Boneka Ketujuh

Mei 5, 2008

Orang-Orang Jenius

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, , — bonekarusia @ 8:56 pm

Dulu, waktu SMP di Bangli (suatu daerah pegunungan di Bali), beruntung saya pernah sekelas dengan seorang jenius, yang kini fotonya dipajang di tembok gedung Depdiknas bersama foto makhluk-makluk jenius lainnya. Itu karena dia adalah anak Indonesia yang pertama kali membawa pulang medali emas di Olimpiade Fisika Internasional. Waktu itu di Italia, tahun 1999. Menyusul kemudian penghargaan The First Step to Nobel Prize yang dia terima dari Institut Fisika Polandia.

Dialah Agus Wirawan.

Sebenarnya ada dua nama I Made Agus Wirawan di kelas kami waktu itu. Maka wali kelas kami dengan asal melabeli nama mereka dengan “A” dan “B”, supaya gampang kalo dipanggil tak perlu nengok dua-duanya. Yang jenius itu Agus A.

Alkisah selama semester pertama di SMP, saya yang duduk manis di bangku paling depan tidak terlalu menyadari kehadiran Agus A. Dia itu anak yang tidak populer yang duduk di bangku pojok paling belakang. Kecil pula perawakannya. Sama sekali tidak menonjol.

Kalau ada acara siapa-bisa-tunjuk-tangan-dan-berteriaklah, Agus A tak pernah kedengaran suaranya. Juga kalau ada adegan siapa-merasa-pintar-maju-ke-depan, Agus A juga tak muncul. Jelas dia itu bukan tipe banci tampil.

Bagaimanapun, semester pertama di SMP mengesankan buat saya karena waktu itu saya penyandang juara satu. Momen juara kelas yang pertama dan terakhir yang saya alami. :p

Saya sudah amat jumawa ketika di semester berikutnya wali kelas kami (yang kebetulan guru Matematika) mengumumkan bahwa ada seorang anak di kelas kami yang selalu mendapat nilai 10 untuk ulangan Matematika dan Fisika. Selalu. Setiap kali ulangan. Baik yang quiz bulanan, maupun ulangan umum. Tapi karena nilai tingginya tidak merata di semua pelajaran, jadinya dia cuma mendapat peringkat ke-3 di kelas. Itulah Agus A.

Serentak Agus A menjadi anak yang paling populer saat pelajaran Matematika / Fisika. Pagi-pagi, kalau hari itu ada PR Matematika / Fisika, Agus A menjadi most wanted guy untuk dicontek PR-nya. Karena jawabannya selalu benar. Selalu. Setiap kali.

Cuma seringkali para pencontek itu (termasuk saya sang mantan -dan selalu hanya mantan- juara kelas) kena batunya kalau disuruh menjelaskan caranya oleh guru. Karena seperti tipikal anak jenius, Agus A suka membuat cara-cara penyelesaian soal yang tidak pernah diajarkan guru. Berbagai caralah dia variasikan. Sayangnya, kalau Agus A kami minta menjelaskan atau mengajarkan, kata-katanya tidak pernah jelas buat kami. Tipikal anak jenius, rumit nian pemikirannya.

Beranjak SMU, saya dan Agus A bertemu lagi di sekolah yang sama, meski beda kelas. Memang tidak banyak pilihan SMU di Bangli yang mungil. Dan walaupun namanya tak ada lagi yang menyamai, tetap saja saya mengingatnya sebagai Agus A.

Agus A cukup tersohor di SMU karena sekali lagi dia membuat teman-teman di sekelilingnya ditegur guru karena ketahuan asal mencontek.

Sampai kemudian, di penghujung ujian akhir, terdengar kabar heboh yang diumumkan saat upacara bendera hari Senin. Ya itu tadi, dia jadi anak Bangli, Indonesia, pertama yang menggondol medali emas di Olimpiade Fisika tingkat dunia. Hal yang waktu itu tidak repot-repot saya bayangkan. Tidak heran, karena nilai 10-nya yang konstan itu pasti berarti sesuatu. Ya memang dia jenius. Yang membuat saya iri waktu itu hanyalah karena Agus A pernah ke Italia. Huhuhu.

Tapi ada pula yang memacu saya sejak itu untuk lebih rajin belajar lagi. Rupanya latar belakang keluarga Agus A tidaklah begitu spesial. Orang tuanya bukan yang berada, mereka keluarga petani, seperti kebanyakan keluarga di Bangli. Agus A juga tidak pernah les sempoa, atau les-les canggih lainnya. Dia hanya suka belajar di rumah, kerap sambil tengkurep, karena tak tersedia meja belajar.

Saya ingat, waktu itu punya tiga meja belajar di rumah, peninggalan keempat kakak saya. Saya baru saja berniat meminta pada orang tua satu lagi meja belajar yang akan resmi milik saya -bukan turunan- tapi akhirnya tidak jadi. Malu.

Cerita Lintang, tokoh based on true story yang diceritakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, senantiasa mengingatkan saya pada si anak ajaib Agus Wirawan. Sedih sangat saya oleh akhir kisah Lintang, dan bersyukur demi kisah Agus A yang tidak harus demikian. Dia berkesempatan menempuh pendidikan di California Institute of Technology.

Teringat pula akan tokoh fiktif yang diciptakan Matt Damon dan Ben Afflect di film Good Will Hunting. Will Hunting ini, orang yang ketika kejeniusannya diketahui orang, ia malah mangkir dan tak mau memanfaatkan kecerdasannya sama sekali. Ia menyebabkan banyak psikiater menyerah, banyak ilmuan kecewa, dan seorang sahabat marah besar. Semuanya lantaran, dibanding harus menjadi jutawan dengan cara mudah (cuma mengutak-atik angka), Will Hunting lebih memilih membanting tulang -dalam artian sebenarnya- sebagai tukang batu.

