Revitalisasi Kereta Api – Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways

Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways
Disambung Terowongan KA Selat Sunda dan Selat Bali

Syaykh Panji Gumilang yang pernah menyampaikan gagasan pembangunan kanal Tirta Sangga Jaya (TSJ) atau Kanal Penyangga Jakarta Raya, untuk mengurai dan menyelesaikan masalah Ibukota Negara secara holistik, kali ini menetaskan gagasan pembangunan terowongan kereta api bawah laut Selat Sunda dan Selat Bali untuk menghubungkan Lintas Kereta Api Sumatera-Jawa-Bali atau Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways, disingkat TSJB Railways.

Dengan tetap mengapresiasi rencana pembangunan jembatan Selat Sunda yang akan menghubungkan antara pulau Jawa dan Sumatera sepanjang 29 s/d 31 km, serta jalan tol trans Sumatera dan Jawa, Syaykh memandang pemerintah perlu lebih memprioritaskan pembenahan infrastruktur transportasi massa, khususnya kereta api.

Panji Gumilang memaparkan bahwa pada masa penjajahan Belanda, sampai 1939, panjang jalan KA di Indonesia telah mencapai 6.811 km. Tetapi, ironisnya saat ini, setelah 66 tahun Indonesia merdeka, jaringan jalan rel yang beroperasi malah merosot hanya 4.360 km.

Dengan tidak perlu saling menyalahkan, apalagi menuding kebohongan, tentang kenapa hal ini terjadi, Syaykh Panji Gumilang mengajak seluruh lapisan masyarakat bergerak aktif membangun diri sendiri, membangkitkan karakter membangun dan sekaligus membangun bangsa dan negara RI tercinta. “Mari bersama-sama menggiatkan gerakan masyarakat Indonesia membangun,” serunya dalam percakapan dengan Berita Indonesia (Kamis, 20/1/2011).

Dia menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat bersatu-padu dengan pemerintah untuk membangun negeri. Persatuan, menurutnya merupakan syarat utama untuk membangun bangsa ini. Salah satu prasarana untuk mendukung makin tingginya rasa persatuan itu adalah dengan membangun akses komunikasi dan transportasi antarpulau di seluruh Nusantara.

Salah satu yang harus menjadi prioritas tinggi, menurutnya, adalah pembangunan terowongan kereta api bawah laut Selat Sunda dan Selat Bali untuk menghubungkan Lintas Kereta Api Sumatera-Jawa-Bali. Selain mengoptimalkan, menghidupkan kembali dan membangun lintas kereta api baru di seluruh pulau besar dan sedang di Nusantara, juga perlu menghubungkan antarpulau. Prioritas pertama, menurutnya, terowongan lintas KA bawah laut Selat Sunda, sepanjang kl 31 km dari Mauk, Banten (Pulau Jawa) atau Merak sampai ke Ketapang, Lampung (Pulau Sumatera) serta terowongan KA bawah laut Selat Bali sepanjang kurang lebih 2 km dari Ketapang, Banyuwangi sampai Cilimanuk, Bali.

Syaykh Panji Gumilang memberi contoh Terowongan Seikan di Jepang. Terowongan jalur rel kereta api sepanjang 53,85 km di Jepang, dimana 23,3 kilometer berada sekitar 140 meter di dasar laut atau dengan kedalaman 240 meter (790 kaki) di bawah permukaan laut. Terowongan Seikan ini berada di bawah Selat Tsugaru yang menghubungkan provinsi Aomori di pulau Honshu dan pulau Hokkaido dan merupakan bagian dari Kaikyo Line of Hokkaido Railway Company.

Demikian pula pembangunan terowongan lintas KA Selat Sunda dan Selat Bali. Terowongan KA Selat Sunda akan terintegrasi dengan Tirta Sangga Jaya (TSJ) – kanal air penyangga Jakarta Raya, yang multi fungsi, dan terintegrasi pula dengan pengembangan Ibukota Jakarta Raya. Kanal Tirta Sangga Jaya itu berbentuk huruf U membentang sepanjang 240 km (60 + 60 + 60 + 60 km) dan lebar 100 meter dengan titik sentral di kawasan Cibinong, mengalir ke Barat, sampai di Cikupa dan Mauk (Tanjung Kait), serta ke timur sampai Tanjung Jaya, Karawang. Semua kawasan yang dihubungkan oleh kanal TSJ yang berbentuk huruf U itu diintegasikan menjadi Ibukota Raya (Jakarta Raya).

