Boneka Ketujuh

Juni 12, 2009

Bukan Dogma

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag: — bonekarusia @ 11:45 am

“Kalau makan itu pakai sendok, Nak!”

Si anak menoleh. Menatap ibundanya yang sedang merajut baju kecil dari benang wol. Dalam hatinya berpikir, robot2 perajut dijual murah di supermarket. Dan mengapa sang Ibunda tak membelinya saja.

“Pakai remote lebih mudah, Mama.”

“Yang mudah-mudah itu tak baik. Dan sebenarnya tidak semudah itu. Dari dulu orang-orang tua kita mengajarkan bahwa kalau makan itu pakai sendok. Makanannya akan lebih terasa. Diri kita lebih berkelas. Dilihat orang pun lebih santun.”

“Tapi orang-orang tua dulu kan belum kenal remote, Mama. Kalau kenal, mereka pasti mau pakai.”

Ibunda menoleh cepat, “Lancang sekali kamu!” hardiknya. “Jangan pernah bilang begitu tentang orang-orang tua kita. Makan dengan remote itu perbuatan hina! Menyalahi adat! Tuhan pun tak suka kalau manusia tidak bersyukur. Kita punya tangan itu untuk digerakkan! Untuk digunakan! Remote-remote itu bikin kau tidak bersyukur punya jari-jari tangan.”

“Aku bersyukur kok Mama. Yang penting kan prinsipnya makan.”

“Prinsipnya: makan itu pakai sendok. Bagaimana sih, kamu ini diajarkan dari kecil tapi tidak mengerti juga.”

“Tapi setelah aku dewasa, aku jadi paham kalau pakai remote juga bisa makan, Mama.”

Tapi makan dengan remote itu tidak beradab! Jangan ajarkan hal-hal yang tidak baik pada anak cucumu nanti. Sekarang cepat ganti remote-mu itu dengan sendok!”

“Tapi… tapi… aku cuma mau makan, Mama!”

“Makan itu pakai sendok. Titik.”

“Aku tetap mau pakai remote karena dengan remote aku bisa makan lebih baik dan lebih mudah!”

“Anak durhaka! Bikin malu keluarga saja. Jangan sebut dirimu anakku kalau makanmu pakai remote. Cepat ganti dengan sendok!!”

Maret 9, 2009

Hidup Seperti Jazz

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag: — bonekarusia @ 4:05 pm

“Life is a lot like jazz… It’s best when you improvise.”

– George Gershwin

Menyaksikan para musisi jazz beraksi di Java Jazz Festival ke-5 kemarin, membuat saya merenungi beberapa hal tentang hidup. Di keramaian penonton yang menyesaki ruangan saya seakan terasing dalam kesendirian sewaktu mendengar lirihnya denting-denting piano dan misteriusnya cabikan bass, juga hentakan-hentakan halus drum. Mereka bermain pelan dan cepat, halus dan kasar, sepi dan ramai, dan segala kontradiksi yang mungkin.

Hidup juga penuh kontradiksi. Kita tak pernah berwujud dalam satu diksi saja. Selalu ada lawannya.

Hidup juga dinamis, berubah-ubah. Seperti mood yang saya peroleh selama berjam-jam di JCC kemarin. Ada saat-saat rusuh, ada pula saat-saat damai.

Dan improvisasi. Yang paling mendasar dari semua hal yang berhubungan dengan jazz. Tuhan tidak akan mengubah nasib kita kalau kita tidak mengubahnya. Kita senantiasa ada dalam pilihan untuk pasrah dengan apa yang menimpa, atau memilih untuk berimprovisasi.

Charles Mingus dalam otobiografinya berjudul Beneath the Underdog, menyarankan kita untuk berimprovisasi. Dan dalam prosesnya, dia bilang kira-kira seperti ini:

- Jangan takut melakukan kesalahan.
Bermain saja terus. Coba dan jangan pikirkan hasilnya. Karena dalam kesalahan terkandung arah yang membimbing kita menuju kebenaran. Dalam musik, harmonisasi adalah lambang kesempurnaan yang tidak mudah untuk dicapai. Kita berusaha ke arah sana, berusaha dengan keras, tapi kan nggak ada yang sempurna dalam hidup. Kita justru bertugas, sepanjang hidup kita, untuk mencapai kesempurnaan itu. Jadi improvisasi adalah mengambil risiko.

