Lima Buku yang Mengubah Saya di Tahun 2011

Anda pernah punya tahun-tahun sulit?

Kalau saya, tahun-tahun sulitnya adalah sekitar 2007-2010. Tapi di awal tahun 2011, datanglah angin perubahan. Dan buku-buku, satu per satu, mulai dikirim Tuhan untuk mengubah saya.

(Big thanks to my best girl, Mimi, for lending me these incredible books)

Inilah buku-bukunya.

1. Life of Pi, karya Yann Martel


A survival lesson…

Kalau Anda sedang dalam situasi super parah, yang terpuruk seterpuruk-puruknya di dunia, yang kayaknya udah nggak ada jalan lagi, dan nggak yakin sama sekali akan pernah bisa bangkit, maka bacalah buku ini.

Tokoh Pi, di buku yang mendapat Man Booker Prize (2001) ini, menunjukkan bagaimana dia bisa survive hidup di perahu yang terombang-ambing di Samudera Pasifik selama tujuh bulan lamanya.

Yang parahnya, dia nggak sendirian di perahu kecil itu. Nggak tanggung-tanggung, dia berduaan bersama seekor besar harimau bengal! –Tadinya ada beberapa hewan lain di perahu, tapi semuanya sudah habis dimakan sama harimau itu. Jadi tinggal si Pi.–

Kebayang nggak, sementara si Pi yang baru berumur 17 tahun ini melakukan segala cara yang mungkin untuk survive biar nggak mati kelaparan / kehausan, dia juga harus melakukan segala cara yang pintar dan berani supaya nggak diterkam si harimau.

Situasi itu rasanya jauh lebih buruk dari situasi saya. Jadi saya pikir, masa sih saya nggak bisa survive?! Di daratan… Banyak makanan dan minuman… Tanpa harimau…

Banyak detil-detil di buku ini yang memberitahu saya bahwa sebenarnya manusia nggak butuh apa-apa di dunia ini, selain dua hal: makanan dan semangat hidup. Jadi jangan stress dengan kebutuhan-kebutuhan lain selain yang dua itu.

So at this point, my life was go on, get better and better.

2. Harus Bisa!: Seni Memimpin a la SBY, tulisan Dino Patti Djalal

The art of writing…

Saya mungkin tidak akan terinspirasi oleh Pak SBY kalau buku ini bukan ditulis oleh Dino Patti Djalal.

Pak Dino mengajarkan bagaimana menemukan detil-detil dari kehidupan seseorang yang bisa jadi inspirasi untuk pembaca. Dan ketika detil-detil seorang presiden cukup banyak terjadi dalam sehari, Pak Dino mengajarkan bagaimana memilih angle yang tepat.

Dan buku ini menyadarkan saya bahwa orang menulis, sebenarnya tidak pernah hanya untuk dirinya sendiri. Dia menulis untuk pembaca. Jadi penulis seharusnya mempelajari seni untuk menggerakkan orang lain, atau paling tidak menyentuh hatinya, melalui tulisan.

So, after this one, my whole writing character, were changed.

(Saya juga membahas tentang buku ini di sini.)

3. Queen of Heart, tulisan Alexandra Dewi

How to be a woman…

(Sebelumnya, buat para pria, boleh skip aja bagian ini. ;) )

Ok, ladies, mungkin ini memang bukan buku paling filosofis yang pernah Anda baca. Tapi kalau Anda perempuan, yang nggak tau caranya hidup bahagia sebagai perempuan, maka Anda nggak butuh hal-hal filosofis lain di dunia sebelum belajar jadi perempuan dari buku ini.
(Bingung ya? jadi perempuan memang harus membingungkan :D )

Buku ini seperti nasihat sahabat paling tulus atau kakak paling baik. Buku ini menampar saya, mengomeli, dan mengajari saya berdiri tegak dan mengangkat dagu.

Satu suara yang bergaung terus di diri saya yang berasal dari buku ini adalah: I deserve the very best things, or men, a woman can get.

4. The Google Story, karya David A. Vise dan Mark Malseed


The will to change the world…

(Saya sudah banyak membahas tentang banjir inspirasi dari buku ini di sini dan di sini, jadi saya nggak akan berpanjang-panjang lagi sekarang.)

Inti yang mengubah saya, adalah kesadaran bahwa: setiap manusia, punya kapasitas untuk melakukan hal-hal terhebat di dunia. Hal-hal besar yang akan tercatat dalam buku sejarah. Jadi sekarang pilih peran masing-masing, dan lakukan.

