<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Boneka Ketujuh</title>
	<atom:link href="http://bonekarusia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bonekarusia.wordpress.com</link>
	<description>Hidup di mana-mana...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Jun 2009 05:11:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bonekarusia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d03b0d3146cba38826046a7bdb2a6dea?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Boneka Ketujuh</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Bukan Dogma</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/06/12/bukan-dogma/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/06/12/bukan-dogma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 04:45:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[dear diary]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kalau makan itu pakai sendok, Nak!&#8221;
Si anak menoleh. Menatap ibundanya yang sedang merajut baju kecil dari benang wol. Dalam hatinya berpikir, robot2 perajut dijual murah di supermarket. Dan mengapa sang Ibunda tak membelinya saja.
&#8220;Pakai remote lebih mudah, Mama.&#8221;
&#8220;Yang mudah-mudah itu tak baik. Dan sebenarnya tidak semudah itu. Dari dulu orang-orang tua kita mengajarkan bahwa kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=174&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Kalau makan itu pakai sendok, Nak!&#8221;</p>
<p>Si anak menoleh. Menatap ibundanya yang sedang merajut baju kecil dari benang wol. Dalam hatinya berpikir, robot2 perajut dijual murah di supermarket. Dan mengapa sang Ibunda tak membelinya saja.</p>
<p>&#8220;Pakai remote lebih mudah, Mama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang mudah-mudah itu tak baik. Dan sebenarnya tidak semudah itu. Dari dulu orang-orang tua kita mengajarkan bahwa kalau makan itu pakai sendok. Makanannya akan lebih terasa. Diri kita lebih berkelas. Dilihat orang pun lebih santun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi orang-orang tua dulu kan belum kenal remote, Mama. Kalau kenal, mereka pasti mau pakai.&#8221;</p>
<p>Ibunda menoleh cepat, &#8220;Lancang sekali kamu!&#8221; hardiknya. &#8220;Jangan pernah bilang begitu tentang orang-orang tua kita. Makan dengan remote itu perbuatan hina! Menyalahi adat! Tuhan pun tak suka kalau manusia tidak bersyukur. Kita punya tangan itu untuk digerakkan! Untuk digunakan! Remote-remote itu bikin kau tidak bersyukur punya jari-jari tangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bersyukur kok Mama. Yang penting kan prinsipnya makan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Prinsipnya: makan itu pakai sendok. Bagaimana <em>sih</em>, kamu ini diajarkan dari kecil tapi tidak mengerti juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi setelah aku dewasa, aku jadi paham kalau pakai remote juga bisa makan, Mama.&#8221;</p>
<p>Tapi makan dengan remote itu tidak beradab! Jangan ajarkan hal-hal yang tidak baik pada anak cucumu nanti. Sekarang cepat ganti remote-mu itu dengan sendok!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230; tapi&#8230; aku cuma mau makan, Mama!&#8221;</p>
<p>&#8220;Makan itu pakai sendok. Titik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tetap mau pakai remote karena dengan remote aku bisa makan lebih baik dan lebih mudah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak durhaka! Bikin malu keluarga saja. Jangan sebut dirimu anakku kalau makanmu pakai remote. Cepat ganti dengan sendok!!&#8221;</p>
Posted in dear diary Tagged: adat <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=174&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/06/12/bukan-dogma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A Slogan is Not a Policy</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/06/12/a-slogan-is-not-a-policy/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/06/12/a-slogan-is-not-a-policy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 04:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[coffee time]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Tak lama lagi kita akan menghadapi lagi pemilu presiden. 
Setelah gonjang-ganjing pemilu legislatif yang lalu, kini saatnya bulan tenang bagi rakyat. Setidaknya kepala tak pusing lagi menoleh sana-sini di jalan menimbang-nimbang slogan caleg mana yang paling bijak, atau muka siapa yang paling menjanjikan.
Bagi para elite politik, sebaliknya, tentu ini adalah bulan sibuk. Memikirkan koalisi, kebijakan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=172&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tak lama lagi kita akan menghadapi lagi pemilu presiden. </p>
<p>Setelah gonjang-ganjing pemilu legislatif yang lalu, kini saatnya bulan tenang bagi rakyat. Setidaknya kepala tak pusing lagi menoleh sana-sini di jalan menimbang-nimbang slogan caleg mana yang paling bijak, atau muka siapa yang paling menjanjikan.</p>
<p>Bagi para elite politik, sebaliknya, tentu ini adalah bulan sibuk. Memikirkan koalisi, kebijakan, program, harapan, dan slogan. Semuanya harus siap ditampilkan kepada rakyat sebelum pemilu presiden. </p>
<p>Untuk mengantisipasi kampanye mereka nanti, ada baiknya bagi kita, rakyat, untuk memahami ini:<br />
<em><br />
A slogan is not a policy.<br />
A wish is not a program.</em></p>
<p>Jadi janganlah kita memilih berdasarkan slogan-slogan, tetapi lihat lebih dalam apa kebijakan yang dijanjikan oleh para calon pemerintah ini. </p>
<p>Jangan pula kita segera menganggap harapan-harapan, doa-doa, dan keinginan-keinginan  yang dilontarkan pada masa kampanye sebagai tindakan yang benar-benar akan mereka laksanakan. Tanyakan atau perhatikan detil program<em> real</em> mereka.  </p>
<p>Menciptakan slogan-slogan kreatif dan mempraktekkan kebijakan adalah dua hal yang berbeda.</p>
Posted in coffee time Tagged: politik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=172&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/06/12/a-slogan-is-not-a-policy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati dalam Jiwa</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/17/mati-dalam-jiwa/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/17/mati-dalam-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 07:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/17/mati-dalam-jiwa/</guid>
		<description><![CDATA[Lagi baca ulang untuk kesekian kali Mati dalam Jiwa-nya Albert Camus. Cuma buat menenangkan diri karena orang-orang lain mengalami hal-hal yang lebih aneh dan lebih tidak nyaman daripada saya. 