- Kita tidak bermain sendiri.
Barangkali kelihatannya musisi jazz adalah individu-individu yang menonjolkan keunggulannya sendiri. Tapi sebenarnya tak ada yang menarik kalau mereka bermain sendiri. Satu orang bergantung dengan orang lain untuk mencapai keindahan musiknya. Penonton suka adegan sahut-sahutan antar pemain dan mengikuti dialognya. Jadi memang lebih baik kita bekerjasama dengan orang lain daripada sok-sok bermain sendiri melawan yang lain dan malah terlihat konyol.

(Ehm ehm… jadi inget iklan-iklan parpol yang masing-masing menyebut dirinya ‘pahlawan swasembada beras’ tanpa pengakuan bahwa mereka sebenarnya bekerjasama).

- Pelajarilah peraturannya agar bisa melanggarnya.
Ada perbedaan antara orang yang memang tidak tahu peraturan, dengan orang yang tahu dan melanggarnya. Mingus belajar bermain musik di lingkungan ensemble klasik yang sangat berstruktur, kemudian dia belajar komposisi band-band besar di Duke Ellington. Dia mempelajari segala macam peraturan bermain yang ada untuk mengetahui mengapa mereka harus dilanggar.

Dalam dunia politik, misalnya, untuk menggagas sebuah revolusi atau sekadar perubahan, orang harus mendalami segala situasi, undang-undang, ideologi, pemikiran dan filsafat yang berhubungan atau yang ada sebelumnya. Jadi ketika ada tentangan ia bisa menjawab dengan tegak, tegar tanpa tergugah.

- Ada batas dalam kreatifitas.
Mingus bilang bahwa batasan adalah penyebab dan alasan dalam berkreatifitas. Dalam improvisasi di jazz, ada batas waktu untuk setiap pemain, bergiliran, agar tidak kepanjangan dan membuat penonton bosan. Juga ada batasan not, yang meskipun not-nya seperti lari-lari kesana-kemari tapi sebenarnya berada dalam range yang menyesuaikan dengan harmoni.

Dalam hidup, kita punya batasan waktu juga dan batasan sikap, dan barangkali juga batasan budget. Kreatif bukannya tanpa perhitungan.

Dan akhirnya, esensi dari improvisasi adalah mengalirkan ide-ide lalu memilih mana yang bisa dipakai. Kesimpulannya, dalam hidup, kita perlu mengeluarkan segala ide dengan bebas, tanpa takut salah, sambil bekerjasama dengan orang lain, dengan memahami peraturan yang berlaku, dan peduli dengan batasan.

wooh..

Oktober 23, 2008

Being a Polychronic Coordinator

Diarsipkan di bawah: dear diary — bonekarusia @ 10:39 am

Judul yang sulit.

Sesulit penguraiannya. Serumit pencapaiannya.

Jadi, aku punya obsesi utopia ini. Menjadi polychronic coordinator, yaitu pribadi yang bisa mengkoordinasikan banyak pekerjaan sekaligus. Mengalihkan pikiran dan perhatian dari satu hal ke hal lain dengan cepat dan tenang. Dan beres.

Saat ini, dalam hidup, aku punya sedikitnya tiga belas masalah yang harus ditangani. Dan rasanya semuanya tergolong penting dan juga urgent. Kombinasi yang mematikan.

Bagaimana menentukan ini lebih penting dari yang lain… bagaimana memutuskan ini lebih urgent dari yang lain… belum bisa aku jawab.

Sadly, i have this self-destruction pattern. Aku jadi merasa hang, dan jadi stuck. Malah jadi berhenti dan punya kecenderungan melarikan diri. Biasanya, penyakit pasca-stuck ini adalah menyalahkan orang lain, kalau bukan menyalahkan diri sendiri.