Dan akhirnya, yang dikejarnya dalam hidup bukanlah uang, bukan pula ilmu pengetahuan. Tapi cinta. Akhir yang romantis.

Sedang bagaimana dengan Agus A kini, apa yang sedang ia kejar saya tak tahu. Saya kehilangan jejaknya. Entah di mana anak itu berada. Saya hanya berharap dia baik-baik saja. Dengar-dengar dia bergabung di Lembaga Penelitian Fisika Indonesia dan bertindak sebagai pembimbing adik-adik generasi pelanjutnya.

Well, I’m so proud of him.

April 24, 2008

Ikal dan Max Havelaar (Ya, Aku Bakal Dibaca)

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , , — bonekarusia @ 9:11 pm

Membaca kisah Andrea ‘Ikal’ Hirata, dengan segala kemenarikannya, mau tak mau mengingatkan saya dengan kisah Max Havelaar. Ada persamaan di sana (SPOILER ALERT!):

Yaitu bahwa keduanya adalah memoar, kisah nyata yang dialami tokoh utama, namun dibumbui cerita fiksi.

Saya tidak tahu bagaimana Andrea akan menjawab, tapi kalau Multatuli a.k.a. Douwes Dekker a.k.a. Max Havelaar dalam buku ini dengan jelas menyatakan argumennya mengapa ia menaburkan fiksi di dalam sebuah ‘otobiografi’.

Sebelum dia, sudah banyak residen maupun asisten residen di Hindia Belanda yang menulis laporan tentang kesemena-menaan para birokrat di Hindia. Bahwa para bupati bersekongkol dengan para residen untuk menyengsarakan rakyat yang sudah sengsara itu. Mereka disuruh kerja paksa sementara pemimpinnya foya-foya. Mereka kelaparan sampai mati sementara pemimpinnya merebut sapi-sapi pembajak sawah yang mereka punya.

Tapi laporan-laporan yang ditulis resmi, penuh sopan-santun, dan kaku itu tidak dibaca orang. Bahkan yang dikirimi surat pun (para atasan) tidak benar-benar membaca. Terbukti dengan tidak adanya tindakan apapun sesudahnya. Rakyat tetap sengsara dan sapi-sapi tetap dirampok. Bupati dan residen tetap berjaya di atas penderitaan mereka.

Maka sampailah Douwes Dekker, yang bertahun-tahun hidup miskin karena telanjur bertekad menjadi idealis itu, di bumi Jawa, sebagai pejabat asisten residen. Di Lebak tepatnya. Dia melihat tragedi itu dengan mata kepalanya sendiri, dan dia tidak bisa diam. Dia pun melawan sekuat tenaga (setidaknya itu yang tersurat dalam buku), tapi sia-sia. Laporan-laporan yang dia buat tidak pernah dipedulikan. Ia ditawari pindah kerja di tempat lain, tapi dia memilih berhenti menjabat.

Apa yang bisa dilakukan seorang yang punya istri dan anak, miskin, dan idealis ketika kehilangan pekerjaan?

Yup, menulis buku.

Sangat tepat bahwa ia kemudian menulis kisah hidupnya, kisah nyata hidupnya, dengan cara-cara yang menarik. Maksud sesungguhnya, yaitu mengungkapkan kebusukan, tidak kita temukan sampai di tengah buku. Dan saat itu kita sudah terjerat untuk membaca terus.

Di bab-bab awal dia bercerita dengan gaya yang lucu dan nyaris menyenangkan (buat saya) tentang tokoh-tokoh fiktif (yang belakangan baru saya ketahui kalau mereka ternyata fiktif). Tapi bukan tidak ada hubungannya dengan cerita inti.

Karakter-karakter itu hidup sekali dan membuat saya terkesan dan ingin membaca sampai akhir. Dan itulah yang rupanya ditekadkan oleh Douwes Dekker. “Ya, aku bakal dibaca,” katanya dengan PD. Dan dia berhasil.

Orang-orang Eropa waktu itu seketika mual dengan kopi dari Jawa yang mereka minum, karena mereka baru tahu (dari Multatuli) bahwa kopi-kopi itu ditanam bercampur dengan darah penanamnya. Reaksi-reaksi yang diharapkan oleh sang pengarang muncul. Walaupun tidak membuat perubahan yang besar, tapi setidaknya sekarang dunia tahu apa yang terjadi. Dan tidak sekadar tahu, -dengan kekuatan fiksi yang menyentuh- mereka juga berempati.

Beralih ke Ikal dengan Laskar Pelangi-nya, ia mengungkapkan hal-hal yang secara garis besar sama. Kesengsaraan rakyat, pemimpin foya-foya, dan perampokan timah-timah (sapi-sapi ala Belitung).

Sudahkah ada ‘laporan-laporan’ sebelumnya? Mungkin saja ada, tapi yang pasti laporan-laporan itu tidak terbaca.

Tapi lihatlah sekarang buku apa yang dibaca orang-orang di Jakarta akhir-akhir ini. Di angkot, di metromini, di halte, di depan tv, di depan kolam renang, di kampus, di pameran buku, di pameran kain, di mana-mana.

Laskar Pelangi. Sang Pemimpi. Edensor. Ini semacam euforia Andrea Hirata.

Jadi dunia pun menoleh ke Belitung, menatap miris timbunan timah. Seperti dulu seabad yang lalu dunia menengok ke Lebak, menghirup ironis bau kopi.

Anda mau dibaca? tulislah kebenaran Anda dalam selimut fiksi yang lucu.

Blog pada WordPress.com.