Dia bilang begini:
Aku semakin takut sakit, di sini, di lingkungan orang-orang yang siap tertawa ini. Namun aku merasa lebih takut lagi kalau sendirian di kamar hotel, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=158&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lagi baca ulang untuk kesekian kali Mati dalam Jiwa-nya Albert Camus. Cuma buat menenangkan diri karena orang-orang lain mengalami hal-hal yang lebih aneh dan lebih tidak nyaman daripada saya. </p>
<p>Dia bilang begini:</p>
<blockquote><p>Aku semakin takut sakit, di sini, di lingkungan orang-orang yang siap tertawa ini. Namun aku merasa lebih takut lagi kalau sendirian di kamar hotel, tanpa uang, tanpa semangat, hanya dengan diri sendiri dan pikiran-pikiran yang mengenaskan.<br />
Masih di hari ini dengan kikuk, aku bertanya pada diri sendiri: bagaimana kalau aku yang liar dan pengecut ini keluar saja dari keakuan. Dan ternyata aku benar-benar tidak sanggup untuk lebih lama lagi berhadapan dengan diri sendiri&#8230;</p></blockquote>
<p>Ha! </p>
<p>Seberapa banyak orang di dunia yang tidak tahan berhadpaan sama dirinya sendiri?<br />
Seberapa sering orang mengalaminya dalam sebulan?</p>
<p>Takut sakit, terganggu dengan pikiran orang lain tentang kita, tanpa uang, tanpa semangat, pengecut, keakuan&#8230; God! Manusia penuh dengan keburukan.</p>
<p>(Fakta bahwa dia menulis ini di usia 22 tahun menurut saya cukup luar biasa. Ini adalah waktu ketika orang baru mulai belajar menulis &#8211;seperti juga diakui Camus sendiri&#8211;. Tapi seorang cendekiawan, Brice Parain, menganggap ini adalah hal terbaik yang pernah dia tulis. Karena ada cinta sejati di dalamnya yang lebih besar porsinya dari yang ada di karya-karya Camus yang lain.<br />
Yeah, memang karyanya yang satu ini terasa begitu murni.)</p>
<p>Dan ketika seseorang merasa jiwanya mati, atau minimal sekaratlah, apa kata Camus lagi?</p>
<blockquote><p>&#8230; Para perempuan belia yang mengawasi segerombolan orang berlibur, terompet para penjaja es krim, etalase-etalase buah, semangka-semangka merah berbiji hitam, anggur-anggur yang tembus cahaya dan lengket &#8212; adalah sekian andalan untuk siapapun yang tidak mampu lagi sendirian.*</p>
<p>Dan seruling yang berbunyi melengking halus dari kawanan jangkrik, aroma dari perairan bintang-bintang pada malam-malam bulan September, jalan-jalan setapak yang berbau semerbak di sela-sela tetumbuhan Lentisque dan alang-alang air, merupakan sekian tanda cinta bagi siapapun yang terpaksa sendirian.**</p>
<p>CATATAN:<br />
* Berarti, semua orang<br />
** Berarti, semua orang</p></blockquote>
<p>Catatan ini menarik. </p>
<p>(Saya <em>ngga</em> tahu catatan itu sebenarnya ditambahkan sama penerbit atau sama Camus sendiri. Tapi saya cenderung mengira itu Camus yang nambahin, karena penerbit akan memberi keterangan kalau itu memang dari penerbit.)</p>
<p>Di situ tesisnya adalah bahwa alam semesta ini, lingkungan sekitar kita ini, diciptakan untuk menemani manusia, <strong>semua manusia</strong>, karena mereka selalu punya masa-masa merasa sendirian. Padahal mereka <em>tidak mampu sendirian</em>, tetapi kadang-kadang mereka <em>terpaksa sendirian</em>. </p>
<p>Dan ada peribahasa latin berikut ini:</p>
<blockquote><p><em>In magnificentia naturae, resurgit spiritus.</em></p></blockquote>
<p>Artinya: Di alam yang megah, semangat bangkit lagi.</p>
<p>Jadi kalau kita <em>nggak</em> semangat, <em>look around</em>. </p>
<p>Kita akan menemukan banyak hal yang bersedia menemani kita dan membuat semangat kita bangkit lagi. Dan jiwa kita hidup lagi.</p>
<p><em>Look around!</em></p>
Posted in buku Tagged: buku, sastra <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=158&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/17/mati-dalam-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Rafilus</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/16/pengakuan-rafilus/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/16/pengakuan-rafilus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 08:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya belum pernah saya membaca kehidupan yang begitu lambat seperti dalam Rafilus ini. Semua tokohnya suka bercerita tentang dirinya sendiri dan semua tokohnya juga beranggapan bahwa mereka adalah pendengar setia orang lain.
Semua orang ingin berbicara, dengan detil, ingin memuntahkan pendapat mereka tentang orang lain, ingin membludakkan informasi tentang diri mereka sendiri agar semua orang tahu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=151&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rasanya belum pernah saya membaca kehidupan yang begitu lambat seperti dalam Rafilus ini. Semua tokohnya suka bercerita tentang dirinya sendiri dan semua tokohnya juga beranggapan bahwa mereka adalah pendengar setia orang lain.</p>
<p>Semua orang ingin berbicara, dengan detil, ingin memuntahkan pendapat mereka tentang orang lain, ingin membludakkan informasi tentang diri mereka sendiri agar semua orang tahu. Begitulah, tokoh demi tokoh bergantian bercerita (melalui suara tokoh pertama: Tiwar).</p>
<p>Pengarangnya, Budi Darma, memang menyebut novel ini sebagai &#8216;novel pengakuan&#8217;. </p>
<blockquote><p>&#8230; dalam novel ini, para pelaku utama saling mengaku. Sekarang bayangkanlah andaikata kita menjadi pendeta. Begitu sering kita mendengar pengakuan sekian banyak orang yang merasa telah berbuat salah, dosa, atau tindak-tindak kelemahan lain.</p></blockquote>
<p>Di sepanjang proses membaca, saya memutuskan untuk tidak berpikir terlalu dalam mengenai makna yang hendak disampaikan pengarang. Karena, bak seorang pendeta yang mendengarkan pengakuan, saya cukup mendengarkan saja tanpa perlu menanggapi ataupun menganalisa. Total mendengarkan dengan ketakjuban mengenai betapa kompleksnya manusia. Meski di satu segi, saya juga menyadari betapa sederhananya cara berpikir mereka. </p>
<p>Kata pengarang lagi:</p>
<blockquote><p>Kehidupan mereka jauh lebih membosankan daripada dugaan kita semula.</p></blockquote>
<p>Oh ya. Mulai dari <em>Tiwar</em> bertemu <em>Rafilus</em> di sebuah acara undangan khitanan, yaitu di rumah <em>Jumarup</em>. Dinilai dari nama-nama tokohnya, saya pikir pastilah novel ini tidak membosankan. Lalu bagaimana Tiwar melihat bahwa tubuh Rafilus sepertinya tidak terbuat dari tanah, tetapi dari besi yang dilempar gelas saja kepalanya tidak apa-apa, malah gelasnya yang pecah berantakan. Dan bahwa ternyata Jumarup, sang tuan rumah justru tak menampakkan batang hidungnya dan tamu-tamu dengan tidak sopannya dibiarkan sendiri. </p>
