Boneka Ketujuh

Juni 14, 2008

Independent Women

Diarsipkan di bawah: musik — Tag:, — bonekarusia @ 1:27 pm

Tell me how you feel about this
Who would I want if I would wanna live
I worked hard and sacrificed to get what I get
Ladies, it ain’t easy bein’ independent

Pernah di suatu waktu, lirik dari Destiny’s Child ini sangat menginspirasi hidup saya. Waktu itu saya masih kuliah, semester tiga atau empat. Saat-saat saya mulai menyadari bahwa saya sudah menuntut pengorbanan begitu banyak dari orang tua.

Advice dari suhu saya waktu itu, Reza (thanks to him), “Jangan berpikir gimana mengurangi pengeluaran, tapi berpikirlah gimana menambah penghasilan.”

Tentu kata-katanya ini didasarkan pada penampakan saya yang dilihatnya makin hari makin kurus. Nyata-nyata menjalani lagu Project Pop, “Nasib anak kost… kadang cuma makan mie, gimana nggak kurang gizi….”

The shoes on my feet
I’ve bought it
The clothes I’m wearing
I’ve bought it
The rock I’m rockin’
I’ve bought it
‘Cause I depend on me

Lirik ini mengaung-ngaung di kuping saya setiap hari waktu itu. Membakar jiwa sampai ke relung-relungnya. Ingin sekali bisa bilang, “I depend on me!”

If I wanted the watch you’re wearin’
I’ll buy it
The house I live in
I’ve bought it
The car I’m driving
I’ve bought it
I depend on me

Setiap pulang kuliah di panas terik itu, hati saya menyanyikan lagu ini. Gelisah sekali rasanya ingin segera mewujudkannya. Sampai tak lama setelah itu, saya membaca di papan pengumuman kampus, sebuah iklan lowongan pekerjaan untuk mahasiswa. Dan bidangnya tepat adalah bidang saya: Cataloger.

Maka segeralah saya buat surat lamaran sekadarnya, iseng-iseng mendatangi kantor itu di Salemba. Waktu di telpon, katanya saya langsung datang saja untuk naro surat lamaran. Jadi dari Depok, saya naik kereta, berpenampilan tak lebih dari kaos oblong, jeans dan sandal jepit, mengepit map di ketiak, dan sampai di kantor tsb dengan tampang lecek, selecek dokumen-dokumen yang saya bawa.

Kirain cuma naro doank, eh, ternyata saya langsung dipanggil oleh si boss. Kalimat sambutan pertama ibu yang berwajah tegas itu adalah, “Kok baru datang sekarang sih?! Lowongannya kan sudah dipasang dari sebulan yang lalu?!”

Saya bengong. Kok saya jadi merasa bersalah ya.

Maka saya pun diwawancara saat itu juga, dan dites kerja – mengkatalog-. Dan langsung diterima! (tentu saja, karena saya adalah pelamar pertama setelah sebulan lebih kantor tersebut frustrasi menunggu pelamar yang datang). Saya ajak juga teman saya, Kayu Manis, dan kita menjadi partner. Sebenarnya juga bersama beberapa anak lagi yang thanks to all of them for giving me either good and bad times yang sangat berguna bagi saya di kemudian hari.

Begitulah, itu momen-momen terbaik dalam hidup saya, karena itu pertama kalinya saya menyadari ‘kemampuan menghasilkan’ dalam diri saya. Sense of independence. Tapi memang tidak mudah. Sama sekali tidak mudah.

All the women who are independent
Throw your hands up at me!
All the honeys who makin’ money
Throw your hands up at me!
All the mommas who profit dollas
Throw your hands up at me!
All the ladies who truly feel me
Throw your hands up at me!

Girl I didn’t know you could get down like that
Charlie, how your Angels get down like that

Mei 21, 2008

Penulis yang Berperang dengan Nasib

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag:, — bonekarusia @ 12:29 pm

Suatu hari di pertengahan tahun 2007…

I will war, at least in words

And should my chance so happens, indeeds

With all who war… with thought.”