5. The Godfather, karya Mario Puzo

That’s what family and friends are for…

Yup, saya baru baca sekarang, 42 tahun dari sejak buku ini diterbitkan. Itulah. Tuhan selalu mengirim buku yang tepat, kepada orang yang tepat, di saat yang tepat.

Memang kedengarannya aneh, saya yang berasal dari keluarga baik-baik ini, ternyata baru bisa belajar memahami seberapa besar arti keluarga dan teman-teman, dari geng mafia Italia yang tinggal di New York. Saya nyaris iri dengan konsep kekeluargaan dan pertemanan mereka.

Dan saya juga jadi mengerti bahwa tak ada sikap yang lebih bisa mendatangkan rasa hormat orang kepada kita, selain kesetiaan. Terutama kepada keluarga dan teman-teman.

Oh, ada perkataan Don Corleone (gembongnya mafia yang jadi tokoh utama Godfather), yang paling saya suka,

“Teman harus selalu menganggap kebaikanmu lebih sedikit daripada yang sebenarnya. Dan lawan harus selalu menganggap kesalahanmu lebih buruk dari yang sebenarnya.

~~ o 0 o ~~

Itulah buku-bukunya tahun kemarin. Saya sedang terbuka dengan ‘kiriman’ buku-buku lagi tahun ini. Bagaimana dengan ‘buku-buku yang dikirim’ untuk Anda? :)

Links:
Life of Pi
The Can Do Leadership Inspiring Stories From SBY Presidency
Queen of Heart
The Google Story
The Godfather

Antara Donald Trump dan Jeff Bezos

Kebetulan saya membaca buku tentang mereka di saat yang bersamaan. Jadi langsung bisa ngebandingin.

Mungkin nggak tepat kalau dibilang jahat, Donald Trump ini. Saya kenal beberapa orang yang ambisius-mau-menang-sendiri–coz-bisnis-is-bisnis-so-screw-people gitu. Dan mereka biasanya baik banget sama temen-temennya. Mereka cuma melenyapkan perasaan sesama manusia kalo udah soal bisnis.

Jadi Donald Trump nggak jahat. Dia cuma bertekad mendidik orang bodoh jadi pintar, dan orang lemah jadi kuat. Itu hal yang ‘baik’ kan?

Dari awal Trump cerita tentang perjuangannya sendiri, ambisi-ambisinya pribadi, dan kesenangan-kesenangannya dalam membuat transaksi yang bagus. Meskipun itu merugikan orang lain. Baginya, nggak apa-apalah. Karena salah sendiri ‘orang lain’ yang malang itu terlalu bodoh dan lemah. Dia harus mengambil pelajaran dari sini.

Kata Trump,

“Saya tidak melakukannya demi uang. Saya sudah cukup memilikinya, lebih dari yang saya butuhkan. Saya melakukannya untuk melakukannya. Transaksi adalah bentuk seni saya. Orang lain melukis dengan indah di atas kanvas atau menulis puisi yang indah. Saya senang membuat transaksi, khususnya transaksi besar. Itulah yang membuat saya berbahagia.”

Dan dengan bahagia, Trump ‘merebut’ gedung demi gedung dari orang-orang yang sudah tak berdaya dan butuh uang. Dan dari transaksi gedung baru tersebut, Trump Sang Seniman akan untung besar, dan teman bisnisnya akan rugi besar. Tapi belajar banyak.

Sedangkan Jeff Bezos, dia cerita tentang orang-orang lain. Tentang masyarakat penggunanya. Tentang ‘pasar’-nya. Begini katanya,

“…kami bukan toko buku, tapi kami adalah layanan buku.”

“Visi kami, adalah perusahaan dunia yang sangat berpusat pada pelanggan. Tempat orang untuk menemukan dan mengetahui segala sesuatu yang mungkin ingin mereka beli secara online.”

Bezos terus menerus memikirkan pengembangan bisnisnya dari sudut pandang pelanggan. Dia membesarkan Amazon karena yakin orang-orang butuh hal yang lebih besar. Setelah buku, dia tambahin dengan jual elektronik, pakaian, musik, film, peralatan memasak, dll. Karena dia yakin orang akan senang menemukan segala sesuatu di satu tempat.