My tendency to want to hide away feels easier and
The immediacy is picturing another place comforting to go… but

The only way out is through
The faster we’re in the better
The only way out is through ultimately
The only way out is through
The only way you’ll get better
The only way out is through ultimately

- Alanis

Juni 30, 2008

Dance like no one is watching

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag: — bonekarusia @ 6:55 pm

Work like you don’t need money

Love like you’ve never been hurt

Dance like no one is watching

Sing like no one is listening

and Live like it’s heaven on earth

:-)

 

Juni 24, 2008

Allegory Of The Cave

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag:, — bonekarusia @ 3:07 pm
He climbed toward the blinding light
and when his eyes adjusted
he looked down and could see

his fellow prisoners captivated
by shadows; everything he had believed
was false. And he was suddenly

in the 20th century, in the sunlight
and violence of history, encumbered
by knowledge. Only a hero

would dare return with the truth.
So from the cave's upper reaches,
removed from harm, he called out

the disturbing news.
What lovely echoes, the prisoners said,
what a fine musical place to live.

He spelled it out, then, in clear prose
on paper scraps, which he floated down.
But in the semi-dark they read his words

with the indulgence of those who seldom read:
It's about my father's death, one of them said.
No, said the others, it's a joke.

By this time he no longer was sure
of what he'd seen. Wasn't sunlight a shadow too?
Wasn't there always a source

behind a source? He just stood there,
confused, a man who had moved
to larger errors, without a prayer.

by Stephen Dunn

Juni 6, 2008

Maybe i need this Nims

Diarsipkan di bawah: dear diary — bonekarusia @ 6:01 pm

Ada saat-saat kita melirik bagian pojok kiri bawah monitor setiap beberapa menit, memastikan waktu sudah berlanjut cepat dan sebentar lagi bisa pulang.

Saya begitu kemarin, di tempat kerja, yg mana boss saya masih aja menginstruksikan ini itu, baca ini baca itu, tulis ini tulis itu, sementara jiwa saya sudah naik metromini pulang.

Banyak masalah bertubi-tubi akhir-akhir ini. Antara sanggup dan enggak menghadapinya. Tapi saya selalu ingat kata Sting, gentlemen will walk but never run (hm, apa mungkin karena gentlemennya gampang cape kalo lari?). Jadi saya tabah aja. Que sera sera… what will be will be…

Sampe tau-tau ada telfon dari Kayu Manis, my little friend, yang ngajak ketemuan. Wah! Sbenernya saya pengen pulang aja, cape banget. Tapi kemudian anak itu mengatakan jurus mautnya, “Ditraktir deh nonton Indiana Jones.”

Siapalah yang bisa menolak permintaan hati semacam itu.

Jadi saya berangkat menuju Atrium Senen, where we decided to meet. Bahkan kami nggak janjian di mana, tapi ketemu begitu saja di jembatan penyebrangan yang lebarnya tanggung itu. Dan kemudian dua perempuan ini jalan terus di seputaran mal yang ramai, tanpa banyak chit chat, straight to 21.

Entah mengapa gembira ria hati ini. Maybe i need this. Setelah seminggu ini tertekan sangat dengan segala macem bencana.

Bahkan masih gembira ketika ternyata Indiana Jones belum diputer di situ.

Jadilah kami nonton Nim’s Island.

Yeah, film yang cukup menyenangkan. Walopun sebenernya ceritanya nggak yang Wah-Ide-Baru, tapi lumayanlah, kami banyak tertawa dan sedikit menangis nontonnya. Relieving.

No man is an island? yeah right.

Itu bener-bener film yang didedikasikan untuk pecinta Robinson Crusoe, ilmuan, penulis, hutan, laut, dan imajinasi.

Dan saya pulang jam 8 malem, naik kopaja 20, muka cerah, nyanyi-nyanyi sepanjang jalan…

What a wonderful world… don’t u think?

Mei 21, 2008

Penulis yang Berperang dengan Nasib

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag:, — bonekarusia @ 12:29 pm

Suatu hari di pertengahan tahun 2007…

I will war, at least in words

And should my chance so happens, indeeds

With all who war… with thought.”

