Boneka Ketujuh

Januari 19, 2009

Saya Tak Akan Pernah Menyerah!

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, — bonekarusia @ 5:48 pm

“Seperti suami saya, seperti Munir, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus menuntut siapa pun yang terlibat dalam permufakatan jahat tersebut.”

Sepenggal kalimat itu ditulis Suciwati, istri mendiang aktivis HAM Munir Said Thalib, dalam suratnya untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 September 2006—tepat dua tahun wafatnya Munir. Kalimat yang semakin meneguhkan ucapan Munir, “Keberanian saya tak sebanding dengan keberanian istri saya.”

Semua orang akhirnya menyadari ucapan Munir. Suciwati punya keberanian yang lebih besar dibanding suaminya. “Sejak awal saya juga tahu hanya akan menghadapi kegelapan. Tapi apakah saya harus diam saja? Tidak!” ujar Suciwati saat wawancara khusus dengan SINDO, akhir Desember lalu. Berikut petikannya.

Bagaimana Anda memaknai perjuangan melawan institusi yang begitu kuat?

Apa yang sudah saya lakukan, kalau di tataran hukum baru langkah awal. Sejak awal saya melihat pembunuhan terhadap Munir itu konspiratif. Kalau sampai kini perjalanan kasus masih di Muchdi (Muchdi Purwoprandjono), ini baru awal. Justru kita mulai mencoba masuk di jaring laba-laba Badan Intelijen Negara (BIN).

Begitu rumitnya untuk bisa kita pecahkan. Kejahatannya ya ada di sana. Kita membutuhkan Badan Intelijen Negara yang profesional, diberi dasar hukum yang kuat. Yang penting dalam hal ini adalah segera mereformasi BIN. Selama ini, dalam banyak kasus, BIN tidak berfungsi baik. Padahal lembaga itu ujung tombak keamanan negara kita.

Yang Anda lawan bukan personal, melainkan sistem dan institusi yang kuat. Bagaimana Anda berusaha mendobraknya?

Kalau kita mencintai negara ini, maka salah satunya adalah mereformasi BIN yang belum memiliki dasar hukum yang kuat. Kalau kemudian ada penyalahgunaan, itu karena tidak ada dasar hukumnya.

Makanya harus diatur dulu lewat undang-undang. Yang salah kan di situ. Bukan BIN-nya, tetapi negaranya. Di mana pemerintah memberikan ruang kosong yang sangat luas untuk terjadinya penafsiran apa pun yang mereka (BIN) mau.

Sampai kapan Anda akan menyuarakan ini?

Saya manusia biasa, tapi saya terbiasa menjaga harapan. Sebuah harapan yang selama ini dicita-citakan almarhum Munir. Mempunyai negara yang demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Harapan saya sederhana, menginginkan anak cucu saya hidup di sebuah negara yang kepahitan-kepahitan kemarin tidak dijalani lagi.

Anda bisa menjaga semangat itu hingga empat tahun sampai sekarang?

Banyak cermin yang bisa saya jadikan semangat untuk kemudian melangkah sampai hari ini. Korban peristiwa 1965 (G30S) misalnya, bagaimana mereka begitu luar biasa. Mereka sudah distigmatisasi, mereka tidak mendapatkan kesempatan dan hak untuk berpolitik, mereka dimiskinkan, semuanya ditutup.

Sampai hari ini, terhadap korban-korban pelanggaran HAM itu tidak ada satu pun pengakuan dari negara, pemerintah terutama. Ini bukan persoalan memaafkan, tapi persoalan ke depan, jangan sampai hal ini terjadi lagi.

Apakah Anda merasa saat ini ada sebagian masyarakat yang mencoba menyandarkan harapannya ke Anda? Misalnya kasus Tanjung Priok,Talangsari yang hingga saat ini belum terungkap?

Saya pikir bagus kalau semua korban melakukan apa yang seperti saya lakukan. Apa yang selama ini sudah kita lakukan artinya akan membuat banyak orang terinspirasi.

Itu juga bisa menyemangati Anda?

Tentu saja, itu hal yang membuat saya merasa bahwa kalian adalah bagian dari hidup saya. Begitu juga sebaliknya, saya bagian dari kalian. Itu harus dilakukan karena selama ini yang menghegemoni kita adalah rasa takut.

