Boneka Ketujuh

Maret 17, 2009

Mati dalam Jiwa

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, — bonekarusia @ 2:19 pm

Lagi baca ulang untuk kesekian kali Mati dalam Jiwa-nya Albert Camus. Cuma buat menenangkan diri karena orang-orang lain mengalami hal-hal yang lebih aneh dan lebih tidak nyaman daripada saya.

Dia bilang begini:

Aku semakin takut sakit, di sini, di lingkungan orang-orang yang siap tertawa ini. Namun aku merasa lebih takut lagi kalau sendirian di kamar hotel, tanpa uang, tanpa semangat, hanya dengan diri sendiri dan pikiran-pikiran yang mengenaskan.
Masih di hari ini dengan kikuk, aku bertanya pada diri sendiri: bagaimana kalau aku yang liar dan pengecut ini keluar saja dari keakuan. Dan ternyata aku benar-benar tidak sanggup untuk lebih lama lagi berhadapan dengan diri sendiri…

Ha!

Seberapa banyak orang di dunia yang tidak tahan berhadpaan sama dirinya sendiri?
Seberapa sering orang mengalaminya dalam sebulan?

Takut sakit, terganggu dengan pikiran orang lain tentang kita, tanpa uang, tanpa semangat, pengecut, keakuan… God! Manusia penuh dengan keburukan.

(Fakta bahwa dia menulis ini di usia 22 tahun menurut saya cukup luar biasa. Ini adalah waktu ketika orang baru mulai belajar menulis –seperti juga diakui Camus sendiri–. Tapi seorang cendekiawan, Brice Parain, menganggap ini adalah hal terbaik yang pernah dia tulis. Karena ada cinta sejati di dalamnya yang lebih besar porsinya dari yang ada di karya-karya Camus yang lain.
Yeah, memang karyanya yang satu ini terasa begitu murni.)

Dan ketika seseorang merasa jiwanya mati, atau minimal sekaratlah, apa kata Camus lagi?

… Para perempuan belia yang mengawasi segerombolan orang berlibur, terompet para penjaja es krim, etalase-etalase buah, semangka-semangka merah berbiji hitam, anggur-anggur yang tembus cahaya dan lengket — adalah sekian andalan untuk siapapun yang tidak mampu lagi sendirian.*

Dan seruling yang berbunyi melengking halus dari kawanan jangkrik, aroma dari perairan bintang-bintang pada malam-malam bulan September, jalan-jalan setapak yang berbau semerbak di sela-sela tetumbuhan Lentisque dan alang-alang air, merupakan sekian tanda cinta bagi siapapun yang terpaksa sendirian.**

CATATAN:
* Berarti, semua orang
** Berarti, semua orang

Catatan ini menarik.

(Saya ngga tahu catatan itu sebenarnya ditambahkan sama penerbit atau sama Camus sendiri. Tapi saya cenderung mengira itu Camus yang nambahin, karena penerbit akan memberi keterangan kalau itu memang dari penerbit.)

Di situ tesisnya adalah bahwa alam semesta ini, lingkungan sekitar kita ini, diciptakan untuk menemani manusia, semua manusia, karena mereka selalu punya masa-masa merasa sendirian. Padahal mereka tidak mampu sendirian, tetapi kadang-kadang mereka terpaksa sendirian.

Dan ada peribahasa latin berikut ini:

In magnificentia naturae, resurgit spiritus.

Artinya: Di alam yang megah, semangat bangkit lagi.

Jadi kalau kita nggak semangat, look around.

Kita akan menemukan banyak hal yang bersedia menemani kita dan membuat semangat kita bangkit lagi. Dan jiwa kita hidup lagi.

Look around!

Maret 16, 2009

Pengakuan Rafilus

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, — bonekarusia @ 3:28 pm

Rasanya belum pernah saya membaca kehidupan yang begitu lambat seperti dalam Rafilus ini. Semua tokohnya suka bercerita tentang dirinya sendiri dan semua tokohnya juga beranggapan bahwa mereka adalah pendengar setia orang lain.

Semua orang ingin berbicara, dengan detil, ingin memuntahkan pendapat mereka tentang orang lain, ingin membludakkan informasi tentang diri mereka sendiri agar semua orang tahu. Begitulah, tokoh demi tokoh bergantian bercerita (melalui suara tokoh pertama: Tiwar).

Pengarangnya, Budi Darma, memang menyebut novel ini sebagai ‘novel pengakuan’.