<p>Dari situ cerita bergulir tentang manusia besi ini; Rafilus, tentang tokoh kaya; Jumarup, muncul pula tokoh tukang pos; Munandir, tokoh perempuan cerdas; Pawestri, dan lain-lain. Kesemuanya saling bercerita tentang satu sama lain. </p>
<p>Saat membaca satu per satu itulah saya mulai setuju dengan pengarang bahwa kehidupan mereka jauh lebih membosankan dari dugaan saya semula. </p>
<p>Dan ada kalimat pengantar berikut ini oleh pengarang, yang baru saya <em>amini</em> setelah sampai pada akhir cerita.</p>
<blockquote><p>&#8230; bahwa dalam mengaku pun, seseorang mungkin masih munafik.</p></blockquote>
<p>Jadi pada awalnya saya mempercayai setiap kalimat pengakuan tokoh-tokoh tersebut seperti mempercayai gosip tetangga. Saya lupa bahwa tentu ada kemungkinan unsur munafik di dalamnya, karena mereka cuma manusia. Fakta terungkap di akhir cerita yang membuat saya salut akan kecerdikan pengarang.</p>
<p>Yang menarik juga adalah setidaknya tiga atau empat tokoh dalam novel ini dalam posisi yang sangat ingin mempunyai keturunan, tetapi mereka merasa tak mampu. Sepanjang hidup mereka frustrasi dalam upaya mereka untuk mempunyai anak. Masing-masingnya mempunyai motivasi tersendiri, tetapi saya pikir, barangkali motivasi terbesar mereka adalah mengharapkan kehidupan yang lebih baik melalui anak-anak mereka nantinya, karena kehidupan yang mereka jalani sekarang amat tidak memuaskan. </p>
<blockquote><p>Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang, paling-paling dia hanya akan berkarat.&#8221;</p></blockquote>
<p>Sebagai paragraf pembuka, tentu pembaca sudah maklum akan apa yang akan dihadapi berikutnya. Bahwa ceritanya sungguh abstrak sehingga begitu sulit menggambarkan bagaimana cerita utuh dari novel ini. Saya benar-benar tidak dapat membayangkan, ataupun menceritakan kembali, bentuk nyatanya. </p>
<p>Oleh sebab itu, seperti saya katakan tadi, saya tak hendak memikirkan terlalu dalam makna novel ini, karena bahkan pengarang sendiri di bagian akhir buku mengatakan bahwa:</p>
<blockquote><p>Dalam proses kreatif, abstraksi dan peristiwa dapat membaur. Dari pembauran terjadilah peristiwa-peristiwa dalam novel&#8230;.<br />
&#8230; &#8220;Rafilus telah mati dua kali&#8221; adalah abstraksi yang sudah merupakan peristiwa, dan siap menggelinding untuk berangkat dengan peristiwa-peristiwa lain. Apa kelanjutan &#8220;Rafilus telah mati dua kali&#8221; saya tidak tahu, sebelum kata-kata kelanjutannya selesai dalam sebuah novel&#8230;.&#8221;</p></blockquote>
<p>Jadi Budi Darma menulis novel ini, dengan melanjutkan kalimat &#8220;Rafilus telah mati dua kali&#8221; itu tanpa tahu kelanjutannya. Ia menggiring pembaca untuk mengikuti proses pencarian bentuk ceritanya. Dia berhasil. Karena saya mengikutinya terus dengan setia. Sehingga &#8216;tahu-tahu sebuah novel selesai sudah,&#8217; saya baca.</p>
Posted in buku Tagged: buku, sastra <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=151&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/16/pengakuan-rafilus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup Seperti Jazz</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/09/hidup-itu-seperti-jazz/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/09/hidup-itu-seperti-jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 09:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[dear diary]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Life is a lot like jazz&#8230; It&#8217;s best when you improvise.&#8221;
&#8211; George Gershwin
Menyaksikan para musisi jazz beraksi di Java Jazz Festival ke-5 kemarin, membuat saya merenungi beberapa hal tentang hidup. Di keramaian penonton yang menyesaki ruangan saya seakan terasing dalam kesendirian sewaktu mendengar lirihnya denting-denting piano dan misteriusnya cabikan bass, juga hentakan-hentakan halus drum. Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=146&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>&#8220;Life is a lot like jazz&#8230; It&#8217;s best when you improvise.&#8221;</p>
<p>&#8211; George Gershwin</p></blockquote>
<p>Menyaksikan para musisi jazz beraksi di Java Jazz Festival ke-5 kemarin, membuat saya merenungi beberapa hal tentang hidup. Di keramaian penonton yang menyesaki ruangan saya seakan terasing dalam kesendirian sewaktu mendengar lirihnya denting-denting piano dan misteriusnya cabikan bass, juga hentakan-hentakan halus drum. Mereka bermain pelan dan cepat, halus dan kasar, sepi dan ramai, dan segala kontradiksi yang mungkin.</p>
<p>Hidup juga penuh kontradiksi. Kita tak pernah berwujud dalam satu diksi saja. Selalu ada lawannya.</p>
<p>Hidup juga dinamis, berubah-ubah. Seperti mood yang saya peroleh selama berjam-jam di JCC kemarin. Ada saat-saat rusuh, ada pula saat-saat damai.</p>
<p>Dan improvisasi. Yang paling mendasar dari semua hal yang berhubungan dengan jazz. Tuhan tidak akan mengubah nasib kita kalau kita tidak mengubahnya. Kita senantiasa ada dalam pilihan untuk pasrah dengan apa yang menimpa, atau memilih untuk berimprovisasi.</p>
<p>Charles Mingus dalam otobiografinya berjudul <em>Beneath the Underdog</em>, menyarankan kita untuk berimprovisasi. Dan dalam prosesnya, dia bilang kira-kira seperti ini:</p>
<p>- Jangan takut melakukan kesalahan.<br />
Bermain saja terus. Coba dan jangan pikirkan hasilnya. Karena dalam kesalahan terkandung arah yang membimbing kita menuju kebenaran. Dalam musik, harmonisasi adalah lambang kesempurnaan yang tidak mudah untuk dicapai. Kita berusaha ke arah sana, berusaha dengan keras, tapi kan <em>nggak</em> ada yang sempurna dalam hidup. Kita justru bertugas, sepanjang hidup kita, untuk mencapai kesempurnaan itu. Jadi improvisasi adalah mengambil risiko.</p>
<p>- Kita tidak bermain sendiri.<br />
Barangkali kelihatannya musisi jazz adalah individu-individu yang menonjolkan keunggulannya sendiri. Tapi sebenarnya tak ada yang menarik kalau mereka bermain sendiri. Satu orang bergantung dengan orang lain untuk mencapai keindahan musiknya. Penonton suka adegan sahut-sahutan antar pemain dan mengikuti dialognya. Jadi memang lebih baik kita bekerjasama dengan orang lain daripada sok-sok bermain sendiri melawan yang lain dan malah terlihat konyol.</p>
<p>(Ehm ehm&#8230; jadi inget iklan-iklan parpol yang masing-masing menyebut dirinya &#8216;pahlawan swasembada beras&#8217; tanpa pengakuan bahwa mereka sebenarnya bekerjasama).</p>
<p>- Pelajarilah peraturannya agar bisa melanggarnya.<br />
