untuk menghilang stress, kekusutan pikiran, dan beban hidupnya. Akhirnya menjadi seorang novelis. Penulis novel Shopping Cart Soldiers itu pun berkata, “Menulis menghindarkan saya dari kegelapan hidup!”

Banyak peneliti yang mendukung pengalaman Mulligan itu: menulis ikhwal peristiwa yang menciptakan stress adalah terapi yang digdaya bagi pikiran dan kejiwaan. “Puluhan studi telah menemukan bukti bahwa banyak orang merasa lebih sehat dan bahagia setelah menuliskan kenangan-kenangan yang traumatis,” kata Dr. James Pennebaker —guru besar psikologi University of Texas. Gagasan di balik risetnya adalah “penerjemahan pengalaman (pahit) ke dalam bahasa akan mengubah cara orang berpikir mengenai pengalaman itu”.

Salah satu studinya yang dipublikasikan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology edisi April 1998, menemukan bukti bahwa sel-sel T-limfosit para mahasiswa menjadi lebih aktif enam pekan setelah mereka menulis peristiwa-peristiwa yang menekan. Suatu indikasi adanya stimulasi sistem kekebalan.

Studi-studi lain menemukan fakta bahwa orang cenderung lebih jarang mengunjungi dokter, bekerja lebih baik dalam tugas sehari-hari, dan memperoleh skor yang lebih tinggi dalam uji psikologi, setelah mengikuti latihan menulis. Di antaranya, sebuah studi yang diterbitkan pada 14 April 1999 dalam Journal of The American Medical Association, memperlihatkan bahwa menulis secara ekspresif mampu meringankan gejala asma dan rheumatoid arthritis.

Nah, jika menulis menyehatkan jiwa-raga, lantas mengapa malas melakukannya? Wallahu a’lam.

Udo Yamin Majdi

(Penulis, Trainer, dan Direktur Word Smart Center Cairo)

Juli 5, 2008

Mengapa Saya Menulis

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag: — bonekarusia @ 2:40 pm

George Orwell bilang, ada empat macam dorongan utama yang menggerakkan orang untuk menulis, setidak-tidaknya kalau menulis prosa, yaitu:

1. Kepentingan diri sendiri semata-mata.

Keinginan dianggap pintar, dibicarakan orang sesudah mati, membalas dendam terhadap mereka yang meremehkan kita semasa remaja, dsb. Tetapi ada pula sekelompok kecil orang yang berbakat dan berkemauan keras dan bertekad menjalankan kehidupan mereka sendiri sampai terakhir. (Maksudnya mungkin orang-orang ini menulis ya karena tekad mau menulis! Dan Orwell merasa dia termasuk yang ini).

2. Kegairahan estetika.

Kemauan melihat keindahan di dunia luar, atau dalam kata-kata dan rangkaiannya yang tertentu. Kenikmatan dalam jaringan suatu bunyi dengan bunyi lainnya, dalam kekuatan suatu prosa yang baik atau ritme dari sebuah cerita yang baik.

Keinginan berbagi dengan orang lain atau penghayatan atas pengalaman yang dipandang seseorang bernilai dan tidak patut dibiarkan berlalu begitu saja.

3. Dorongan sejarah.

Keinginan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Mencari fakta yang sesungguhnya, dan menyimpannya untuk kepentingan generasi mendatang.

4. Tujuan politik — “politik” dalam arti seluas-luasnya.

Keinginan mendorong dunia ke suatu arah tertentu, mengubah pandangan orang lain mengenai macam masyarakat yang seharusnya mereka kejar dan bentuk.

George Orwell juga bilang:

“…saya lihat ada kesan seolah-olah jika saya menulis, itu terdorong sepenuhnya oleh keinginan mengabdi pada kepentingan umum. Saya tidak ingin orang mendapat kesan ini.”

“Semua penulis ingin dipuji, mementingkan diri sendiri dan malas, dan di lapis terbawah dorongan-dorongan mereka adalah misteri.”

“Menulis buku adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan dan melelahkan, seperti pergumulan panjang dengan suatu penyakit ganas. Orang jangan sekali-kali terjun ke bidang ini, kalau tidak didorong semacam dorongan setan yang tidak dapat ditolak ataupun dipahami.”

 

Referensi:

George Orwell. “Mengapa Saya Menulis.” Mereka yang Tertindas. Jakarta: YOI, 1990.