–Lord Byron (Don Juan)

Puisi tersebut mengobarkan semangat saya. Dunia sedang perang sekarang. Dan saya harus berjuang, meski hanya lewat kata-kata. Kita sedang perang, kata Al Gore. Melawan pemanasan global!

Maka dengan semangat angkatan Millenium, pagi itu saya bangkit, menegakkan tubuh, dan bergegas mandi. Saya meneguhkan niat, untuk pergi ke perpustakaan.

Oh, iya, perkenalkan, saya ini bukan lagi mahasiswa. Saya bukan juga pekerja kantoran. Bukan pula pengusaha. Saya adalah penulis. Menulis, adalah pekerjaan saya satu-satunya, selain menggelandang. Jadi saya bisa makan dan pergi kemana-mana hanya dengan mengandalkan honor hasil tulisan.

Saat ini saya ingin dan merasa harus menulis tentang pemanasan global. Tapi masalahnya, otak saya tidak menampung banyak data tentang topik yang satu ini. Memang sering saya dengar tentang pemanasan global. Dan bahwa kita semua harus peduli. Tapi apa ya yang dimaksud dengan pemanasan global? Apa yang panas? Mengapa bisa panas? Dan memangnya kenapa kalau panas?

Tempat pertama yang saya pikir perlu untuk didatangi adalah perpustakaan. Maka berangkatlah saya pagi itu ke perpustakaan mantan kampus saya. Di sana saya menyusuri jalan-jalan kenangan dan menyadari bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa indah. Masa-masa romantis. Masa-masa berharga.

Namun tak lama lamunan saya terputus sesampainya saya di depan gedung perpustakaan itu. Tepatnya di depan meja informasi. Rupanya perpustakaan ini tak lagi ramah. Saya harus membayar Rp. 7000 untuk masuk ke dalamnya.

Dengan sedikit tidak rela saya pun membayar. Bagaimanapun, informasi itu mahal, kawan, terngianglah ucapan seorang dosen saya dahulu.

Maka hari itu saya mengubek-ubek buku demi buku, ensiklopedi demi ensiklopedi, hingga menghasilkan lembar demi lembar referensi tentang pemanasan global. Saya fotokopi semuanya hingga harus merogoh kocek sebanyak hampir Rp. 20.000.

Tapi perpustakaan itu rupanya tidak menyediakan informasi termutakhir. Paling baru adalah sekitar 3-4 tahun yang lalu.

Maka keesokan harinya saya pun memutuskan untuk berselancar di internet. Mencari artikel-artikel koran terakhir tentang pemanasan global, mencari penelitian-penelitian terbaru, dan mengintip blog-blog orang atau LSM yang peduli akan isu lingkungan ini. Yah, memang ada banyak sekali, hingga membutuhkan waktu seharian untuk mendapatkan semua informasinya.

Di hari berikutnya adalah waktunya membaca. Saya menghabiskan 1-2 hari untuk membaca literatur yang saya kopi di perpustakaan. Dan satu hari lagi saya habiskan di rental komputer (karena saya tidak punya fasilitas komputer di rumah) untuk membaca literatur dari internet. Baru kemudian di hari berikutnya saya gunakan untuk mulai menulis.

Tapi tulisannya tak mampu rampung dalam satu hari, hingga saya perlu meneruskan lagi besoknya. Lalu saya diamkan tulisan tersebut selama sekitar tiga hari sementara saya menyibukkan diri dengan hal lain. Barulah kemudian saya baca lagi itu tulisan dan menyuntingnya supaya cantik dan enak dibaca. Maka kelar sudah.

Kalau dihitung-hitung, uang yang saya habiskan adalah sekitar Rp. 70.ooo untuk biaya rental komputer, ongkos, dan makan. Jika dijumlah keseluruhan, total biaya yang saya keluarkan dalam rangka menulis tentang pemanasan global ini adalah Rp. 100.000. Dan waktu yang saya habiskan untuk mengerjakannya adalah sekitar sepuluh hari. Voila! Jadilah empat lembar halaman tulisan tentang pemanasan global karya saya. Saya puas. Saya senang.