… dalam novel ini, para pelaku utama saling mengaku. Sekarang bayangkanlah andaikata kita menjadi pendeta. Begitu sering kita mendengar pengakuan sekian banyak orang yang merasa telah berbuat salah, dosa, atau tindak-tindak kelemahan lain.

Di sepanjang proses membaca, saya memutuskan untuk tidak berpikir terlalu dalam mengenai makna yang hendak disampaikan pengarang. Karena, bak seorang pendeta yang mendengarkan pengakuan, saya cukup mendengarkan saja tanpa perlu menanggapi ataupun menganalisa. Total mendengarkan dengan ketakjuban mengenai betapa kompleksnya manusia. Meski di satu segi, saya juga menyadari betapa sederhananya cara berpikir mereka.

Kata pengarang lagi:

Kehidupan mereka jauh lebih membosankan daripada dugaan kita semula.

Oh ya. Mulai dari Tiwar bertemu Rafilus di sebuah acara undangan khitanan, yaitu di rumah Jumarup. Dinilai dari nama-nama tokohnya, saya pikir pastilah novel ini tidak membosankan. Lalu bagaimana Tiwar melihat bahwa tubuh Rafilus sepertinya tidak terbuat dari tanah, tetapi dari besi yang dilempar gelas saja kepalanya tidak apa-apa, malah gelasnya yang pecah berantakan. Dan bahwa ternyata Jumarup, sang tuan rumah justru tak menampakkan batang hidungnya dan tamu-tamu dengan tidak sopannya dibiarkan sendiri.

Dari situ cerita bergulir tentang manusia besi ini; Rafilus, tentang tokoh kaya; Jumarup, muncul pula tokoh tukang pos; Munandir, tokoh perempuan cerdas; Pawestri, dan lain-lain. Kesemuanya saling bercerita tentang satu sama lain.

Saat membaca satu per satu itulah saya mulai setuju dengan pengarang bahwa kehidupan mereka jauh lebih membosankan dari dugaan saya semula.

Dan ada kalimat pengantar berikut ini oleh pengarang, yang baru saya amini setelah sampai pada akhir cerita.

… bahwa dalam mengaku pun, seseorang mungkin masih munafik.

Jadi pada awalnya saya mempercayai setiap kalimat pengakuan tokoh-tokoh tersebut seperti mempercayai gosip tetangga. Saya lupa bahwa tentu ada kemungkinan unsur munafik di dalamnya, karena mereka cuma manusia. Fakta terungkap di akhir cerita yang membuat saya salut akan kecerdikan pengarang.

Yang menarik juga adalah setidaknya tiga atau empat tokoh dalam novel ini dalam posisi yang sangat ingin mempunyai keturunan, tetapi mereka merasa tak mampu. Sepanjang hidup mereka frustrasi dalam upaya mereka untuk mempunyai anak. Masing-masingnya mempunyai motivasi tersendiri, tetapi saya pikir, barangkali motivasi terbesar mereka adalah mengharapkan kehidupan yang lebih baik melalui anak-anak mereka nantinya, karena kehidupan yang mereka jalani sekarang amat tidak memuaskan.

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang, paling-paling dia hanya akan berkarat.”

Sebagai paragraf pembuka, tentu pembaca sudah maklum akan apa yang akan dihadapi berikutnya. Bahwa ceritanya sungguh abstrak sehingga begitu sulit menggambarkan bagaimana cerita utuh dari novel ini. Saya benar-benar tidak dapat membayangkan, ataupun menceritakan kembali, bentuk nyatanya.

Oleh sebab itu, seperti saya katakan tadi, saya tak hendak memikirkan terlalu dalam makna novel ini, karena bahkan pengarang sendiri di bagian akhir buku mengatakan bahwa:

Dalam proses kreatif, abstraksi dan peristiwa dapat membaur. Dari pembauran terjadilah peristiwa-peristiwa dalam novel….
… “Rafilus telah mati dua kali” adalah abstraksi yang sudah merupakan peristiwa, dan siap menggelinding untuk berangkat dengan peristiwa-peristiwa lain. Apa kelanjutan “Rafilus telah mati dua kali” saya tidak tahu, sebelum kata-kata kelanjutannya selesai dalam sebuah novel….”

Jadi Budi Darma menulis novel ini, dengan melanjutkan kalimat “Rafilus telah mati dua kali” itu tanpa tahu kelanjutannya. Ia menggiring pembaca untuk mengikuti proses pencarian bentuk ceritanya. Dia berhasil. Karena saya mengikutinya terus dengan setia. Sehingga ‘tahu-tahu sebuah novel selesai sudah,’ saya baca.