Juni 3, 2008

Dear Diary

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag:, , , — bonekarusia @ 2:46 pm

Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas.”

- Anais Nin (1903-1977)

Sebagai orang yang mempunyai sepuluh diary berbasis kertas, dua diary berbasis komputer, dan satu diary berbasis internet, saya akan mencoba menjabarkan jenis-jenis diary yang ada di dunia ini, beserta kelebihan dan kekurangannya. Tentu ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi, dan bukan teori ilmiah dan oleh karenanya harap tidak dikutip untuk kepentingan ilmiah (ya iyalah! lagian sapa juga yang mau ngutip).

Baiklah, saya sebutkan satu-satu.

Pertama, diary tradisional. Yaitu diary yang ditulis dalam buku, lalu bukunya disimpan di bawah bantal, atau bawah kasur, atau bawah tumpukan baju di lemari, atau pun tempat-tempat tersembunyi lainnya.

Secara fisik, biasanya dipilih buku yang agak tebal, dengan cover dan desain halaman yang menarik, dan kalau perlu dilengkapi dengan gembok. Sudah jelas penulis diary jenis ini tidak mengharapkan orang lain membaca bukunya.

Maka isinya pun akan sangat bebas, tidak mengikuti konvensi apapun. Topiknya juga tidak terbatas (mau tentang SARA, provokasi sosial, propaganda politik, ajaran sesat, atau pun sekadar makian kepada tetangga yang menyebalkan, atau kata-kata romantis norak untuk pacar, terserah).

Secara umum, isinya akan benar-benar berupa curahan hati sang penulis.

Kelebihan:

- Isinya akan amat jujur. Efek psikologisnya akan amat melegakan penulisnya.

- Bisa jadi bukti yang bermanfaat jika si penulis pada suatu hari terlibat dalam suatu kasus kriminal, misalnya. Atau diary ini kemudian bisa menjadi catatan sejarah yang penting seperti yang terjadi pada Anne Frank dan Mochtar Lubis.

- Praktis dibawa kemana-mana, sehingga bisa diupdate dalam bus, atau di ruang tunggu dokter gigi. Kapan saja, di mana saja.

Kekurangan:

- Karena dirahasiakan oleh pemiliknya, dapat saja sebuah buku diary yang sebenarnya isinya bagus luar biasa, tidak dapat diakses oleh orang lain atau bernasib teronggok di gudang hingga hari kiamat tanpa pernah ditemukan oleh orang lain. Mubazir begitu saja.

- Kalau kita punya sepuluh buku, dan ingin mencari tulisan tentang sesuatu, maka kita harus baca halaman demi halaman dari sepuluh buku itu. Jejak satu-satunya hanyalah kalau kita bisa menyebutkan tanggal / bulan / tahun tulisan yang kita cari.

Kedua, diary elektronik. Yaitu diary yang disimpan dalam bentuk file komputer. Pada awal tahun 1990-an, dokter muda dalam film seri Doogie Howser tampak selalu mengetik diary di komputernya di akhir episode. Biasanya isinya adalah ‘pelajaran yang ia peroleh hari ini.’ Keren sekali kelihatannya bagi saya yang waktu itu masih SMP kelas satu dan belum pernah menyentuh komputer.

Kelebihan:

- Praktis tidak perlu membeli buku.

- Keamanannya bisa diatur dengan password. (Meskipun tetap mesti berhati-hati dengan teman yang profesinya hacker. Tapi yah… probabilitas dijebolnya sama dengan kemungkinan teman kita tiba-tiba merogoh bawah kasur kita untuk mencari triplek tapi malah ketemu buku).

- Ada fasilitas ‘find words’ jadi gampang kalau mau mencari tulisan-tulisan yang telah lampau.

- Bisa diedit sepuasnya, diupdate semaunya, atau dihapus tanpa bekas.

Kekurangan:

- Komputer bisa diserang virus, flash disk bisa ‘entah di mana’, CD bisa patah kedudukan, dan akibatnya file Anda hilang. (Oh, it’ll hurts u so much, baby. Yup, i’ve been there).

- Tidak bisa diupdate di mana saja kalau Anda tidak punya laptop. Dan kalau pun punya, tetap tidak bisa dibuka di bus -kecuali tampang Anda lebih garang dari perampok-.

