Boneka Ketujuh

Mei 30, 2008

Hati Seorang Kino Pasca Naiknya BBM

Diarsipkan di bawah: coffee time — Tag:, , — bonekarusia @ 4:42 pm

Sudah berhari-hari saya menghindari menulis topik ini. Cuma sebuah topik basi yang sudah ditulis semua orang dan hanya mengakibatkan dunia tak berdosa ini dimaki-maki para pembaca.

Tapi tak tahan juga untuk tidak memuntahkannya.

Sebelumnya, di sebuah training motivasi yang diikuti teman saya -lalu teman saya itu bercerita ke saya-, digambarkan bahwa manusia (roughly) bisa dikelompokkan menjadi tiga:

Visual, untuk orang yang berorientasi ke ‘apa yang dia lihat,’

Auditory, untuk orang yang berorientasi ke ‘apa yang dia dengar,’ dan

Kino, untuk orang yang berorientasi ke ‘apa yang dia rasakan,’

dan berlaku juga kombinasi dari dua atau ketiganya (cmiiw).

Nah, saya sendiri berdasarkan hasil tes, adalah kombinasi dari ‘auditory’ dan ‘kino,’ tapi kecenderungannya lebih ke ‘kino.’

Kecenderungan ini membuat saya tidak mampu fokus kepada buku bacaan saya ketika duduk di angkot di hari-hari pasca BBM naik.

Kuping saya mendengar begitu banyak makian, bentakan, atau sekadar sindiran, baik yang kasar maupun yang sangat kasar. Dari pendengaran, sakit itu pun dengan cepat menjalar ke hati.

Tin… Tin… Tiiiiinnnn…

“Woi! Bego apa pura-pura bego Mbak?! Minyak udah naek bayarnya masih dua rebu aja!” teriak Abang Supir.

Si Mbak berjalan terus tak menoleh-noleh lagi. Tapi cukup terdengar sahutan sengitnya,”Yee…seenaknya aja naekin tarip! Kan belom ada tarip resmi dari pemerintah!”

Kalimat-kalimat senada saya dengar kira-kira dua kali sehari dalam seminggu belakangan ini, di angkot-angkot dengan rute yang berbeda. Dan sebenarnya beberapa di antaranya terdiri dari kosakata super kasar yang kalau saya ketik di sini akan terpaksa menggunakan tanda asteriks untuk menyensornya. Jadi tak usahlah.

Percaya deh, orang yang ‘auditory’ bercampur ‘kino’ seperti saya gampaaang sekali terluka gara-gara itu. Sakiiit sekali rasanya. Semacam trauma yang entah kapan sembuh, karena setiap malam saya masih membawa-bawa perasaan tidak enak itu hingga menjadi mimpi buruk.

Dan miris bagi saya demi mengingat bahwa penderitaan saya ini berpangkal pada persoalan selembar uang seribu rupiah.

Omong-omong, Pak Presiden kita visual, auditory, apa kino ya?

Blog pada WordPress.com.