Kita semua diinspirasi oleh almarhum (Munir), bahwa justru ketakutan itulah yang harus kita lawan. Karena rasa takut itu membuat kita kehilangan rasionalitas, intelektualitas, dan sering kali justru membuat kejahatan baru.

Figur Munir di mata Anda seperti apa?

Yang pasti, dia orang tercinta. Sangat konsisten tidak hanya di perkataan, tapi juga perbuatan. Sedikit sekali orang yang seperti itu.

Dulu banyak orang bilang Munir terlalu berani. Artinya dia berani mengkritik sistem yang besar dan sulit diruntuhkan?

Ya, karena kita yakin hidup mati manusia itu Tuhan yang menentukan. Meski kita dijaga satu peleton tentara, kalau Tuhan mengatakan kamu mati hari ini, maka mati. Sama halnya ketika dia melakukan advokasi kepada beberapa orang, ada yang bilang, ”Berani banget tuh orang.” Padahal, risikonya sama dengan orang yang tidak melakukan apa pun. Karena nyawa urusan Tuhan.

Ada konspirasi di balik kasus kematian Munir?

Itu logikanya. Apalagi ini intelijen yang melakukan, bagaimana mungkin kita bisa membongkarnya. Secara institusi bisa saja mereka tidak mau mengungkapkan karena mereka menganggap yang diperangi selama ini adalah institusinya. Padahal tidak, kita justru ingin menyelamatkan institusinya. Membuang borok-boroknya.

Anda sedang melawan benteng yang sangat tebal? Bagaimana bisa bertahan?

Cul-de-sac (buntu). Ya, saya pikir semangatnya sama. Sejak awal saya juga tahu hanya kegelapan yang akan saya temui. Tapi apakah saya harus diam saja? Tidak. Sekecil apa pun saya harus melakukan sesuatu. Ini harus terus- menerus kita suarakan. Kalau mau berubah, harus terus bicara.

Sumber: Koran Sindo, 9 Januari 2009

Januari 10, 2009

Dan Perangmu pun Usai

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag: — bonekarusia @ 5:37 pm

Pertama kali saya tahu bahwa menulis itu bisa jadi profesi adalah dari Pak Ismail Marahimin. Dan pertama kali saya tahu bahwa menulis itu perlu aturan-aturan, strategi, tips, trik, seni, kesungguhan dan ketekunan, adalah dari kuliah Penulisan Populer (Penpop) yang diajar oleh beliau.

Penpop ini mata kuliah legendaris dengan dosen yang luar biasa, begitu kira-kira yang saya dengar dari teman saya ketika kami sedang menimbang-nimbang pilihan mata kuliah untuk memasuki semester lima di FIB-UI.

Penpop terdaftar sebagai mata kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, namun terbuka juga beberapa kelas untuk siswa-siswa jurusan lain, bahkan fakultas lain.

Katanya nanti isi kuliahnya adalah menulis satu tulisan setiap minggu dan katanya nanti tulisan kita akan “ditelanjangi” satu per satu oleh Sang Dosen yang luar biasa itu. Di depan seisi kelas!

Berani terima tantangan?

Tak pikir panjang saya dan teman saya yang berbakat sebagai informan itu pun mendaftarkan diri ikut kelas menulis itu. Saya bersyukur karena waktu itu saya memilih untuk berani. Karena ini sangat menentukan jalan hidup saya selanjutnya.

Maka itulah dia Sang Dosen. Stelannya sederhana, selalu sederhana. Baju kaos lengan pendek berkerah, topi sporty, celana bahan warna gelap yang agak mengatung sedikit, dan sepatu sandal kulit.

ismail-marahimin

Ia dengan kacamata yang bertengger di hidung selalu tampak santai dan menikmati pekerjaannya. Karena kerap berekspresis serius, kita jadi tak mudah mengantisipasi cetusan kelakarnya.

Misalnya tiba-tiba dia berteriak, “Merdeka!” ketika memasuki kelas.

Gayanya itu salah satu hal yang membuat saya nyaman berada di kelasnya.

Ya, kami diminta menghasilkan tulisan tiap minggu. Itu pertama kalinya saya tahu bahwa point penting untuk menjadi seorang penulis adalah disiplin.