Ketiga, diary online. Yaitu diary yang berbasis web. Orang sering mengidentikkannya dengan weblog atau blog. (Meskipun tak semua blog isinya bisa disebut ‘diary’).

Blog yang Anda baca ini contohnya. Saya meniatkannya memang sebagai ‘personal blog’. Isinya ya tentang curhatan saya, uneg-uneg, buah pikiran, dan komentar-komentar tentang suatu isu, baik yang penting maupun yang dirasa penting.

Kelebihan:

- Idenya adalah berbagi. Menyuarakan sesuatu yang kita sadar ini untuk orang banyak, dan oleh karenanya mampu menggerakkan orang untuk melakukan hal-hal positif (atau negatif, eh, kalo ini berarti kekurangan donk ya).

- Kalau ternyata disukai banyak orang, maka bisa jadi seleb dadakan seperti Raditya Dika.

- Tidak bisa hilang. (Kecuali ada hacker yang iseng menjebol situs Anda dan menghilangkannya atau mengubah kontennya, tapi ini juga kalau Anda adalah orang yang cukup penting untuk dikerjai macam itu, misalnya Anda adalah seorang Menteri atau agen rahasia berbahaya yang sedang menyamar).

- Ada fasilitas yang memungkinkan tulisan Anda mendapat feedback dari pembaca. Misalnya dengan mereka memberi komentar, me-link blog Anda, dll.

Kekurangan:

- Isinya tidak akan benar-benar jujur. (Kecuali ditulis dengan identitas samaran, tapi ini juga pastinya tidak akan bisa benar-benar terbuka, karena selalu ada perasaan ‘takut ketahuan’). Securhat apapun, paling tidak nama-nama atau lokasi akan disamarkan. Segamblang apapun, penulisnya tetap terikat dengan etika dan hukum (apalagi bukankah di negara kita sudah ada UU internet?!).

- Kalau isinya sangat amat personal hingga nyaris ‘tidak berguna’ atau ‘tidak berarti apa-apa’ buat orang lain, apalagi kalau isinya pun tidak menarik, maka diary jenis ini tak akan dipedulikan orang. Ini akan cukup menyakitkan bagi sang penulis, hingga akan lebih baik kalau dia memilih jenis diary yang dua di atas saja.

Overall, mengenai tingkat kepuasan, hm… bagi saya masing-masing jenis diary memiliki efek puasnya sendiri-sendiri. Kalau menulis di diary tradisional dan elektronik, saya bisa amat lega karena seluruh uneg-uneg pikiran dan perasaan bisa keluar tanpa takut orang lain tahu. Mengatakan apa saja dengan bebas itu relieving dan menyehatkan jiwa.

Sedang untuk diary online, yah… kepuasannya adalah jika mendapatkan sambutan baik dari pembaca ataupun feedback menarik dari ide-ide yang dilontarkan.

Jadi gimana, pembaca yang baik, any comments?!

Mei 21, 2008

Penulis yang Berperang dengan Nasib

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag:, — bonekarusia @ 12:29 pm

Suatu hari di pertengahan tahun 2007…

I will war, at least in words

And should my chance so happens, indeeds

With all who war… with thought.”

–Lord Byron (Don Juan)

Puisi tersebut mengobarkan semangat saya. Dunia sedang perang sekarang. Dan saya harus berjuang, meski hanya lewat kata-kata. Kita sedang perang, kata Al Gore. Melawan pemanasan global!

Maka dengan semangat angkatan Millenium, pagi itu saya bangkit, menegakkan tubuh, dan bergegas mandi. Saya meneguhkan niat, untuk pergi ke perpustakaan.

Oh, iya, perkenalkan, saya ini bukan lagi mahasiswa. Saya bukan juga pekerja kantoran. Bukan pula pengusaha. Saya adalah penulis. Menulis, adalah pekerjaan saya satu-satunya, selain menggelandang. Jadi saya bisa makan dan pergi kemana-mana hanya dengan mengandalkan honor hasil tulisan.

Saat ini saya ingin dan merasa harus menulis tentang pemanasan global. Tapi masalahnya, otak saya tidak menampung banyak data tentang topik yang satu ini. Memang sering saya dengar tentang pemanasan global. Dan bahwa kita semua harus peduli. Tapi apa ya yang dimaksud dengan pemanasan global? Apa yang panas? Mengapa bisa panas? Dan memangnya kenapa kalau panas?