–Lord Byron (Don Juan)

Puisi tersebut mengobarkan semangat saya. Dunia sedang perang sekarang. Dan saya harus berjuang, meski hanya lewat kata-kata. Kita sedang perang, kata Al Gore. Melawan pemanasan global!

Maka dengan semangat angkatan Millenium, pagi itu saya bangkit, menegakkan tubuh, dan bergegas mandi. Saya meneguhkan niat, untuk pergi ke perpustakaan.

Oh, iya, perkenalkan, saya ini bukan lagi mahasiswa. Saya bukan juga pekerja kantoran. Bukan pula pengusaha. Saya adalah penulis. Menulis, adalah pekerjaan saya satu-satunya, selain menggelandang. Jadi saya bisa makan dan pergi kemana-mana hanya dengan mengandalkan honor hasil tulisan.

Saat ini saya ingin dan merasa harus menulis tentang pemanasan global. Tapi masalahnya, otak saya tidak menampung banyak data tentang topik yang satu ini. Memang sering saya dengar tentang pemanasan global. Dan bahwa kita semua harus peduli. Tapi apa ya yang dimaksud dengan pemanasan global? Apa yang panas? Mengapa bisa panas? Dan memangnya kenapa kalau panas?

Tempat pertama yang saya pikir perlu untuk didatangi adalah perpustakaan. Maka berangkatlah saya pagi itu ke perpustakaan mantan kampus saya. Di sana saya menyusuri jalan-jalan kenangan dan menyadari bahwa masa-masa kuliah adalah masa-masa indah. Masa-masa romantis. Masa-masa berharga.

Namun tak lama lamunan saya terputus sesampainya saya di depan gedung perpustakaan itu. Tepatnya di depan meja informasi. Rupanya perpustakaan ini tak lagi ramah. Saya harus membayar Rp. 7000 untuk masuk ke dalamnya.

Dengan sedikit tidak rela saya pun membayar. Bagaimanapun, informasi itu mahal, kawan, terngianglah ucapan seorang dosen saya dahulu.

Maka hari itu saya mengubek-ubek buku demi buku, ensiklopedi demi ensiklopedi, hingga menghasilkan lembar demi lembar referensi tentang pemanasan global. Saya fotokopi semuanya hingga harus merogoh kocek sebanyak hampir Rp. 20.000.

Tapi perpustakaan itu rupanya tidak menyediakan informasi termutakhir. Paling baru adalah sekitar 3-4 tahun yang lalu.

Maka keesokan harinya saya pun memutuskan untuk berselancar di internet. Mencari artikel-artikel koran terakhir tentang pemanasan global, mencari penelitian-penelitian terbaru, dan mengintip blog-blog orang atau LSM yang peduli akan isu lingkungan ini. Yah, memang ada banyak sekali, hingga membutuhkan waktu seharian untuk mendapatkan semua informasinya.

Di hari berikutnya adalah waktunya membaca. Saya menghabiskan 1-2 hari untuk membaca literatur yang saya kopi di perpustakaan. Dan satu hari lagi saya habiskan di rental komputer (karena saya tidak punya fasilitas komputer di rumah) untuk membaca literatur dari internet. Baru kemudian di hari berikutnya saya gunakan untuk mulai menulis.

Tapi tulisannya tak mampu rampung dalam satu hari, hingga saya perlu meneruskan lagi besoknya. Lalu saya diamkan tulisan tersebut selama sekitar tiga hari sementara saya menyibukkan diri dengan hal lain. Barulah kemudian saya baca lagi itu tulisan dan menyuntingnya supaya cantik dan enak dibaca. Maka kelar sudah.

Kalau dihitung-hitung, uang yang saya habiskan adalah sekitar Rp. 70.ooo untuk biaya rental komputer, ongkos, dan makan. Jika dijumlah keseluruhan, total biaya yang saya keluarkan dalam rangka menulis tentang pemanasan global ini adalah Rp. 100.000. Dan waktu yang saya habiskan untuk mengerjakannya adalah sekitar sepuluh hari. Voila! Jadilah empat lembar halaman tulisan tentang pemanasan global karya saya. Saya puas. Saya senang.