Ada perbedaan antara orang yang memang tidak tahu peraturan, dengan orang yang tahu dan melanggarnya. Mingus belajar bermain musik di lingkungan ensemble klasik yang sangat berstruktur, kemudian dia belajar komposisi band-band besar di Duke Ellington. Dia mempelajari segala macam peraturan bermain yang ada untuk mengetahui mengapa mereka harus dilanggar.</p>
<p>Dalam dunia politik, misalnya, untuk menggagas sebuah revolusi atau sekadar perubahan, orang harus mendalami segala situasi, undang-undang, ideologi, pemikiran dan filsafat yang berhubungan atau yang ada sebelumnya. Jadi ketika ada tentangan ia bisa menjawab dengan tegak, tegar tanpa tergugah.</p>
<p>- Ada batas dalam kreatifitas.<br />
Mingus bilang bahwa batasan adalah penyebab dan alasan dalam berkreatifitas. Dalam improvisasi di jazz, ada batas waktu untuk setiap pemain, bergiliran, agar tidak kepanjangan dan membuat penonton bosan. Juga ada batasan not, yang meskipun not-nya seperti lari-lari kesana-kemari tapi sebenarnya berada dalam <em>range</em> yang menyesuaikan dengan harmoni.</p>
<p>Dalam hidup, kita punya batasan waktu juga dan batasan sikap, dan barangkali juga batasan budget. Kreatif bukannya tanpa perhitungan.</p>
<p>Dan akhirnya, esensi dari improvisasi adalah mengalirkan ide-ide lalu memilih mana yang bisa dipakai. Kesimpulannya, dalam hidup, kita perlu mengeluarkan segala ide dengan bebas, tanpa takut salah, sambil bekerjasama dengan orang lain, dengan memahami peraturan yang berlaku, dan peduli dengan batasan.</p>
<p>wooh..</p>
Posted in dear diary Tagged: jazz <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=146&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/09/hidup-itu-seperti-jazz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ordinary Miracles</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/01/ordinary-miracles/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/01/ordinary-miracles/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 13:41:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[lirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Pertama saya dengar lagu ini lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi spiritnya masih terasa sampai sekarang. Cara Barbra menyanyikannya, masih terngiang anggunnya.
Tapi waktu itu saya SMP. Pemahaman tentang lirik lagu ini tentu berubah sekarang.
Change can come on tiptoe
Love is where it starts
It resides, often hides
Deep within our hearts
Yep. Yep. Perubahan datang tanpa aba-aba. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=140&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pertama saya dengar lagu ini lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi spiritnya masih terasa sampai sekarang. Cara Barbra menyanyikannya, masih terngiang anggunnya.</p>
<p>Tapi waktu itu saya SMP. Pemahaman tentang lirik lagu ini tentu berubah sekarang.</p>
<blockquote><p>Change can come on tiptoe<br />
Love is where it starts<br />
It resides, often hides<br />
Deep within our hearts</p></blockquote>
<p>Yep. Yep. Perubahan datang tanpa aba-aba. Dan perubahan dimulai dari cinta dari lubuk hati. Hmmm&#8230;</p>
<blockquote><p>And just as<br />
Pebbles make a mountain,<br />
Raindrops make a sea,<br />
One day at a time<br />
Change begins with you and me</p></blockquote>
<p>Perubahan adalah ketika orang biasa melakukan hal-hal yang luar biasa, kata Obama.</p>
<blockquote><p>Ordinary miracles<br />
Happen all around,<br />
Just by giving and receiving<br />
Comes belonging and believing</p></blockquote>
<p>Keajaiban terjadi setiap hari, begitu tesisnya. Hanya dengan memberi dan menerima, maka akan tercipta rasa memiliki dan rasa percaya. Wooh. Dan rasa memiliki dan rasa percaya adalah semacam &#8216;keajaiban yang biasa&#8217;, right Barbra??</p>
<blockquote><p>Every sun that rises<br />
Never rose before,<br />
Each new day leads the way<br />
Through a different door</p></blockquote>
<p>Selalu ada jalan baru. Cara baru. Kesempatan baru. Setiap hari.</p>
<blockquote><p>And we can all be quiet heroes<br />
Living quiet days,<br />
Walking through the world<br />
Changing it in quiet ways</p></blockquote>
<p>Lllove it! Membuat perubahan tanpa banyak cincong adalah hal yang mesti banyak dipelajari sama politisi-politisi Indonesia saat ini&#8230; Let&#8217;s be quiet heroes! Yes we can, hehe&#8230;</p>
<blockquote><p>Ordinary miracles<br />
Like candles in the dark,<br />
Each and every one of us<br />
Lights a spark</p></blockquote>
<p>Kita semua jadi lilin&#8230; terang banget pasti jadinya&#8230;</p>
<blockquote><p>And the walls can tumble<br />
And the mountains can move,<br />
The winds and the tide can turn</p></blockquote>
<p>Hanya dengan kita semua jadi lilin, dunia ini seperti diterangi matahari&#8230; wooh&#8230;</p>
<blockquote><p>Yes, ordinary miracles<br />
One for every star,<br />
No lightning bolt or<br />
clap or thunder<br />
Only joy and quiet wonder,<br />
Endless possibilities<br />
Right before our eyes,<br />
Oh, see the way a<br />
miracle multiplies</p></blockquote>
<p>Can u see it? only joy and quiet wonder&#8230; sementara keajaiban terus terjadi&#8230; berkali lipat&#8230; endless possibilities&#8230;</p>
<blockquote><p>Now hope can spring eternally<br />
Just plant it and it grows,<br />
Love is all that&#8217;s necessary<br />
Love, in its extraordinary way,<br />
Makes ordinary miracles<br />
Every blessed day.</p></blockquote>
<p>Tanam aja harapan, nanti tumbuh, katanya.</p>
<p>Jadi kesimpulannya: diam-diam aja, lakukan perubahan, nyalain lilin, dan tanam harapan! That&#8217;s ordinary miracles&#8230;</p>
<p>Lagu yang hebat.</p>
Posted in musik Tagged: lirik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=140&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/03/01/ordinary-miracles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Harvest Moon</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/02/01/belajar-dari-harvest-moon/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/02/01/belajar-dari-harvest-moon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 06:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[coffee time]]></category>
		<category><![CDATA[games]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak game saat ini yang membuat pemainnya merasa terdidik. Walaupun efek ketagihannya sama membahayakannya dengan games2 lain, tapi Harvest Moon menawarkan lebih dari sekadar permainan.

Game yang satu ini membuka pandangan saya tentang beberapa hal.