Waktu baru mulai menjual mainan anak-anak, halaman Amazon ditulisi begini:

Telah dibuka Amazon.com Toys.
Untunglah, kebutuhan pelanggan Slinky terpenuhi.

Kalau Trump berambisi membuat gedung tertinggi di dunia, –meskipun untuk itu dia merasa perlu mengusir para pedagang kaki lima di depan gedung mewahnya nanti–, Bezos berambisi membuat toko dengan pelayanan terbaik di dunia. Yang berarti bahwa orang paling miskin di Amerika pun bisa beli buku bagus seharga 0,sekian Dolar, diantar ke rumahnya –atau rumah penampungan tunawismanya–.

Itu bedanya besar kan ya?

Tapi di luar perbedaan di atas, kedua orang sukses ini sedikitnya punya tiga kesamaan:

  • Sama-sama punya naluri bisnis yang kuat, sehingga kemudian jadi kaya raya.
  • Sama-sama mengejar yang terbaik di dunia, sehingga akhirnya tercapai juga.
  • Dan sama-sama tidak kepikiran untuk pernah berhenti. Ini pelajaran bagus buat saya.

Links:
Trump: The Art of the Deal
Jeff Bezos (Ferguson Career Biographies)

Belajar Bisnis dari Mark, Larry dan Sergey

Kalau pada saat membuka blog ini Anda juga membuka Facebook dan Google, maka Anda pasti tahu Mark, Larry dan Sergey mana yang saya maksud. ;)

Kita tahu bahwa ada kesamaan yang menonjol dari ketiga orang ini. Yaitu, telah menjadi penemu suatu teknologi yang besar pengaruhnya untuk dunia, lalu membangun perusahaan yang sukses luar biasa di usia 20-an, dan menjadi milyarder sebelum berusia 35 tahun (tahun 2011, kekayaan Mark $17,5 milyar; Larry dan Sergey masing-masing $16,7 milyar).

Ini menunjukkan bahwa tak sekadar jenius komputer, mereka juga adalah pebisnis handal.


Berikut ini adalah beberapa kesamaan penting yang bisa kita pelajari dari mereka:

1. Berpikir cepat, berbicara cepat, dan bertindak cepat.

Di film The Social Network (2010), kita bisa menyaksikan seberapa cepat Mark berpikir, berbicara dan bertindak. Meskipun film ini 60% fiktif, tapi karakter Mark Zuckerberg dalam hal ini cukup menggambarkan aslinya. Kita bisa lihat Mark asli pada saat diwawancara di acara TV. Dalam berbicara, ia tak suka buang waktu untuk spasi. Dan ia berlari kesetanan setiap kali mendapat ide untuk menciptakan sesuatu. Langsung akan dia kerjakan saat itu juga.

Begitu juga Larry dan Sergey. Mereka memenangkan begitu banyak kerjasama bisnis melawan pesaing-pesaingnya karena selalu berkomunikasi, memutuskan dan melakukannya dengan cepat. Perilaku ini tercermin juga dalam produk mereka, mesin pencari yang memberikan informasi yang kita butuhkan dalam satu kedipan mata. Seperti kemampuan jin jaman Nabi Sulaiman.

Dalam filosofi Google, 10 Things We Know To Be True, tertulis:

Cepat lebih baik daripada lambat.

Jeff Jarvis, jurnalis yang menulis buku What Would Google Do? mengatakan, “Setiap milidetik berharga. Kecepatan adalah sebuah keuntungan bagi pengguna. Kecepatan juga merupakan keuntungan kompetitif yang tidak akan dikorbankan Google tanpa alasan yang bagus. Kecepatan adalah sebuah ajaran dalam agama Google.”

2. Percepat kegagalan, lalu percepat perbaikan.

Sheryl Sandberg, saat menjadi eksekutif periklanan Google, pernah membuat kesalahan yang tidak dia jelaskan detil, tapi yang jelas telah menyebabkan perusahaan kehilangan jutaan dolar. “Keputusan yang buruk, bergerak terlalu cepat, tidak ada kendali di tempat, menghamburkan sejumlah uang,” akunya kepada majalah Fortune.

Dia lalu meminta maaf kepada bos Larry Page yang menanggapi,

“Saya sangat lega kamu melakukan kesalahan ini, karena aku ingin menjalankan sebuah perusahaan di mana kita bergerak terlalu cepat dan melakukan terlalu banyak, dan bukannya terlalu berhati-hati dan berbuat terlalu sedikit.”