Pada sisi kiri-kanan kanal TSJ itu dibangun jalan tol dan rel lintas kereta api. Lintasan kereta api tersebut terus berlanjut masuk terowongan bawah laut Selat Sunda dari Mauk, Tanjung Kait, Banten sampai ke Ketapang, Lampung. Kemudian dari Ketapang terus memanjang sampai Banda Aceh. Demikian pula, dari Mauk Banten terus memanjang hingga Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, lalu masuk terowongan bawah laut Selat Sunda sampai Cilimanuk, Bali. Kemudian dari Cilimanuk dilanjutkan sampai Denpasar.

Gagasan Syaykh al-Zaytun ini sekaligus mendukung rencana pemerintah membangun jalur ganda Kereta Api Trans Sumatera (Trans Sumatera Railway) dan pembangunan jalur ganda Lintas Utara dan Selatan Jawa. Menurut Menteri Perhubungan Freddy Numberi pembangunan jalur kereta api Trans Sumatera akan dilakukan dengan sistem dua arah (double track) dan disandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan maka percepatan pembangunan di Sumatera akan semakin berkembang pesat.

Total panjang rel Trans Sumatera Railway mencapai 2.747 kilometer. Saat ini, railways yang masih existing hanya 596 kilometer, yakni Besitang- Rantau Prapat (Sumatera Utara) sepanjang 196 km dan Palembang-Lampung sepanjang 400 km. Selebihnya yang akan dibangun sepanjang 2.151 km meliputi Banda Aceh-Besitang sepanjang 484 kilometer, Rantau Parapat-Duri-Dumai (246 km), Duri-Pekanbaru-Teluk Kuantan-Muaro (397 km), Teluk Kuantan-Muara Bungo-Jambi (370 km), Jambi-Bengkulu-Palembang-Tanjung Api-api (340 km), Kilometer Tiga-Bakauhuni (70 km) dan Tebing Tinggi-Bengkulu sepanjang 244 kilometer. Dengan perkiraan dana mencapai US$ 7,092 miliar.

Pemerintah merencanakan pembangunan railways dari Palembang, Jambi, Muaro, Pekan Baru, Duri hingga Rantau Prapat sepanjang 1.353 km dengan alokasi dana sebesar Rp57,3 triliun yang akan dimulai tahun 2012. Kemudian dilanjutkan rel lintas Besitang-Banda Aceh sepanjang 484 kilometer dengan alokasi dana sebesar Rp.5 triliun yang diperkirakan selesai pada 2019.

Demikian pula pembangunan (peningkatan) Jalur Ganda Lintas Utara dan Selatan Jawa akan terus dilanjutkan, terutama mulai tahun 2012. Dirjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan, Tundjung Inderawan mengatakan dibutuhkan biaya Rp.9 triliun untuk menuntaskan pembangunan jalur ganda (double track) rel kereta api lintas utara dari Jakarta hingga Surabaya. Dana itu sudah termasuk untuk revitalisasi jalur-jalur kereta, penggantian bantalan rel, perbaikan lengkungan rel, dan lainnya.

Saat ini jalur kereta api yang sudah berjalur ganda adalah Jakarta-Cirebon, Yogyakarta-Solo, sebagian jalur ganda Tegal-Pekalongan, dan Purwokerto-Prupuk. Menurut Tunjung, saat ini jalur kereta api yang harus dibangun rel ganda sepanjang 400 kilometer.

Ada tiga segmen jalur ganda dari Cirebon hingga Kroya. Segmen pertama Cirebon (Jawa Barat)-Prupuk (Jawa Tengah) sepanjang 74 kilometer. Segmen kedua Prupuk- Purwokerto sepanjang 56 kilometer dan segmen ketiga Purwokerto-Kroya (Jawa Tengah) sepanjang 27 kilometer. Dari ketiga segmen tersebut, baru segmen kedua yakni jalur Purwokerto-Patuguran sepanjang 34 kilometer yang selesai pembangunannya, dan akan dilanjutkan ke Patuguran-Prupuk sepanjang 37 km, diharapkan Agustus 2011 selesai.

Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Inderawan mengatakan, ketiga segmen ini mendapat pembiayaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Untuk pembangunan jalur ganda di rute-rute lain akan menggunakan dana APBN di antaranya rute Solo-Madiun. Diperkirakan panjang rel kereta api dari Merak (Banten) hingga Ketapang, Banyuwangi (Jawa Timur) sepanjang 1.316 km yang menyusuri sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Demikian juga jalur pantai Selatan.