Pertama, konsep pertanian terpadu. Di sini tokoh utamanya (yang kita mainkan) berperan sebagai orang yang harus bekerja untuk menghidupi dirinya dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=130&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tidak banyak <em>game </em>saat ini yang membuat pemainnya merasa terdidik. Walaupun efek ketagihannya sama membahayakannya dengan <em>games2</em> lain, tapi <a href="http://www.hotgame-online.com/artikel/1/edisi154/Hot-Story1.asp" target="_blank">Harvest Moon</a> menawarkan lebih dari sekadar permainan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-136" title="wwonder-life" src="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2009/02/wwonder-life.jpg?w=300&#038;h=418" alt="wwonder-life" width="300" height="418" /></p>
<p><em>Game </em>yang satu ini membuka pandangan saya tentang beberapa hal.</p>
<p><em>Pertama</em>, konsep pertanian terpadu. Di sini tokoh utamanya (yang kita mainkan) berperan sebagai orang yang harus bekerja untuk menghidupi dirinya dari pertanian terpadu yang dikelolanya.</p>
<p>Ia harus bangun pagi-pagi, mencari hasil hutan untuk tambahan uang, kalau uang sudah cukup ia harus membeli bibit untuk ditanam. Ia bangun lagi keesokan harinya dan berkerja menyiram bibit dan begitu terus hingga ia punya uang untuk membeli seekor ayam.</p>
<p>Ketika punya ayam, pengasilan tambahannya adalah dari hasil telur. Dan makin banyak ayamnya, makin besar penghasilannya untuk akhirnya mampu membeli seekor sapi.</p>
<p>Maka kehidupannya bergulir setiap hari dengan bangun pagi, mengurus tanaman, beternak ayam, memerah sapi, memberi makan ikan, juga mengurus kuda dan anjing serta mencari kayu untuk membangun rumah serta kandang. Kesemuanya dilakukannya sendiri.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-131" title="hmds" src="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2009/02/hmds.gif?w=400&#038;h=291" alt="hmds" width="400" height="291" /></p>
<p>Tak lupa kesemua binatang peliharaannya itu diberi nama. Memang dari <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2009/02/01/brk,20090201-157768,id.html" target="_blank">hasil riset baru2 ini</a>, bahwa sapi yang diberi nama menghasilkan susu lebih banyak daripada yang tidak punya nama.</p>
<p>Pada akhirnya, dalam kurun 2-3 tahun ia dapat menghasilkan tak hanya telur, tapi juga mayones. Tak hanya <a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/cikal-bakal-asosiasi-peternak-sapi.html" target="_blank">susu dari sapi pera</a><a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/cikal-bakal-asosiasi-peternak-sapi.html" target="_blank">h</a> tapi juga keju dan benang wol dari domba.</p>
<p>Waktu kerja 12 jamnya juga dapat dipergunakan untuk memancing ikan dan menambang. Peralatan kerja diperolehnya dari hasil tambangnya sendiri.</p>
<p>Perilaku produktif tokoh game ini bagi saya sangat mendidik.</p>
<p><em>Kedua</em>, me<em>manage</em> anggaran. Dengan uang sekian ia dapat membeli bibit sekian, menambah ayam, sapi, atau domba sekian ekor, dan dalam waktu sekian ia akan menghasilkan sekian.</p>
<p>Kita akan berhitung, menjaga diri agar tidak boros sehingga dapat hidup lebih baik lagi. Karena jika uang sudah cukup, ia dapat membuat rumahnya lebih besar lagi, membuat rumah kaca, membeli hadiah-hadiah, membeli peralatan dapur dan sebagainya.</p>
<p>Jika bekerja dengan giat, maka dalam waktu 2-3 tahun ia sudah kaya raya. Dan makin kaya artinya bekerja dengan lebih giat karena makin banyak yang harus dikerjakannya. Kualitasnya sebagai manusia akan meningkat, dan akan dinyatakan mampu untuk bertanggung jawab terhadap orang lain dan menikah.</p>
<p><em>Ketiga</em>, me<em>manage</em> waktu. Dua belas jam kerjanya harus dimanfaatkan efisien. Semua pekerjaan di atas berpaut dalam sistem kehidupannya yang tak boleh ada yang terlewat.</p>
<p>Kemampuan menetapkan prioritas pun diperlukan. Setiap hari ia dituntut untuk berpikir <em>first thing first</em> dan tidak malas melakukan hal yang meskipun tidak enak tapi harus dilakukan.</p>
<p>Ia tidak boleh malas, tapi juga tak boleh terlalu rajin, karena kalau ia bekerja melebih daya tubuhnya, maka ia akan sakit dan harus dirawat di RS dan itu berarti malah membuang waktu.</p>
<p><em>Keempat</em>, bersosialisasi. Di tengah kesibukannya bekerja, ia harus sempat bersosialisasi dengan para tetangga. Seluruh sistem kehidupan di desanya sudah berjalan baik dan ia adalah bagian dari sistem itu.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-133" title="wii_harvest-moon-wii" src="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2009/02/wii_harvest-moon-wii.jpg?w=420&#038;h=330" alt="wii_harvest-moon-wii" width="420" height="330" /></p>
<p>Di desanya ada pandai besi dan cucunya yang minder, pembuat anggur dan istrinya yang cerewet, scientist, perpustakaan, walikota, polisi,  nenek tua yang perlu perhatian, dokter, perawat, pendeta, pemilik kafe, penebang kayu, nelayan, pemilik ranch sapi, pemilik peternakan ayam, pemilik supermarket, pendeta, kurcaci serta beberapa orang asing yang rutin mengunjungi desa ini.</p>
<p>Setiap bulan ada festival2 yang perlu ia ikuti. Dan setiap hari ada saja peristiwa yang terjadi di desanya yang jika ia cukup baik dalam memberi perhatian, akan bertambah kreditnya.</p>
<p>Dan untuk dapat menikah, ia harus sesering mungkin menemui gadis yang diincarnya dan sebanyak mungkin memberinya hadiah. <em>Hehe.</em></p>
<p><em>Game </em>ini menawarkan perspektif kehidupan pedesaan yang jarang dijumpai anak-anak sekarang yang hidup di perkotaan.</p>
<p>Alternatif yang baik untuk <em>game </em>liburan sekolah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Sudah pernah coba?</p>
Posted in coffee time Tagged: games, pertanian <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=130&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/02/01/belajar-dari-harvest-moon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2009/02/wwonder-life.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wwonder-life</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2009/02/hmds.gif" medium="image">
			<media:title type="html">hmds</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2009/02/wii_harvest-moon-wii.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wii_harvest-moon-wii</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya Tak Akan Pernah Menyerah!</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/01/19/saya-tak-akan-pernah-menyerah/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/01/19/saya-tak-akan-pernah-menyerah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 10:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[menyapa]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seperti suami saya, seperti Munir, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus menuntut siapa pun yang terlibat dalam permufakatan jahat tersebut.&#8221;