Desember 21, 2008

Hari yang Aneh

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — bonekarusia @ 2:05 pm

Ada beberapa buku yang setelah selesai membacanya membuat saya berpikir dan merasa sesuatu. Tak penting apa saja ’sesuatu’nya, yang jelas buku-buku semacam ini berhasil mempengaruhi saya.

Orang-Orang Terasing karya Pamusuk Eneste adalah salah satunya.

Sepersis judulnya, isinya adalah lima belas cerpen bertokoh ‘orang-orang yang terasing’.

H. B. Jassin menulis pengantar di buku ini dengan ulasan mengena -walaupun sedikit spoiling-, sebagai berikut:

Orang-orang yang diceritakan dalam kumpulan cerpen ini menimbulkan kesan orang-orang yang aneh dan terasing. Mereka berpikir searah, sepatah dua patah kata dari lawan bicara menjadi bahan untuk berpikir sekitar perkataan itu dan orang yang mengucapkannya.

Atau mereka mengemukakan perkiraan-perkiraan yang tidak diucapkan. Maka terjadilah monolog-monolog berupa penalaran yang ketat searah hingga sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bukan kesimpulan lawan bicara.

Pernahkah anda, ketika bertemu orang lain; bisa jadi teman, keluarga, rekan kerja, atau orang yang baru dikenal, dan anda sibuk bermonolog sendiri mengenai diri lawan bicara padahal bisa jadi hasilnya akan berbeda jika terjadi dialog?!

Tragedi yang dapat diakibatkan monolog tadi adalah minimal jadi menghakimi lawan bicara dengan tidak adil. Dalam cerpen-cerpen Pamusuk Eneste bahkan bisa berujung fatal: pembunuhan.

Ujar H. B. Jassin lagi:

Nampak alam batin orang yang tidak berkomunikasi dengan dunia luar. Peristiwa luar hanyalah penggerak peristiwa-peristiwa di alam batin, alam obsesi yang introvert, yang sibuk menganalisa peristiwa-peristiwa yang barusan dialaminya. Ia membentuk dunianya sendiri yang tidak kongruen dengan dunia sekitarnya.

Sebagai orang yang cenderung introvert, saya jadi tersadar bahwa kejadian-kejadian di kumpulan cerpen ini kongruen dengan alam pikiran saya sendiri.

Saya bisa menciptakan karakter teraneh di dunia di pikiran saya tentang lawan bicara saya. Bagus kalau karakter yang terbentuk kocak sehingga saya bisa terhibur dan tertawa. Tapi seringnya karakternya seram, atau pemarah, atau kejam, yang membuat saya belum apa-apa sudah takut duluan menghadapinya.

Atau kadang karakternya menyebalkan, egois, culas, sombong, sehingga sudah tumbuh saja rasa benci atau tak suka di hati saya.

Dan Sang Paus bertanya,

Manakah dunia yang sebenarnya? Apakah dunia si Aku, ataukah dunia yang masuk ke dalam dunia si aku?

Tak ada yang jelas. Dan bukan tidak mungkin terjadi sebaliknya. Orang-orang yang berhadapan dengan saya pun punya alam pikiran mereka sendiri tentang saya. Bisa jadi mereka pun takut atau benci pada saya.

Dijelaskan lagi dalam pengantar buku ini:

Seringkali kita berhadapan dengan dunia sekitar yang salah paham tentang diri kita. Kita terkepung oleh maslah-masalah yang bukan masalah kita dan kita tak berdaya melawan.

Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan, pikir PAS Band.

Kita melihat orang-orang lain asing, dan mereka pun menganggap kita asing.

We’re all seems so different, but we’re just the same, cetus Jamie Cullum.

Dan kalau kita lebih banyak melihat perbedaan dalam diri manusia yang kita temui daripada persamaan, maka dalam sehari kita akan bertemu dengan banyak sekali orang aneh.

Dan hari kita akan menjadi ‘hari yang aneh’, seperti rekaan Uya Kuya.

Dan simpul H. B. Jassin:

Pada akhirnya, manusia hanya seorang diri di dunia ini.

Juni 3, 2008

Dear Diary

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag:, , , — bonekarusia @ 2:46 pm

Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas.”