Dalam usaha memenuhi ‘deadline’ tersebut, banyak rintangannya. Tulisan saya kadang cermerlang kadang payah. Untuk yang cemerlang ini, Pak Ismail akan memberi titik tiga (semacam nilai A), yang kemudian membuat kepercayaan diri saya meningkat. Untuk yang payah, tentu membuat saya merasa dipermalukan karena Bapak Dosen yang satu ini tak ragu-ragu mencerca karya tersebut, seberapapun usaha keras yang telah saya lakukan untuk menyelesaikannya.

Di akhir sesi kuliah, ada pernyataan menggembirakan untuk saya dari Pak Ismail. Beliau bilang, saya ini punya gift. Saya harus terus menulis karena saya berbakat. Lalu saya mendapat nilai A dan senang sekali rasanya.

Dengan semangat, saya teruskan lagi sekuelnya, Penpop II. Kalau yang pertama sesi penulisan fiksi, maka yang ini sesi penulisan artikel, ficer, dan semacamnya. Banjiran kritik saya peroleh semester itu, tapi pada akhirnya nilai saya sekali lagi A. Pesan terakhir beliau pun, “Teruslah menulis.”

Setelah lulus, beberapa kali saya berpapasan dengan Pak Ismail di koridor kampus. Kata sapaannya selalu, “Hey, Anda yang penulis itu kan? Apa kabar? Nggak pulang ke Bali?”

Menyenangkan bahwa beliau masih ingat saya, di antara murid-murid beliau yang banyak. Di situ saya disadarkan bahwa saya adalah penulis, dan yang dikerjakan seorang penulis mestinya adalah menulis! Betapa sia-sianya hidup seorang penulis kalau dia tidak menulis…

Pemahaman itu menggugah saya berkali-kali di kehidupan saya selanjutnya sampai sekarang.

Belakangan saya tahu bahwa itulah cara beliau –yang amat bijaksana– untuk memotivasi anak-anak didiknya agar terus bersemangat menulis.

Helvy Tiana Rosa menulis:

Usai mata kuliah ini berlalu, saya tak mengerti, mengapa setiap kali bertemu di koridor fakultas, ia selalu mengacungkan dua jempolnya pada saya.

Kenapa?

“Mengingatkan Anda untuk terus menulis karena Anda sangat berbakat!”

Lima tahun kemudian, saat buku pertama saya terbit, Pak Marahiminlah yang memberi kata pengantar. “Tentu saja saya selalu ingat pada Anda. Tulisan Anda benar-benar bagus. Ya, sejak dulu saya sudah melihat, Anda sangat berbakat! Jadi jangan berhenti, Helvy!”

Indra J. Piliang mengenang:

Bantuan paling signifikan datang dari mata kuliah Penulisan Populer yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris FSUI. Pengajarnya adalah sastrawan Ismail Marahimin. Metode pengajarannya unik, yakni para mahasiswa harus menulis satu per minggu yang akan dipresentasikan dan “dibantai” dalam jam-jam pelajaran yang membuat bulu kuduk merinding. Banyak mahasiswa yang hilang di tengah jalan waktu itu, karena takut “dikerjai” oleh sang dosen.

Tetapi, satu hal yang disampaikan oleh Pak Ismail kala itu masih saya ingat. “Kalau anda lulus mata kuliah ini, itulah modal hidup anda!”

Ada rasa kehilangan yang begitu besar ketika akhir Desember lalu saya mendengar berita bahwa Pak Ismail telah tiada.

Dan perangmu pun usai, Pak… Selamat jalan…

and-the-war-is-over

Juni 14, 2008

Keluarga Rempah

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag: — bonekarusia @ 4:46 pm

Hihihi…

Itu nama kami, sekumpulan anak bodoh yang menamai diri sendiri dengan jenis-jenis rempah. Ada Jahe, Kayu Manis, Kunyit, dan saya: Temulawak. Yeah, norak sekali memang. Lupa gimana awalnya. Tapi barangkali ini semacam kompensasi karena kami frustrasi untuk tak akan pernah bisa se-sexy Spice Girls hehehe…

Di sini Jahe berperan sebagai ‘ibunya anak-anak’ karena secara alami dia hangat seperti induk ayam. Tapi ada kalanya juga Jahe berperan sebagai ‘ibu mertua yang menyindir menantu yang tidak tahu adat’. Kejam sekali dia pas kayak gini.