Sepenggal kalimat itu ditulis Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib, dalam suratnya untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 September 2006—tepat dua tahun wafatnya Munir. Kalimat yang semakin meneguhkan ucapan Munir, “Keberanian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=122&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p><strong>&#8220;Seperti suami saya, seperti Munir, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus menuntut siapa pun yang terlibat dalam permufakatan jahat tersebut.&#8221;</strong></p></blockquote>
<p>Sepenggal kalimat itu ditulis Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib, dalam suratnya untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 September 2006—tepat dua tahun wafatnya Munir. Kalimat yang semakin meneguhkan ucapan Munir, “Keberanian saya tak sebanding dengan keberanian istri saya.”</p>
<p>Semua orang akhirnya menyadari ucapan Munir. Suciwati punya keberanian yang lebih besar dibanding suaminya. “Sejak awal saya juga tahu hanya akan menghadapi kegelapan. Tapi apakah saya harus diam saja? Tidak!” ujar Suciwati saat wawancara khusus dengan SINDO, akhir Desember lalu. Berikut petikannya.</p>
<p><em>Bagaimana Anda memaknai perjuangan melawan institusi yang begitu kuat?</em></p>
<p>Apa yang sudah saya lakukan, kalau di tataran hukum baru langkah awal. Sejak awal saya melihat pembunuhan terhadap Munir itu konspiratif. Kalau sampai kini perjalanan kasus masih di Muchdi (Muchdi Purwoprandjono), ini baru awal. Justru kita mulai mencoba masuk di jaring laba-laba Badan Intelijen Negara (BIN).</p>
<p>Begitu rumitnya untuk bisa kita pecahkan. Kejahatannya ya ada di sana. Kita membutuhkan Badan Intelijen Negara yang profesional, diberi dasar hukum yang kuat. Yang penting dalam hal ini adalah segera mereformasi BIN. Selama ini, dalam banyak kasus, BIN tidak berfungsi baik. Padahal lembaga itu ujung tombak keamanan negara kita.</p>
<p><em>Yang Anda lawan bukan personal, melainkan sistem dan institusi yang kuat. Bagaimana Anda berusaha mendobraknya?</em></p>
<p>Kalau kita mencintai negara ini, maka salah satunya adalah mereformasi BIN yang belum memiliki dasar hukum yang kuat. Kalau kemudian ada penyalahgunaan, itu karena tidak ada dasar hukumnya.</p>
<p>Makanya harus diatur dulu lewat undang-undang. Yang salah kan di situ. Bukan BIN-nya, tetapi negaranya. Di mana pemerintah memberikan ruang kosong yang sangat luas untuk terjadinya penafsiran apa pun yang mereka (BIN) mau.</p>
<p><em>Sampai kapan Anda akan menyuarakan ini?</em></p>
<p>Saya manusia biasa, tapi saya terbiasa menjaga harapan. Sebuah harapan yang selama ini dicita-citakan almarhum Munir. Mempunyai negara yang demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Harapan saya sederhana, menginginkan anak cucu saya hidup di sebuah negara yang kepahitan-kepahitan kemarin tidak dijalani lagi.</p>
<p><em>Anda bisa menjaga semangat itu hingga empat tahun sampai sekarang?</em></p>
<p>Banyak cermin yang bisa saya jadikan semangat untuk kemudian melangkah sampai hari ini. Korban peristiwa 1965 (G30S) misalnya, bagaimana mereka begitu luar biasa. Mereka sudah distigmatisasi, mereka tidak mendapatkan kesempatan dan hak untuk berpolitik, mereka dimiskinkan, semuanya ditutup.</p>
<p>Sampai hari ini, terhadap korban-korban pelanggaran HAM itu tidak ada satu pun pengakuan dari negara, pemerintah terutama. Ini bukan persoalan memaafkan, tapi persoalan ke depan, jangan sampai hal ini terjadi lagi.</p>
<p><em>Apakah Anda merasa saat ini ada sebagian masyarakat yang mencoba menyandarkan harapannya ke Anda? Misalnya kasus Tanjung Priok,Talangsari yang hingga saat ini belum terungkap?</em></p>
<p>Saya pikir bagus kalau semua korban melakukan apa yang seperti saya lakukan. Apa yang selama ini sudah kita lakukan artinya akan membuat banyak orang terinspirasi.</p>
<p><em>Itu juga bisa menyemangati Anda?</em></p>
<p>Tentu saja, itu hal yang membuat saya merasa bahwa kalian adalah bagian dari hidup saya. Begitu juga sebaliknya, saya bagian dari kalian. Itu harus dilakukan karena selama ini yang menghegemoni kita adalah rasa takut.</p>
<p>Kita semua diinspirasi oleh almarhum (Munir), bahwa justru ketakutan itulah yang harus kita lawan. Karena rasa takut itu membuat kita kehilangan rasionalitas, intelektualitas, dan sering kali justru membuat kejahatan baru.</p>
<p><em>Figur Munir di mata Anda seperti apa?</em></p>
<p>Yang pasti, dia orang tercinta. Sangat konsisten tidak hanya di perkataan, tapi juga perbuatan. Sedikit sekali orang yang seperti itu.</p>
<p><em>Dulu banyak orang bilang Munir terlalu berani. Artinya dia berani mengkritik sistem yang besar dan sulit diruntuhkan?</em></p>
<p>Ya, karena kita yakin hidup mati manusia itu Tuhan yang menentukan. Meski kita dijaga satu peleton tentara, kalau Tuhan mengatakan kamu mati hari ini, maka mati. Sama halnya ketika dia melakukan advokasi kepada beberapa orang, ada yang bilang, ”Berani banget tuh orang.” Padahal, risikonya sama dengan orang yang tidak melakukan apa pun. Karena nyawa urusan Tuhan.</p>
<p><em>Ada konspirasi di balik kasus kematian Munir?</em></p>
<p>Itu logikanya. Apalagi ini intelijen yang melakukan, bagaimana mungkin kita bisa membongkarnya. Secara institusi bisa saja mereka tidak mau mengungkapkan karena mereka menganggap yang diperangi selama ini adalah institusinya. Padahal tidak, kita justru ingin menyelamatkan institusinya. Membuang borok-boroknya.</p>
<p><em>Anda sedang melawan benteng yang sangat tebal? Bagaimana bisa bertahan?</em></p>
<p><em>Cul-de-sac </em>(buntu). Ya, saya pikir semangatnya sama. Sejak awal saya juga tahu hanya kegelapan yang akan saya temui. Tapi apakah saya harus diam saja? Tidak. Sekecil apa pun saya harus melakukan sesuatu. Ini harus terus- menerus kita suarakan. Kalau mau berubah, harus terus bicara.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/203338/" target="_blank">Koran Sindo</a>, 9 Januari 2009</p>
Posted in menyapa Tagged: HAM, politik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=122&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/01/19/saya-tak-akan-pernah-menyerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dan Perangmu pun Usai</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/01/10/dan-perangmu-pun-usai/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/01/10/dan-perangmu-pun-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 10:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[menyapa]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali saya tahu bahwa menulis itu bisa jadi profesi adalah dari Pak Ismail Marahimin. Dan pertama kali saya tahu bahwa menulis itu perlu aturan-aturan, strategi, tips, trik, seni, kesungguhan dan ketekunan, adalah dari kuliah Penulisan Populer (Penpop) yang diajar oleh beliau.