- Anais Nin (1903-1977)

Sebagai orang yang mempunyai sepuluh diary berbasis kertas, dua diary berbasis komputer, dan satu diary berbasis internet, saya akan mencoba menjabarkan jenis-jenis diary yang ada di dunia ini, beserta kelebihan dan kekurangannya. Tentu ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi, dan bukan teori ilmiah dan oleh karenanya harap tidak dikutip untuk kepentingan ilmiah (ya iyalah! lagian sapa juga yang mau ngutip).

Baiklah, saya sebutkan satu-satu.

Pertama, diary tradisional. Yaitu diary yang ditulis dalam buku, lalu bukunya disimpan di bawah bantal, atau bawah kasur, atau bawah tumpukan baju di lemari, atau pun tempat-tempat tersembunyi lainnya.

Secara fisik, biasanya dipilih buku yang agak tebal, dengan cover dan desain halaman yang menarik, dan kalau perlu dilengkapi dengan gembok. Sudah jelas penulis diary jenis ini tidak mengharapkan orang lain membaca bukunya.

Maka isinya pun akan sangat bebas, tidak mengikuti konvensi apapun. Topiknya juga tidak terbatas (mau tentang SARA, provokasi sosial, propaganda politik, ajaran sesat, atau pun sekadar makian kepada tetangga yang menyebalkan, atau kata-kata romantis norak untuk pacar, terserah).

Secara umum, isinya akan benar-benar berupa curahan hati sang penulis.

Kelebihan:

- Isinya akan amat jujur. Efek psikologisnya akan amat melegakan penulisnya.

- Bisa jadi bukti yang bermanfaat jika si penulis pada suatu hari terlibat dalam suatu kasus kriminal, misalnya. Atau diary ini kemudian bisa menjadi catatan sejarah yang penting seperti yang terjadi pada Anne Frank dan Mochtar Lubis.

- Praktis dibawa kemana-mana, sehingga bisa diupdate dalam bus, atau di ruang tunggu dokter gigi. Kapan saja, di mana saja.

Kekurangan:

- Karena dirahasiakan oleh pemiliknya, dapat saja sebuah buku diary yang sebenarnya isinya bagus luar biasa, tidak dapat diakses oleh orang lain atau bernasib teronggok di gudang hingga hari kiamat tanpa pernah ditemukan oleh orang lain. Mubazir begitu saja.

- Kalau kita punya sepuluh buku, dan ingin mencari tulisan tentang sesuatu, maka kita harus baca halaman demi halaman dari sepuluh buku itu. Jejak satu-satunya hanyalah kalau kita bisa menyebutkan tanggal / bulan / tahun tulisan yang kita cari.

Kedua, diary elektronik. Yaitu diary yang disimpan dalam bentuk file komputer. Pada awal tahun 1990-an, dokter muda dalam film seri Doogie Howser tampak selalu mengetik diary di komputernya di akhir episode. Biasanya isinya adalah ‘pelajaran yang ia peroleh hari ini.’ Keren sekali kelihatannya bagi saya yang waktu itu masih SMP kelas satu dan belum pernah menyentuh komputer.

Kelebihan:

- Praktis tidak perlu membeli buku.

- Keamanannya bisa diatur dengan password. (Meskipun tetap mesti berhati-hati dengan teman yang profesinya hacker. Tapi yah… probabilitas dijebolnya sama dengan kemungkinan teman kita tiba-tiba merogoh bawah kasur kita untuk mencari triplek tapi malah ketemu buku).

- Ada fasilitas ‘find words’ jadi gampang kalau mau mencari tulisan-tulisan yang telah lampau.

- Bisa diedit sepuasnya, diupdate semaunya, atau dihapus tanpa bekas.

Kekurangan:

- Komputer bisa diserang virus, flash disk bisa ‘entah di mana’, CD bisa patah kedudukan, dan akibatnya file Anda hilang. (Oh, it’ll hurts u so much, baby. Yup, i’ve been there).

- Tidak bisa diupdate di mana saja kalau Anda tidak punya laptop. Dan kalau pun punya, tetap tidak bisa dibuka di bus -kecuali tampang Anda lebih garang dari perampok-.

Ketiga, diary online. Yaitu diary yang berbasis web. Orang sering mengidentikkannya dengan weblog atau blog. (Meskipun tak semua blog isinya bisa disebut ‘diary’).

Blog yang Anda baca ini contohnya. Saya meniatkannya memang sebagai ‘personal blog’. Isinya ya tentang curhatan saya, uneg-uneg, buah pikiran, dan komentar-komentar tentang suatu isu, baik yang penting maupun yang dirasa penting.