Kayu Manis berperan sebagai ‘anak nakal’. Dia suka bertanya-tanya dengan tampang ‘ingin belajar’, tapi begitu dijawab, dia akan mengeluarkan argumen-argumen cerdas untuk menyerang balik si penjawab. Hanya untuk bersenang-senang. Karena anak ini pada dasarnya memang suka ngajak orang berantem.

Kunyit berperan sebagai ‘anak petualang’ yang kerap membuat kami bertiga khawatir akan keselamatannya dan tidak tahu mesti berbuat apa. Paling-paling akhirnya cuma menghela nafas dan bergumam, “Yah… emang begitu sih anaknya….”

Dan saya, Temulawak, berperan sebagai ‘anak manis’ (haha, suka-suka donk, blog-blog aku!). Tapi untuk fair-nya, saya menduga ketiga rekan saya tsb akan melabel saya sebagai ‘anak menyebalkan’. Untuk sering telat, sering lupa, dan kecenderungan konstan untuk berlaku norak, anytime, anywhere.

Ada satu sifat seragam di antara kami (selain bodoh, tentunya), yaitu pedas. Pedas, baik dalam rangka menyatakan kebenaran maupun ‘just for kicks’.

Tapi itu kecuali saya. Saya selalu kurang pedas dibanding mereka. Baik karena saya memang orangnya terlalu baik, atau terlalu penakut.

And i become a kid all the way with these girls. Kidult, barangkali sebutannya. Kami melewati saat-saat sulit maupun gembira bersama. Yah, kadang-kadang masing-masing sok-sok menyimpan kesulitan hidup sendiri. Tapi seringkali akhirnya bocor, curhat-curhat juga.

Dan kami membicarakannya senantiasa dengan sense of humor yang kadang keterlaluan. Dengan kurang ajar meledek dunia yang sedang benar-benar serius.  

Lucu kadang-kadang, kalo dipikir. Dalam hidup ini, ada orang-orang yang kita cuma berpapasan, lalu mereka hilang dan tidak muncul-muncul lagi. Tapi ada juga orang-orang yang entah bagaimana akan mengiringi kita terus. Suka atau tidak. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya.

Yang terakhir ini saya alami dengan Keluarga Rempah. They’re just always be there. Padahal tidak pernah saya rencanakan.

Jadi inget awal tahun baru lalu, ada adegan kami tanpa sengaja sudah mengelilingi Jakarta. Kayu Manis nginep di rumah saya, di Jaksel. Lalu Kunyit datang dari rumahnya di Jakut. Lalu kami bertiga berangkat mengunjungi seorang teman yang sakit di Jakbar. Dari situ, kami mau ke rumah Jahe di Jaksel, dan rutenya melewati Jaktim.

Hehe… cara yang paling berkesan untuk melewati hari pertama tahun baru. Meski besoknya semua merasa badannya lemas tak bertulang.

Well, it’s good to have them. 

Juni 11, 2008

Abah, Catur dan Kopi

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, — bonekarusia @ 2:35 pm

Abah saya, adalah maniak catur. Yang terparah se-Kabupaten, atau setidaknya yang tergila dari semua orang yang pernah saya temui (dan tanyai).

Lingkup hidup beliau penuh diwarnai oleh hitam putih papan catur. Siang malam. Biasanya ia bersama teman-temannya duduk mengeroyok buah-buah catur di meja di depan kios sepatu kami di pasar. Ini berlangsung kira-kira dari jam sepuluh pagi sampai satu siang saat tiba waktunya pulang.

Malamnya, usai shalat Isya di Masjid, beliau bersama teman-teman (kali ini teman-teman yang berbeda dari yang siang) kembali mengeroyok papan catur di pelataran Masjid. Dari jam delapan malam hingga maksimal jam satu malam.

Pernah selama beberapa waktu Abah selalu bertanding catur di rumah salah satu temannya, juga sampai jam satu malam, sehingga Mamah saya menegur keras. “Bah, apa ndak ganggu orang kalo main catur sampe jam satu malem gitu. Kasian istrinya ndak bisa tidur jadinya. Ndak enak, Bah!”