Tempat pertama yang saya pikir perlu untuk didatangi adalah perpustakaan. Maka berangkatlah saya pagi itu ke perpustakaan mantan kampus saya. Di sana saya menyusuri jalan-jalan kenangan dan menyadari bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa indah. Masa-masa romantis. Masa-masa berharga.

Namun tak lama lamunan saya terputus sesampainya saya di depan gedung perpustakaan itu. Tepatnya di depan meja informasi. Rupanya perpustakaan ini tak lagi ramah. Saya harus membayar Rp. 7000 untuk masuk ke dalamnya.

Dengan sedikit tidak rela saya pun membayar. Bagaimanapun, informasi itu mahal, kawan, terngianglah ucapan seorang dosen saya dahulu.

Maka hari itu saya mengubek-ubek buku demi buku, ensiklopedi demi ensiklopedi, hingga menghasilkan lembar demi lembar referensi tentang pemanasan global. Saya fotokopi semuanya hingga harus merogoh kocek sebanyak hampir Rp. 20.000.

Tapi perpustakaan itu rupanya tidak menyediakan informasi termutakhir. Paling baru adalah sekitar 3-4 tahun yang lalu.

Maka keesokan harinya saya pun memutuskan untuk berselancar di internet. Mencari artikel-artikel koran terakhir tentang pemanasan global, mencari penelitian-penelitian terbaru, dan mengintip blog-blog orang atau LSM yang peduli akan isu lingkungan ini. Yah, memang ada banyak sekali, hingga membutuhkan waktu seharian untuk mendapatkan semua informasinya.

Di hari berikutnya adalah waktunya membaca. Saya menghabiskan 1-2 hari untuk membaca literatur yang saya kopi di perpustakaan. Dan satu hari lagi saya habiskan di rental komputer (karena saya tidak punya fasilitas komputer di rumah) untuk membaca literatur dari internet. Baru kemudian di hari berikutnya saya gunakan untuk mulai menulis.

Tapi tulisannya tak mampu rampung dalam satu hari, hingga saya perlu meneruskan lagi besoknya. Lalu saya diamkan tulisan tersebut selama sekitar tiga hari sementara saya menyibukkan diri dengan hal lain. Barulah kemudian saya baca lagi itu tulisan dan menyuntingnya supaya cantik dan enak dibaca. Maka kelar sudah.

Kalau dihitung-hitung, uang yang saya habiskan adalah sekitar Rp. 70.ooo untuk biaya rental komputer, ongkos, dan makan. Jika dijumlah keseluruhan, total biaya yang saya keluarkan dalam rangka menulis tentang pemanasan global ini adalah Rp. 100.000. Dan waktu yang saya habiskan untuk mengerjakannya adalah sekitar sepuluh hari. Voila! Jadilah empat lembar halaman tulisan tentang pemanasan global karya saya. Saya puas. Saya senang.

Maka saya kirimkanlah tulisan tersebut ke koran lokal, yang kita sebut saja koran Lokal Post. Tak lebih dari seminggu, ketika saya cek di situs web, rupanya tulisan tersebut dimuat oleh Lokal Post. Wah, tak terkira gembiranya saya. Puas karena karya saya diakui dan diterima, dan senang karena tentu akan dapat honor yang akan mengganti modal yang saya keluarkan.

Tunggu punya tunggu, rekening saya masih saja kosong. Minggu demi minggu berlalu hingga teman-teman saya bosan minta traktiran. Sampai akhirnya lima minggu kemudian, tiba-tiba terisilah rekening saya tersebut. Dengan uang berjumlah Rp. 60.000.

Yah, saya bersyukur dengan dimuatnya tulisan saya oleh Lokal Post, karena, pertama, saya dapat menyebarkan informasi yang berguna bagi pembaca, dan kedua, saya mendapat semacam pengakuan sebagai penulis. Soal uang, tak apa-apalah. Saya meyakinkan saja diri saya bahwa mungkin saya akan lebih beruntung lain kali. Tapi, demi memikirkan akan makan apa besok dan dari mana mencari modal untuk menulis lagi berikutnya, tak urung saya menggerutu juga. Jadi beginilah nasib penulis di masa perang. Nasib ya nasib…

Blog pada WordPress.com.