Maka saya kirimkanlah tulisan tersebut ke koran lokal, yang kita sebut saja koran Lokal Post. Tak lebih dari seminggu, ketika saya cek di situs web, rupanya tulisan tersebut dimuat oleh Lokal Post. Wah, tak terkira gembiranya saya. Puas karena karya saya diakui dan diterima, dan senang karena tentu akan dapat honor yang akan mengganti modal yang saya keluarkan.

Tunggu punya tunggu, rekening saya masih saja kosong. Minggu demi minggu berlalu hingga teman-teman saya bosan minta traktiran. Sampai akhirnya lima minggu kemudian, tiba-tiba terisilah rekening saya tersebut. Dengan uang berjumlah Rp. 60.000.

Yah, saya bersyukur dengan dimuatnya tulisan saya oleh Lokal Post, karena, pertama, saya dapat menyebarkan informasi yang berguna bagi pembaca, dan kedua, saya mendapat semacam pengakuan sebagai penulis. Soal uang, tak apa-apalah. Saya meyakinkan saja diri saya bahwa mungkin saya akan lebih beruntung lain kali. Tapi, demi memikirkan akan makan apa besok dan dari mana mencari modal untuk menulis lagi berikutnya, tak urung saya menggerutu juga. Jadi beginilah nasib penulis di masa perang. Nasib ya nasib…

April 23, 2008

So Young, No Worries

Diarsipkan di bawah: dear diary — Tag:, — bonekarusia @ 8:25 pm

Film In the Land of Women, mencerahkan saya sedikit.

Setelah melewati umur 26, rasanya memang mulai khawatir. Ow ow. Umur nambah lagi. Ow ow. Saya makin tua. Ow ow. Saya belum kemana-mana, tetap di sini-sini saja. Ow ow. Saya belum menghasilkan apa-apa. Ow ow. Saya belum jadi siapa-siapa. Ow ow. Saya orang gagal, nggak sukses-sukses. Ow ow.

“What’s going on?” jerit 4 Non Blondes.

“Maybe it’s a quarter-life-crisis,” reka Jamie Cullum.

“Itu namanya sindrom twenty-something,” kata sahabat saya sok tau. Karena dia juga ada di range usia ini. Jadi status kami sama: cuma bisa menduga-duga.

Tapi kemudian, seperti yang saya bilang di atas, film In the Land of Women mencerahkan saya sedikit. Tokoh laki-lakinya, -saya lupa nama aktornya maupun perannya di film, tapi Anda tidak akan bingung karena cuma ada satu tokoh laki-laki di film itu– ketika itu sedang mengeluh kepada neneknya tentang hidupnya yang sudah 26 tahun ini dan bahwa dia belum juga rasanya menghasilkan sesuatu yang bagus.

Neneknya yang eksentrik itu malah ngomel-ngomel. Dia bilang, “Kau tau, umurku ini sudah 130 tahun!” yup, itu hiperbola. “Dan kalau aku lihat ke belakang, aku juga nggak menemukan hal-hal bagus dalam hidupku. I’ll be dead soon, and you’ll still be alive. So, stop complaining!”

Gitu katanya. Jangan mengeluh karena hidup kita masih panjang. Iya sih. Belum juga 100 tahun.

“Coz we were so young now, we were so young, so young now,” kata The Corrs.

April 12, 2008

When the Going Gets Tough

Diarsipkan di bawah: dear diary — bonekarusia @ 1:55 pm

When the going gets tough… the tough gets going…

When the going gets rough, the tough gets rough…

Hari ini pisah sama si boss. Orang baik itu. Dia dimutasi entah kemana. Saya sudah menjadi amat tergantung sama dia selama ini, dan rasanya seperti dilepasin dari jaket tebal di udara malam yang dingin. Dingin. Serbuan dingin.

Sama siapa lagi saya harus mengadu? huhu. Yah, nggak sesedih mendengar lagu Gugur Bunga sih… tapi liriknya tepat, betapa hatiku takkan sedih… hamba ditinggal sendiri:-(

Blog pada WordPress.com.