Abah saya diam saja. Barangkali beliau sedikit menyesal, dan berjanji dalam hati tidak akan melakukannya lagi. Dan benar saja, keesokan harinya, ia tak lagi ke rumah siapa-siapa, tetapi ia MENGUNDANG teman-temannya itu untuk bertanding di rumah. Dan membuat Mamah saya dongkol bukan main.

Cukup dengan catur, ditemani segelas besar kopi hitam setiap hari, membuat hidup Abah saya lengkap dan bahagia. Hingga sekarang saat usianya sudah menginjak enam puluh tiga.

Bukan sekadar penggila, beliau juga meningkatkan statusnya menjadi profesional catur. Abah kini punya jaket merah yang keren, bertuliskan: ATLET. Hehe, yeah… beliau telah mewakili Kabupaten kami (Bangli) berkali-kali pada setiap pekan olah raga se-provinsi. Pialanya berjejer di rumah, yang selama ini membuat Mamah saya alih-alih terkesan, beliau malah semakin dongkol. Karena Abah menjadi semakin giat ‘berlatih’.

Di sebuah buku (rasanya di Men are From Mars, Women are From Venus), dinyatakan bahwa laki-laki memang mempunyai kecenderungan menjadi maniak terhadap sesuatu hobi (misalnya otomotif, komputer, naik gunung, memancing atau pun catur), yang oleh karenanya perempuan sebaiknya tidak usah cemburu. Karena hanya akan makan hati. Penyakit ini sudah sulit disembuhkan.

Tapi tak adil juga ya kalau disebut penyakit, karena main catur kan olah raga otak. Terbukti dengan kesehatan otak Abah saya yang Alhamdulillah terasah tajam hingga sekarang. Ingatannya baik, dan cara berpikirnya pun selalu taktis dan strategis (in a positive way) di setiap kesempatan. Sampai saat ini saya tahu, saya tidak akan pernah coba-coba jadi ‘lawan’ beliau. Pasti kalah deh.

Sebagai tribute terhadap hobi Abah, saya menulis sedikit tentang sejarah catur. Yang thanks to all sudah menyebar luas di berbagai situs di internet ini. Meski tak semuanya mencantumkan nama saya, salah satunya di sini. Aslinya sih saya tulis untuk di sini dan secara resmi dicopy di sini. Dan ada pula versi terjemahan bahasa Inggrisnya di sini.

Tapi tidak apa-apa. Saya akan menulis lagi tentang catur. Untuk abah, dan semua maniak catur di seluruh dunia.

Mei 27, 2008

Tour de Java Sambil Bernyanyi Indonesia Raya

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, , , , — bonekarusia @ 4:54 pm

Ada 278 orang bersepeda 2000 km (mengitari pulau Jawa dan Madura) sambil menanam pohon di setiap kota?

Wah, keren juga ya…

Tour de Java 2.000 km: Rombongan Nyanyikan Indonesia Raya di Hotel

Sumber: Suara Merdeka, 27 Mei 2008

BREBES - Setelah menempuh perjalanan tujuh jam lebih, rombongan sepeda Tour de Java, dari Pondok Pesantren Al Zaytun, Indramayu, kemarin pukul 13.20 singgah di Dian Hotel, Tanjung, Brebes.

Rombongan dipimpin Pimpinan Ponpes Syeikh DS Panji Gumilang, diterima Ymt Camat Tanjung Hadi Prawoto BA, Kapolsek AKP Riyanto dan Danramil Wahyudi.
Tour de Java sesuai rencana akan menempuh perjalanan 2.000 km melewati jalur pantura
Brebes-Tegal-Pekalongan-Semarang-Rembang-Tuban-Gresik-Surabaya-Madura.
Rombongan berjumlah 278 peserta terdiri atas santri ponpes dan klub sepeda dari Indramayu. Peserta dilepas dari Ponpes Al Zaytun di Desa Mekarjaya Kecamatan Gantar, Indramayu, Jabar Senin (26/5) pukul 05.00.