Menurut Syaykh Panji Gumilang, pembangunan infrastruktur kereta api di tiga pulau ini (Sumatera-Jawa-Bali) sebaiknya dilakukan terintegrasi menjadi Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways (TSJB Railways). Dengan menambahkan perencanaan pembangunan Terowongan KA Selat Sunda sepanjang 31 km dan Terowongan KA Selat Bali dari Ketapang, Banyuwangi ke Cilimanuk, Bali hanya sepanjang 2 km kemudian menyambungnya sampai Denpasar sepanjang 125 km.

Dengan demikian ketiga pulau ini akan terintegrasi dengan sarana transportasi massa, baik penumpang maupun barang. Hal ini, kata Syaykh, pasti dapat mengurangi beban jalan lintas Sumatera, Pantura dan Pansel Jawa dan akan mempermudah arus penumpang dan barang. Sebab kereta api dapat menampung penumpang yang lebih banyak (massal) juga barang yang lebih banyak. Dengan demikian perekonomian rakyat akan dengan sendirinya bertumbuh lebih pesat. Menurut, Syaykh Panji Gumilang, masalah tertahannya truk sampai berhari-hari di pelabuhan-pelabuhan penyeberangan (Merak, Bakauheni atau Ketapang Banyuwangi dan Cilimanuk) tidak akan terjadi lagi. “Lalu-lintas orang dan barang akan semakin lancar dan perekonomian akan tumbuh pesat dengan sendirinya,” kata Syaykh.

Pendapat senada dikemukakan Soemino. Meningkatnya peran kereta api di dalam angkutan barang akan mengurangi beban jalan raya. Tarif angkutan barang dengan KA bisa lebih murah dan keamanannya lebih terjamin. Namun, keluhnya, karena saat ini armada lokomotif dan gerbong, maupun lintasan (rel) masih terbatas. Sehingga perlu percepatan pembangunan infrastruktur perkeretaapian dan sekaligus mengembangkan keterpaduan transportasi.

Saat ini, kata Soemino, angkutan barang di Jawa meliputi lintas Jakarta-Surabaya sepanjang 725 Km (parsel, barang bernilai tinggi). Cilegon-Jakarta-Surabaya 842 Km (baja), Gede Bage-Tanjung Priok, 191,30 Km, (container), Cibungur-Tanjung Priok 99,75 Km, (container), Cikarang-Tanjung Priok, 51,40 Km, (JABABEKA Container), Pasuruan/Bangil-Tanjung Perak, 63 Km, (container), Cigading-Bekasi, 144 Km (batubara).

Selain membangun Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways (TSJB Railways), pemerintah juga harus mengintegrasikannya dengan pengembangan kereta api perkotaan, terutama di beberapa kota besar, seperti Jakarta Raya, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Medan dan Palembang.

Sedangkan, perihal dana pembangunannya, menurut Syaykh Panji Gumilang tidak harus seluruhnya dari APBN dan tidak perlu berutang ke luar negeri. “Pembiayaan bisa dengan obligasi dan bekerjasama dengan pihak swasta,” kata Syaykh Panji Gumilang. Syaykh berpandangan, pemerintah harus lebih mendorong peran serta masyarakat dan perusahaan swasta.

Syaykh al-Zaytun yang dalam banyak kesempatan selalu naik kereta api dari Cirebon ke beberapa tempat, melihat fasilitas gerbong KA juga harus lebih ditingkatkan. Sebagai contoh, tempat duduk kereta argo saat ini selayaknya itu untuk fasilitas gerbong ekonomi.

Hal senada dikemukakan Soemino, pemerintah sebagai fasilitator dan regulator menurutnya supaya lebih melibatkan peran swasta pada koridor-koridor yang profitable dan belum mampu ditangani oleh pemerintah dan BUMN.BI/CRS-SH-RI (Berita Indonesia 82)

Sumber: Majalah Berita Indonesia

Links: Bila Tak Ada Banjir di Jakarta

About these ads

One thought on “Revitalisasi Kereta Api – Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways

  1. I needed to present this unique article, “Revitalisasi Kereta Api – Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways | Boneka Ketujuh” together
    with my good friends on fb. I personallyjust sought to disperse ur
    excellent writing! Thx, Tammi

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s