CEO Google Eric Schmidt mengatakan kepada The Economist bahwa dia mendesak para pegawai, “Tolong gagallah dengan cepat, agar kamu bisa mencoba lagi.” Itu sebabnya Google selalu meluncurkan program-program versi Beta yang ‘akan melakukan kesalahan dan siap memperbaiki’.

Facebook pun sama, cenderung melakukan kesalahan pada fitur-fitur baru, tapi lalu merespon kritik dari konsumen dengan cepat.

3. Fokus pada pengguna, bukan pada uang.

Facebook is cool. Ads, not cool.

Begitu kata tokoh Sean Parker (Justin Timberlake), pendiri Napster, saat memberi nasehat untuk Mark Zuckerberg agar tidak buru-buru memenuhi Facebook dengan iklan (dalam film The Social Network (2010)). Dan terbukti ketika Facebook bersabar dan terus tekun ‘menjamu’ pengguna, jumlah yang mendaftar menjadi berkali lipat (saat ini sudah lebih dari 750 juta pengguna aktif), meluas ke lima benua, hingga otomatis nilai perusahaan pun makin tinggi. Kini kita dapat melihat bahwa iklan-iklan muncul dengan elegan di Facebook, perusahaan untung besar dan pengguna tetap puas.

Sedangkan Google, sejak awal pembuatannya telah berikrar tidak akan pernah memasang iklan di halaman depannya yang polos itu, karena pengguna tidak akan suka. Pada awal-awal peluncurannya, ada pengguna setia Google yang setiap hari mengirim email ke Google yang isinya cuma angka. Misalnya: 34. Besoknya dia mengirim email lagi yang isinya: 36. Setelah diteliti, rupanya orang ini menghitung jumlah kata yang muncul di halaman awal Google. Ini indikasi bahwa pengguna tidak suka dengan halaman yang terlalu penuh kata-kata, apalagi banner kerlap-kerlip yang mengganggu mata dan menyebabkan loading lama.

Larry dan Sergey mempertahankan kondisi tanpa iklan selama beberapa tahun awal hingga membuat investornya ketar-ketir karena perusahaan ini belum juga menghasilkan uang. Mereka keukeuh dengan pendirian tidak mau merusak kenyamanan pelanggan Google. Sampai akhirnya kemudian Google menetapkan suatu kebijakan pemasangan iklan, yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, dan tidak mengganggu hasil pencarian, dan bahkan bisnis iklan ini, Google Adsense, bisa menciptakan perekonomian populis di internet yang memuaskan semua pihak.

4. Gratis adalah pola bisnis yang baru.

Thanks to Google, sekarang informasi tidak lagi mahal. Bahkan surat kabar terkenal di seluruh dunia menayangkan artikel harian mereka secara gratis, setiap hari. Google bisa dibilang pelopor dari budaya gratis di internet. Beberapa tahun lalu ketika saya deg-degan karena konon email Yahoo akan dikenakan biaya, tiba-tiba pahlawan Gmail muncul dan menawarkan email gratis dengan tempat penyimpanan yang besar pula –belakangan Yahoo pun ikut-ikutan. Google juga membeli Blogger dan berhenti membebankan biaya untuk layanan ini.

Sebelum membuat Facebook, Mark pernah membuat Synapse Media Player, plugin untuk mengetahui kebiasaan pengguna dalam mendengarkan musik, yang mendapat rating 3 bintang di PC Magazine dan ditawar oleh Microsoft dan AOL. Tapi tidak dijual, kata Mark. Dia membagikan gratis saja di internet. Seperti halnya Facebook sekarang yang di halaman awalnya ditulisi:

It’s free and always will be.

Prinsipnya, gratis akan mendatangkan konsumen dan akan menjaga hubungan baik dengan mereka. Dan hubungan baik dengan masyarakat luas akan mendatangkan rezeki. Dari berbagai pintu.

~~ o 0 o ~~

Ngomong-ngomong, gambar kartu nama di atas itu hanyalah salah satu bagian fiktifnya dari film The Social Network (2010). Jadi nggak harus dicontoh ya! ;)

Referensi:

Jeff Jarvis. What Would Google Do?. Jakarta: Ufuk Press, 2010.

Kisah Larry dan Sergey (1): Pendiri Google yang Tak Bisa Duduk Diam

Kisah Larry dan Sergey (2): Senangnya Manjadi Googlers