Ketika tiba di halaman Dian Hotel, rombongan sejenak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Selanjutnya sore hari melakukan kegiatan penanaman pohon di Desa Tanjung.

Melatih Fisik

Menurut Pimpinan Ponpes Al Zaytun Syeikh Panji Gumilang, kegiatan yang diistilahkan jelajah akbar ini digelar berkaitan Seabad Hari Kebangkitan Nasional, bertujuan untuk mengenalkan para santri mengenal daerah luar.

Sekaligus mengenal adat dan budaya bangsa yang beraneka ragam.
’’Kegiatan ini juga untuk melatih fisik supaya tetap sehat,’’ tuturnya.

Pagi ini (27/5) pukul 05.00 rombongan melanjutkan perjalanan ke Pekalongan. Sesuai jadwal panitia, peserta akan istirahat dan bermalam di Tirto, Pekalongan, selanjutnya berangkat lagi Rabu (28/5) ke Semarang dan istirahat di Mangkang, Semarang. Kamis 29 Mei sampai Kaliori, Rembang, dan 30 Mei di Jembel (Tuban).

Seluruh perjalanan 17 hari, dari Madura, kembali melewati jalur selatan Nganjuk (Jatim)- Sragen-Wates-Prembun (Kebumen)-Wangon-Bumiayu-kembali ke jalur pantura di Tanjung. ’’Kami akan kembali lagi di Dian Hotel, Tanjung 10 Juni,’’ kata Humas Panitia, Latief. (wh-17)

Sumber lain:
Pikiran Rakyat – Jelajah Pulau Jawa Madura 2000 km

Situs Al-Zaytun – Tour Jawa Madura Naik Sepeda

Harian Pelita – Bersepeda Jelajah Jawa-Madura  

Majalah Madina – Meredam Pemanasan Global Dengan Mencontoh Ma`had al-Zaytun

Majalah Berita Indonesia – Gaya Hidup mengayuh Kereta Angin di Al-Zaytun

Pemkab Kulon Progo Yogyakarta – Tour de Java Akan Singgah di Kulon Progo

Mei 9, 2008

Pengamen Itu di Indonesian Idol

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, — bonekarusia @ 2:02 pm

Oh, saya sangat suka pengamen. Mereka datang menghibur di saat kita bosan berjam-jam di bis yang panas dan sesak dengan debu knalpot.

Tapi saya benci setengah mati dengan orang-orang yang menamai diri pengamen, padahal yang dilakukannya adalah meminta-minta dengan gaya rampok. Mereka mengeluarkan suara-suara yang amat mengganggu dan hanya membuat kita tambah depresi. Sudah begitu, marah-marah pula kalau tidak dikasi uang.

Ngomong-ngomong, saya punya cerita soal pengamen terbaik yang pernah saya temui.

Suatu hari dua tahun yang lalu, saya hendak naik Kopaja dari Cilandak menuju Blok M. Tapi saya sadari kalau saya tidak punya uang kecil, jadi saya harus menukarnya –tapi pasti sulit karena itu pagi-pagi sekali dan uang saya 50 ribuan– atau membeli sesuatu. Maka saya belilah sebuah majalah musik yang kelihatannya bagus, seharga belasan ribu. Saya pikir, lumayanlah buat bacaan di bis.

Begitu naik ke Kopaja, saya buka plastik majalahnya. Eh, rupanya isinya chord semua. Lagu-lagunya sih yang populer saat itu, tapi tidak akan banyak gunanya untuk saya yang tidak bisa main gitar ini. Sedikit bete jadinya, karena sudah beli mahal-mahal.

Tapi kebetean itu lenyap seketika demi mendengar suatu suara laki-laki yang posisinya di belakang saya. Dia menggenjrengkan gitarnya membuat intro, lalu mulailah lantunan lagu paling populer saat itu disajikan dengan suara serak berat yang luar biasa menawan.

“Di daun yang ikut… mengalir lembut…

Terbawa sungai ke… ujung mata…

Dan aku mulai takut… terbawa cinta…

Menghirup rindu yang… sesakkan dada….”