Maka saya kirimkanlah tulisan tersebut ke koran lokal, yang kita sebut saja koran Lokal Post. Tak lebih dari seminggu, ketika saya cek di situs web, rupanya tulisan tersebut dimuat oleh Lokal Post. Wah, tak terkira gembiranya saya. Puas karena karya saya diakui dan diterima, dan senang karena tentu akan dapat honor yang akan mengganti modal yang saya keluarkan.

Tunggu punya tunggu, rekening saya masih saja kosong. Minggu demi minggu berlalu hingga teman-teman saya bosan minta traktiran. Sampai akhirnya lima minggu kemudian, tiba-tiba terisilah rekening saya tersebut. Dengan uang berjumlah Rp. 60.000.

Yah, saya bersyukur dengan dimuatnya tulisan saya oleh Lokal Post, karena, pertama, saya dapat menyebarkan informasi yang berguna bagi pembaca, dan kedua, saya mendapat semacam pengakuan sebagai penulis. Soal uang, tak apa-apalah. Saya meyakinkan saja diri saya bahwa mungkin saya akan lebih beruntung lain kali. Tapi, demi memikirkan akan makan apa besok dan dari mana mencari modal untuk menulis lagi berikutnya, tak urung saya menggerutu juga. Jadi beginilah nasib penulis di masa perang. Nasib ya nasib…

April 18, 2008

Bekerja Lebih, Dibayar Lebih

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag:, — bonekarusia @ 5:35 pm

Mario Teguh di acara TV-nya mengatakan, “Kalau Anda melakukan lebih dari bayaran Anda, maka Anda akan dibayar lebih!”

Well, barangkali saya sudah menyadari teori ini jauh sebelum Pak Mario mengatakannya, tapi sebelumnya saya nggak begitu yakin. Saya khawatir kalo saya melakukannya, maka saya hanya akan menampilkan satu kata: naif.

Karena orang zaman sekarang boro-boro mau bayar lebih. Bayar pas aja udah syukur.

Tapi kemudian bapak yang selalu berwajah optimis ini mengingatkan bahwa kita ini bekerja untuk melayani Tuhan (bukan manusia, apalagi hewan — ini juga berlaku untuk Dokter Hewan–).

Jadi, nggak dibayarpun –sama manusia– kita jangan mengeluh, sedih, ataupun kecewa. Karena Tuhan toh melihat pekerjaan kita. Dia pasti akan membalas dengan yang setimpal.

Tapi bukan juga berarti kita tidak mengusahakan kelayakan hidup sama sekali. Jadi, kalau kita nggak dibayar cukup, dan kerjaannya pun bikin kita tidak bahagia, yang pindah aja. Bekerja di tempat lain. Jangan mengeluh. Jangan jadi orang yang menyedihkan.

Persoalannya lain kalau kita tidak dibayar cukup, tapi kita bahagia lahir batin. Kita bersyukur. Nah, untuk kasus ini, saya pikir, adalah model yang harus kita capai. Selalu merasa cukup, dan selalu bersyukur.

Bicara soal perbandingan bayaran dengan pekerjaan, saya sendiri seringnya berada di batas antara “menyedihkan” dan “bersyukur.”

Saya secara umum memang merasa hidup bahagia, dan oleh karenanya saya bersyukur. Tapi saya juga belum sehebat itu untuk merasa selalu cukup. Saya masih suka menuntut lebih banyak sama Tuhan. Dan masih suka frustrasi karena kekurangan.

Tapi akhir-akhir ini, kisah hidup saya mulai memasuki periode baru. Rasanya tekad dan kerja keras saya terbayar di beberapa bulan belakangan. Mimpi-mimpi saya menjadi kenyataan dan datang dari arah yang tak disangka-sangka.

Tuhan memang adil, kawan. Dan Mario Teguh seringkali benar.

Blog pada WordPress.com.