Penpop ini mata kuliah legendaris dengan dosen yang luar biasa, begitu kira-kira yang saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=109&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pertama kali saya tahu bahwa menulis itu bisa jadi profesi adalah dari Pak Ismail Marahimin. Dan pertama kali saya tahu bahwa menulis itu perlu aturan-aturan, strategi, tips, trik, seni, kesungguhan dan ketekunan, adalah dari kuliah Penulisan Populer (Penpop) yang diajar oleh beliau.</p>
<p><em>Penpop ini mata kuliah legendaris dengan dosen yang luar biasa</em>, begitu kira-kira yang saya dengar dari teman saya ketika kami sedang menimbang-nimbang pilihan mata kuliah untuk memasuki semester lima di FIB-UI.</p>
<p>Penpop terdaftar sebagai mata kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, namun terbuka juga beberapa kelas untuk siswa-siswa jurusan lain, bahkan fakultas lain.</p>
<p>Katanya nanti isi kuliahnya adalah menulis satu tulisan setiap minggu dan katanya nanti tulisan kita akan &#8220;ditelanjangi&#8221; satu per satu oleh Sang Dosen yang luar biasa itu. Di depan seisi kelas!</p>
<p>Berani terima tantangan?</p>
<p>Tak pikir panjang saya dan teman saya yang berbakat sebagai informan itu pun mendaftarkan diri ikut kelas menulis itu. Saya bersyukur karena waktu itu saya memilih untuk berani. Karena ini sangat menentukan jalan hidup saya selanjutnya.</p>
<p>Maka itulah dia Sang Dosen. Stelannya sederhana, selalu sederhana. Baju kaos lengan pendek berkerah, topi <em>sporty</em>, celana bahan warna gelap yang agak mengatung sedikit, dan sepatu sandal kulit.</p>
<p><a href="http://helvytr.multiply.com/journal/item/167/Guru-Guru_yang_Menitipkan_Permata_Tentang_Helvy_5"><img class="aligncenter size-full wp-image-112" title="ismail-marahimin" src="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2008/12/ismail-marahimin.jpg?w=225&#038;h=300" alt="ismail-marahimin" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Ia dengan kacamata yang bertengger di hidung selalu tampak santai dan menikmati pekerjaannya. Karena kerap berekspresis serius, kita jadi tak mudah mengantisipasi cetusan kelakarnya.</p>
<p>Misalnya tiba-tiba dia berteriak, &#8220;Merdeka!&#8221; ketika memasuki kelas.</p>
<p>Gayanya itu salah satu hal yang membuat saya nyaman berada di kelasnya.</p>
<p>Ya, kami diminta menghasilkan tulisan tiap minggu. Itu pertama kalinya saya tahu bahwa point penting untuk menjadi seorang penulis adalah disiplin.</p>
<p>Dalam usaha memenuhi &#8216;deadline&#8217; tersebut, banyak rintangannya. Tulisan saya kadang cermerlang kadang payah. Untuk yang cemerlang ini, Pak Ismail akan memberi titik tiga (semacam nilai A), yang kemudian membuat kepercayaan diri saya meningkat. Untuk yang payah, tentu membuat saya merasa dipermalukan karena Bapak Dosen yang satu ini tak ragu-ragu mencerca karya tersebut, seberapapun usaha keras yang telah saya lakukan untuk menyelesaikannya.</p>
<p>Di akhir sesi kuliah, ada pernyataan menggembirakan untuk saya dari Pak Ismail. Beliau bilang, saya ini punya <em>gift</em>. Saya harus terus menulis karena saya berbakat. Lalu saya mendapat nilai A dan senang sekali rasanya.</p>
<p>Dengan semangat, saya teruskan lagi sekuelnya, Penpop II. Kalau yang pertama sesi penulisan fiksi, maka yang ini sesi penulisan artikel, ficer, dan semacamnya. Banjiran kritik saya peroleh semester itu, tapi pada akhirnya nilai saya sekali lagi A. Pesan terakhir beliau pun, “Teruslah menulis.”</p>
<p>Setelah lulus, beberapa kali saya berpapasan dengan Pak Ismail di koridor kampus. Kata sapaannya selalu, “Hey, Anda yang penulis itu kan? Apa kabar? Nggak pulang ke Bali?”</p>
<p>Menyenangkan bahwa beliau masih ingat saya, di antara murid-murid beliau yang banyak. Di situ saya disadarkan bahwa saya adalah penulis, dan yang dikerjakan seorang penulis mestinya adalah menulis! Betapa sia-sianya hidup seorang penulis kalau dia tidak menulis&#8230;</p>
<p>Pemahaman itu menggugah saya berkali-kali di kehidupan saya selanjutnya sampai sekarang.</p>
<p>Belakangan saya tahu bahwa itulah cara beliau &#8211;yang amat bijaksana&#8211; untuk memotivasi anak-anak didiknya agar terus bersemangat menulis.</p>
<p><a href="http://helvytr.multiply.com/journal/item/167?&amp;=&amp;item_id=167&amp;page_start=100&amp;view:replies=reverse" target="_blank">Helvy Tiana Rosa</a> menulis:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Usai mata kuliah ini berlalu, saya tak mengerti, mengapa setiap kali bertemu di koridor fakultas, ia selalu mengacungkan dua jempolnya pada saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Kenapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">“Mengingatkan Anda untuk terus menulis karena Anda sangat berbakat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Lima</span><span lang="EN-US"> tahun kemudian, saat buku pertama saya terbit, Pak Marahiminlah yang memberi kata pengantar. “Tentu saja saya selalu ingat pada Anda. Tulisan Anda benar-benar bagus. Ya, sejak dulu saya sudah melihat, Anda sangat berbakat! Jadi jangan berhenti, Helvy!”</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><a href="http://indrapiliang.com/2007/11/04/mengapa-saya-jadi-penulis/" target="_blank">Indra J. Piliang</a> mengenang: </span></p>
<blockquote><p>Bantuan paling signifikan datang dari mata kuliah Penulisan Populer yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris FSUI. Pengajarnya adalah sastrawan Ismail Marahimin. Metode pengajarannya unik, yakni para mahasiswa harus menulis satu per minggu yang akan dipresentasikan dan “dibantai” dalam jam-jam pelajaran yang membuat bulu kuduk merinding. Banyak mahasiswa yang hilang di tengah jalan waktu itu, karena takut “dikerjai” oleh sang dosen.</p>
<p>Tetapi, satu hal yang disampaikan oleh Pak Ismail kala itu masih saya ingat. “Kalau anda lulus mata kuliah ini, itulah modal hidup anda!”</p></blockquote>
<p>Ada rasa kehilangan yang begitu besar ketika akhir Desember lalu saya mendengar berita bahwa Pak Ismail telah tiada.</p>
<p>Dan perangmu pun usai, Pak&#8230; Selamat jalan&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-113" title="and-the-war-is-over" src="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2008/12/and-the-war-is-over.jpg?w=325&#038;h=500" alt="and-the-war-is-over" width="325" height="500" /></p>
Posted in menyapa Tagged: penulis <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=109&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2009/01/10/dan-perangmu-pun-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2008/12/ismail-marahimin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ismail-marahimin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bonekarusia.files.wordpress.com/2008/12/and-the-war-is-over.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">and-the-war-is-over</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari yang Aneh</title>
		<link>http://bonekarusia.wordpress.com/2008/12/21/hari-yang-aneh/</link>
		<comments>http://bonekarusia.wordpress.com/2008/12/21/hari-yang-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 07:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bonekarusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bonekarusia.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa buku yang setelah selesai membacanya membuat saya berpikir dan merasa sesuatu. Tak penting apa saja &#8217;sesuatu&#8217;nya, yang jelas buku-buku semacam ini berhasil mempengaruhi saya.