Bagi yang sering mendengar ini versi Noe Letto, jangan berharap akan mirip. Pengamen ini membuat saya membayangkan suara Bill Saragih atau Louis Armstrong waktu muda. Serak-seraknya itu lho… Dan dia melampaui semua standar pengamen yang bagus. Tidak ada yang fals, sudah pasti. Volume pas, tidak terlalu kecil, dan tidak memekakkan telinga juga. Improvisasinya oke –tidak noraklah pokoknya– dan toh karakter khas suaranya saja sudah menjadi improvisasi sendiri.

Sayang, waktu itu dia cuma menyanyi satu lagu. Tapi satu lagu itu cukup membuat saya mengulurkan majalah yang tadi saya beli, untuknya.

Secara fisik, dia tidak jauh beda dengan pengamen-pengamen muda di Jakarta kebanyakan. Lusuh, tidak ada unsur kinclong, dan melengkapi diri dengan asesoris-asesoris berupa gelang dan anting. Dia solo saja waktu itu, hanya dengan gitar.

Sulit melupakan suara itu. Jadi, ketika saya dengar lagi suara itu sebagai salah satu penampilan finalis Indonesian Idol, I knew it! I just knew it. Ada perasaan memang bahwa pengamen seperti dia tidak akan tersia-sia di jalanan.

Anyway, kalau mau vote dia, ketik saja ARIS.

Mei 5, 2008

Orang-Orang Jenius

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, , — bonekarusia @ 8:56 pm

Dulu, waktu SMP di Bangli (suatu daerah pegunungan di Bali), beruntung saya pernah sekelas dengan seorang jenius, yang kini fotonya dipajang di tembok gedung Depdiknas bersama foto makhluk-makluk jenius lainnya. Itu karena dia adalah anak Indonesia yang pertama kali membawa pulang medali emas di Olimpiade Fisika Internasional. Waktu itu di Italia, tahun 1999. Menyusul kemudian penghargaan The First Step to Nobel Prize yang dia terima dari Institut Fisika Polandia.

Dialah Agus Wirawan.

Sebenarnya ada dua nama I Made Agus Wirawan di kelas kami waktu itu. Maka wali kelas kami dengan asal melabeli nama mereka dengan “A” dan “B”, supaya gampang kalo dipanggil tak perlu nengok dua-duanya. Yang jenius itu Agus A.

Alkisah selama semester pertama di SMP, saya yang duduk manis di bangku paling depan tidak terlalu menyadari kehadiran Agus A. Dia itu anak yang tidak populer yang duduk di bangku pojok paling belakang. Kecil pula perawakannya. Sama sekali tidak menonjol.

Kalau ada acara siapa-bisa-tunjuk-tangan-dan-berteriaklah, Agus A tak pernah kedengaran suaranya. Juga kalau ada adegan siapa-merasa-pintar-maju-ke-depan, Agus A juga tak muncul. Jelas dia itu bukan tipe banci tampil.

Bagaimanapun, semester pertama di SMP mengesankan buat saya karena waktu itu saya penyandang juara satu. Momen juara kelas yang pertama dan terakhir yang saya alami. :p

Saya sudah amat jumawa ketika di semester berikutnya wali kelas kami (yang kebetulan guru Matematika) mengumumkan bahwa ada seorang anak di kelas kami yang selalu mendapat nilai 10 untuk ulangan Matematika dan Fisika. Selalu. Setiap kali ulangan. Baik yang quiz bulanan, maupun ulangan umum. Tapi karena nilai tingginya tidak merata di semua pelajaran, jadinya dia cuma mendapat peringkat ke-3 di kelas. Itulah Agus A.

Serentak Agus A menjadi anak yang paling populer saat pelajaran Matematika / Fisika. Pagi-pagi, kalau hari itu ada PR Matematika / Fisika, Agus A menjadi most wanted guy untuk dicontek PR-nya. Karena jawabannya selalu benar. Selalu. Setiap kali.

Cuma seringkali para pencontek itu (termasuk saya sang mantan -dan selalu hanya mantan- juara kelas) kena batunya kalau disuruh menjelaskan caranya oleh guru. Karena seperti tipikal anak jenius, Agus A suka membuat cara-cara penyelesaian soal yang tidak pernah diajarkan guru. Berbagai caralah dia variasikan. Sayangnya, kalau Agus A kami minta menjelaskan atau mengajarkan, kata-katanya tidak pernah jelas buat kami. Tipikal anak jenius, rumit nian pemikirannya.