Kelebihan:

- Idenya adalah berbagi. Menyuarakan sesuatu yang kita sadar ini untuk orang banyak, dan oleh karenanya mampu menggerakkan orang untuk melakukan hal-hal positif (atau negatif, eh, kalo ini berarti kekurangan donk ya).

- Kalau ternyata disukai banyak orang, maka bisa jadi seleb dadakan seperti Raditya Dika.

- Tidak bisa hilang. (Kecuali ada hacker yang iseng menjebol situs Anda dan menghilangkannya atau mengubah kontennya, tapi ini juga kalau Anda adalah orang yang cukup penting untuk dikerjai macam itu, misalnya Anda adalah seorang Menteri atau agen rahasia berbahaya yang sedang menyamar).

- Ada fasilitas yang memungkinkan tulisan Anda mendapat feedback dari pembaca. Misalnya dengan mereka memberi komentar, me-link blog Anda, dll.

Kekurangan:

- Isinya tidak akan benar-benar jujur. (Kecuali ditulis dengan identitas samaran, tapi ini juga pastinya tidak akan bisa benar-benar terbuka, karena selalu ada perasaan ‘takut ketahuan’). Securhat apapun, paling tidak nama-nama atau lokasi akan disamarkan. Segamblang apapun, penulisnya tetap terikat dengan etika dan hukum (apalagi bukankah di negara kita sudah ada UU internet?!).

- Kalau isinya sangat amat personal hingga nyaris ‘tidak berguna’ atau ‘tidak berarti apa-apa’ buat orang lain, apalagi kalau isinya pun tidak menarik, maka diary jenis ini tak akan dipedulikan orang. Ini akan cukup menyakitkan bagi sang penulis, hingga akan lebih baik kalau dia memilih jenis diary yang dua di atas saja.

Overall, mengenai tingkat kepuasan, hm… bagi saya masing-masing jenis diary memiliki efek puasnya sendiri-sendiri. Kalau menulis di diary tradisional dan elektronik, saya bisa amat lega karena seluruh uneg-uneg pikiran dan perasaan bisa keluar tanpa takut orang lain tahu. Mengatakan apa saja dengan bebas itu relieving dan menyehatkan jiwa.

Sedang untuk diary online, yah… kepuasannya adalah jika mendapatkan sambutan baik dari pembaca ataupun feedback menarik dari ide-ide yang dilontarkan.

Jadi gimana, pembaca yang baik, any comments?!

April 11, 2008

Lift dan Ruang Baca Itu

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag:, , — bonekarusia @ 7:48 pm

Kemarin, saya ke Pernas. Perpustakaan Nasional maksudnya, bagi yang gak tau. Ini kunjungan perdana saya. Sebenarnya agak-agak memalukan demi mengingat saya ini suka mengaku-ngaku pecinta perpustakaan. Cinta sekali.

Tapi yah, better late than never, kan?

Kepergian saya kesana juga ternyata bukan karena saya ingin mencintai perpustakaan nasional, tapi karena saya desperately perlu sebuah ‘buku penting’, yang akan menunjang karier kepenulisan saya. Percayalah, buku ini sangat penting.

Sebelumnya, saya sudah cari kemana-mana dan dia, buku itu, tidak ada di mana-mana.

Saya sudah ke perpustakaan kampus, perpustakaan fakultas, perpustakaan kampus lain, perpustakaan IKJ (yang ini saya ditolak mentah-mentah karena peraturannya di sana harus bawa surat pengantar, for library’s sake!), perpustakaan HB Jassin, bahkan ke taman-taman persewaan komik di kelurahan. Buku itu tanpa jejak.

Akhirnya, suatu hari di awal Minggu ini, saya iseng mencoba-coba keyword di katalog online Pernas. Eureka! Judul buku itu ada di sana. Di Pernas. Tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Maka dengan tekad bulat saya berangkat ke perpustakaan nun jauh itu. Saya dari Jakarta Selatan, yang artinya saya harus dua jam penuh duduk di kopaja 20 untuk sampai ke Terminal Senen, dan setengah jam lagi untuk turun di daerah Salemba, di seberang gedung Pernas ini. Lalu dari situ saya harus menggosongkan kulit dengan menyeberang di jembatan terpanjang yang pernah saya lihat di Jakarta. Percaya deh, itu panjang sekali.