Orang-Orang Terasing karya Pamusuk Eneste adalah salah satunya.
Sepersis judulnya, isinya adalah lima belas cerpen bertokoh &#8216;orang-orang yang terasing&#8217;.
H. B. Jassin menulis pengantar di buku ini dengan ulasan mengena -walaupun sedikit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=104&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada beberapa buku yang setelah selesai membacanya membuat saya berpikir dan merasa sesuatu. Tak penting apa saja &#8217;sesuatu&#8217;nya, yang jelas buku-buku semacam ini berhasil mempengaruhi saya.</p>
<p>Orang-Orang Terasing karya <a href="http://johnherf.wordpress.com/2008/01/31/proses-kreatif-penulis-2/" target="_blank">Pamusuk Eneste</a> adalah salah satunya.</p>
<p>Sepersis judulnya, isinya adalah lima belas cerpen bertokoh &#8216;orang-orang yang terasing&#8217;.</p>
<p>H. B. Jassin menulis pengantar di buku ini dengan ulasan mengena -walaupun sedikit <em>spoiling</em>-, sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Orang-orang yang diceritakan dalam kumpulan cerpen ini menimbulkan kesan orang-orang yang aneh dan terasing. Mereka berpikir searah, sepatah dua patah kata dari lawan bicara menjadi bahan untuk berpikir sekitar perkataan itu dan orang yang mengucapkannya.</p>
<p>Atau mereka mengemukakan perkiraan-perkiraan yang tidak diucapkan. Maka terjadilah monolog-monolog berupa penalaran yang ketat searah hingga sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bukan kesimpulan lawan bicara.</p></blockquote>
<p>Pernahkah anda, ketika bertemu orang lain; bisa jadi teman, keluarga, rekan kerja, atau orang yang baru dikenal, dan anda sibuk bermonolog sendiri mengenai diri lawan bicara padahal bisa jadi hasilnya akan berbeda jika terjadi dialog?!</p>
<p>Tragedi yang dapat diakibatkan monolog tadi adalah minimal jadi menghakimi lawan bicara dengan tidak adil. Dalam cerpen-cerpen Pamusuk Eneste bahkan bisa berujung fatal: pembunuhan.</p>
<p>Ujar H. B. Jassin lagi:</p>
<blockquote><p>Nampak alam batin orang yang tidak berkomunikasi dengan dunia luar. Peristiwa luar hanyalah penggerak peristiwa-peristiwa di alam batin, alam obsesi yang introvert, yang sibuk menganalisa peristiwa-peristiwa yang barusan dialaminya. Ia membentuk dunianya sendiri yang tidak kongruen dengan dunia sekitarnya.</p></blockquote>
<p>Sebagai orang yang cenderung introvert, saya jadi tersadar bahwa kejadian-kejadian di kumpulan cerpen ini <em>kongruen</em> dengan alam pikiran saya sendiri.</p>
<p>Saya bisa menciptakan karakter teraneh di dunia di pikiran saya tentang lawan bicara saya. Bagus kalau karakter yang terbentuk kocak sehingga saya bisa terhibur dan tertawa. Tapi seringnya karakternya seram, atau pemarah, atau kejam, yang membuat saya belum apa-apa sudah takut duluan menghadapinya.</p>
<p>Atau kadang karakternya menyebalkan, egois, culas, sombong, sehingga sudah tumbuh saja rasa benci atau tak suka di hati saya.</p>
<p>Dan Sang Paus bertanya,</p>
<blockquote><p>Manakah dunia yang sebenarnya? Apakah dunia si Aku, ataukah dunia yang masuk ke dalam dunia si aku?</p></blockquote>
<p>Tak ada yang jelas. Dan bukan tidak mungkin terjadi sebaliknya. Orang-orang yang berhadapan dengan saya pun punya alam pikiran mereka sendiri tentang saya. Bisa jadi mereka pun takut atau benci pada saya.</p>
<p>Dijelaskan lagi dalam pengantar buku ini:</p>
<blockquote><p>Seringkali kita berhadapan dengan dunia sekitar yang salah paham tentang diri kita. Kita terkepung oleh maslah-masalah yang bukan masalah kita dan kita tak berdaya melawan.</p></blockquote>
<p><img class="aligncenter" title="Orang yang Aneh" src="http://kisd.de/~krystian/blog/loom_thecrowd.jpg" alt="" width="369" height="280" /></p>
<p><em>Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan</em>, pikir PAS Band.</p>
<p>Kita melihat orang-orang lain asing, dan mereka pun menganggap kita asing.</p>
<p><em>We&#8217;re all seems so different, but we&#8217;re just the same</em>, cetus Jamie Cullum.</p>
<p>Dan kalau kita lebih banyak melihat perbedaan dalam diri manusia yang kita temui daripada persamaan, maka dalam sehari kita akan bertemu dengan banyak sekali orang aneh.</p>
<p>Dan hari kita akan menjadi &#8216;hari yang aneh&#8217;, seperti rekaan Uya Kuya.</p>
<p>Dan simpul H. B. Jassin:</p>
<blockquote><p>Pada akhirnya, manusia hanya seorang diri di dunia ini.</p></blockquote>
Posted in buku Tagged: buku, cerpen, sastra <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bonekarusia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bonekarusia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bonekarusia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bonekarusia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bonekarusia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bonekarusia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bonekarusia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bonekarusia.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bonekarusia.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bonekarusia.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bonekarusia.wordpress.com&blog=3449094&post=104&subd=bonekarusia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bonekarusia.wordpress.com/2008/12/21/hari-yang-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f64594a151b510512bf8b8b7bed34db9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bonekarusia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kisd.de/~krystian/blog/loom_thecrowd.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Orang yang Aneh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>