Beranjak SMU, saya dan Agus A bertemu lagi di sekolah yang sama, meski beda kelas. Memang tidak banyak pilihan SMU di Bangli yang mungil. Dan walaupun namanya tak ada lagi yang menyamai, tetap saja saya mengingatnya sebagai Agus A.

Agus A cukup tersohor di SMU karena sekali lagi dia membuat teman-teman di sekelilingnya ditegur guru karena ketahuan asal mencontek.

Sampai kemudian, di penghujung ujian akhir, terdengar kabar heboh yang diumumkan saat upacara bendera hari Senin. Ya itu tadi, dia jadi anak Bangli, Indonesia, pertama yang menggondol medali emas di Olimpiade Fisika tingkat dunia. Hal yang waktu itu tidak repot-repot saya bayangkan. Tidak heran, karena nilai 10-nya yang konstan itu pasti berarti sesuatu. Ya memang dia jenius. Yang membuat saya iri waktu itu hanyalah karena Agus A pernah ke Italia. Huhuhu.

Tapi ada pula yang memacu saya sejak itu untuk lebih rajin belajar lagi. Rupanya latar belakang keluarga Agus A tidaklah begitu spesial. Orang tuanya bukan yang berada, mereka keluarga petani, seperti kebanyakan keluarga di Bangli. Agus A juga tidak pernah les sempoa, atau les-les canggih lainnya. Dia hanya suka belajar di rumah, kerap sambil tengkurep, karena tak tersedia meja belajar.

Saya ingat, waktu itu punya tiga meja belajar di rumah, peninggalan keempat kakak saya. Saya baru saja berniat meminta pada orang tua satu lagi meja belajar yang akan resmi milik saya -bukan turunan- tapi akhirnya tidak jadi. Malu.

Cerita Lintang, tokoh based on true story yang diceritakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, senantiasa mengingatkan saya pada si anak ajaib Agus Wirawan. Sedih sangat saya oleh akhir kisah Lintang, dan bersyukur demi kisah Agus A yang tidak harus demikian. Dia berkesempatan menempuh pendidikan di California Institute of Technology.

Teringat pula akan tokoh fiktif yang diciptakan Matt Damon dan Ben Afflect di film Good Will Hunting. Will Hunting ini, orang yang ketika kejeniusannya diketahui orang, ia malah mangkir dan tak mau memanfaatkan kecerdasannya sama sekali. Ia menyebabkan banyak psikiater menyerah, banyak ilmuan kecewa, dan seorang sahabat marah besar. Semuanya lantaran, dibanding harus menjadi jutawan dengan cara mudah (cuma mengutak-atik angka), Will Hunting lebih memilih membanting tulang -dalam artian sebenarnya- sebagai tukang batu.

Dan akhirnya, yang dikejarnya dalam hidup bukanlah uang, bukan pula ilmu pengetahuan. Tapi cinta. Akhir yang romantis.

Sedang bagaimana dengan Agus A kini, apa yang sedang ia kejar saya tak tahu. Saya kehilangan jejaknya. Entah di mana anak itu berada. Saya hanya berharap dia baik-baik saja. Dengar-dengar dia bergabung di Lembaga Penelitian Fisika Indonesia dan bertindak sebagai pembimbing adik-adik generasi pelanjutnya.

Well, I’m so proud of him.

April 11, 2008

Halo Dunia!

Diarsipkan di bawah: menyapa — Tag:, , — bonekarusia @ 7:05 pm

Saya sebenarnya punya blog lain, yang isinya artikel-artikel saya yang journalist wannabe. Terinspirasi dari Mr. Budi Rahardjo -orang yang saya bahkan belum pernah mendengar namanya sebelumnya, apalagi kenalan, tapi ketika dia muncul di Koran Tempo dengan pose yang menarik, saya jadi instantly terkagum-kagum padanya- saya jadi pingin buat lebih dari satu blog juga. Blog yang ini untuk ini, blog yang itu untuk itu. Anda-anda para blogger pasti paham.

Mengutip Forrester dalam film Finding Forrester:

No thinking – that comes later. You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is… to write, not to think!”

So, let’s write.

Blog pada WordPress.com.