Sampai di depan gedung Pernas, saya bengong sejenak. Gedungnya besar-besar dan tampak menjanjikan. Pasti banyak treasure di sana. Saya menahan nafas dan menghelanya berkali-kali demi mengingat sebentar lagi saya akan pesta pora dengan buku.

Masuk ke lobby, saya merasa seperti masuk ke museum. Langit-langit yang tinggi, dengan monumen besar di bawahnya bertuliskan: Gedung ini diresmikan oleh Presiden… dsb dst. Wow. Megah sekali.

Saya segera mencari papan petunjuk lantai, dan menemukan bahwa koleksi buku ada di lantai 3. Maka dengan PD saya langsung naik lift ke lantai 3. Lift itu sempit luar biasa -untuk ukuran gedung sebesar itu-, dan lambat, dan tampak sudah tua sehingga saya agak deg-degan juga takut tiba-tiba ngadat.

Keluar lift, saya bengong lagi. Pemandangannya bukan buku-buku berjejer, tapi dua orang petugas pintu gerbang yang di dalamnya pastilah berisi koleksi harta karun itu. Saya segera sadar perpustakaan ini closed access, tidak akan ada manusia yang boleh menyentuh buku-buku di rak langsung kecuali pustakawan.

Dengan senyum, saya mendekati dua orang penjaga pintu surga dan bertanya, “Kalo mo minjem buku?”

“Ke lantai 2 Mba,” jawab mereka kompak.

“Oh,” saya melirik ke formulir peminjaman buku yang ada di atas meja. “Eng, kalau saya hafal nomor panggilnya?”

“Iya, tetap harus ke lantai 2 dulu Mba, peraturannya begitu. Nanti tanya petugas di sana,” jawab mereka konsisten. Tak tergoyahkan.

Dengan bersungut-sungut saya pun kembali menunggu lift. Saya misuh-misuh, karena saya bahkan juga sudah hafal apa judul bukunya, pengarangnya, penerbitnya, tahun terbitnya, dan perkiraan jumlah halaman! Cuma satu yang saya tidak tahu, yaitu gambar sampul buku itu. Sekarang saya cuma perlu selembar kertas formulir peminjaman buku!

Di lantai 2, seperti yang saya duga, sebenarnya cuma ada formulir itu -yang tidak tersedia di lantai 3-. Saya ambil selembar formulir dengan rakus, menulis tetek-bengeknya, dan kembali ke atas. Dengan naik lift sempit dan scary.

Di atas, saya serahkan itu kertas, lalu saya harus menunggu sementara bukunya dicari. Ruang tunggunya merangkap ruang baca. Dan di ruang baca itu tidak ada apa-apa yang bisa dibaca kecuali sederetan ensiklopedi kadaluarsa. Jadilah saya cuma menonton orang-orang yang membaca, menonton orang-oang main laptop, menonton pustakawan yang hilir mudik.

20 menit kemudian ada petugas masuk membawa tumpukan buku. Nah, saya pikir, pasti salah satunya buku saya. Nama demi nama dipanggil -persis seperti antrian di dokter gigi-, tapi tak satu pun nama saya.

20 menit berikutnya, kejadian berulang. Karena penasaran, saya dekati saja petugas yang memanggil itu.

“Mba siapa?” tanyanya dari balik kacamata yang bertengger di hidung.

Saya pun menyebut nama.

“Sudah dipanggil namanya?”

“Belum.”

“Ya belum berarti Mba, gimana sih…,” dia ngedumel. Saya dongkol. Saya terpaksa kembali duduk dan menonton pemandangan membosankan di ruang baca itu.

20 menit kemudian, datang lagi petugas yang lain. Akhirnya nama saya dipanggil. Itu pun di urutan paling akhir. Dengan sumringah saya mendekat. Detik-detik yang nantikan selama ini. Melihat gambar sampul buku idaman saya.

“Bukunya nggak ada Mba.”

Saya bengong, “Lagi dipinjem apa gimana, Mas?”

“Yah, pokoknya untuk sementara ini tidak ada,” it means, entah dipinjem, entah ilang, entah nggak ketemu aja nyarinya. Atau entah memang nasib Mba sial aja.

Yah, saya sial, dan saya lelah. Saya bosan kalau harus mengulangi prosesi yang sama: naik lift ke lantai 2 hanya untuk mengambil kertas formulir lain, lalu naik lift lagi dan duduk di lantai 3 menunggu nama saya dipanggil.

Jadi saya keluar, dan pulang saja. Sempat foto-foto sedikit di lobby buat kenang-kenangan ‘i was here’.

Blog pada WordPress.com.